
Lembaran hari perlahan berganti. Membuka halaman kosong baru yang akan segera terisi dengan tinta-tinta kehidupan.
Seperti petang ini, Agam sedang duduk termenung sambil menatap jutaan bintang yang bertaburan di angkasa sambil sesekali menyesap kopi hitam yang tersaji di meja kecil yang berada di dekatnya.
''Hah...'' Agam menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Ia memikirkan tentang semua yang telah terjadi beberapa waktu belakangan ini. Mencoba menggali lagi kebenaran yang masih menjadi misteri. Ingatannya tiba-tiba saja tertuju pada Frisca, sahabat kecilnya dulu. Masa kecil Agam seringkali dihabiskan dengan bermain bersama Frisca. Frisca kecil yang selalu menemaninya ketika papa Hermawan sedang bekerja atau harus lembur di kantor. Sejak bayi, Agam sudah tidak mempunyai ibu. Ibunya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya dua minggu setelah ia hadir di dunia. Maka, seringkali Frisca, yang merupakan tetangga rumahnya dan pengasuhnya yang menemani Agam ketika Pak Hermawan sedang bekerja. Dan kini, entah dimana keberadaannya. Bukan karena rindu, namun ada alasan lain di balik itu.
Ia hanya ingin mencari tahu. Entah alasan apa Frisca tidak ingin bertemu dengannya lima tahun lalu. Dan malah menghadirkan orang lain untuk menggantikan posisinya untuk bertemu dengannya.
''Kemana sebenarnya Frisca pergi?''
''Padahal aku hanya ingin bertemu dengannya karana ingin tahu keadaannya saja waktu itu.'' gumam Agam.
...----------------...
Suasana cafe milik Yuda makin hari makin ramai apa lagi jika malam Minggu tiba. Orang-orang dari golongan kawula muda yang lebih mendominasi kafe itu, meski tak jarang banyak sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi juga hadir dan menikmati suasana kafe itu.
Dan seperti malam-malam biasanya, tiba waktunya Ranum naik ke atas panggung untuk menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi.
''Sebelum kita lanjut lagi, ada yang mau request lagu?'' tanya Ranum dari atas podium.
''Ya!!'' seru orang-orang itu.
''Puisi dari Jikustik!'' seru salah satu pengunjung kafe.
Ranum sejenak berdiskusi dengan band pengiringnya.
''Baiklah, Puisi dari Jikustik spesial untuk kalian semua yang sudah hadir di sini.''
''Kita nyanyi sama-sama, ya!''
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Begitu tiba di bagian refrain lagu, bertepatan dengan Agam yang sedang berjalan masuk ke dalam kafe. Ia segera bergegas begitu mendengar suara merdu yang begitu ia kenali itu.
Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indah ku yang dulu pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk mu
Mungkinkah kau kan kembali lagi menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama puisi terindahku hanya untukmu...
__ADS_1
''Ranum, maafkan aku..'' ucap Agam dalam hatinya.
Setelah itu, Agam segera mencari keberadaan putranya.
''Hai anak papa!'' seru Agam begitu menemukan Elzein.
''Papa!'' jawab Elzein senang.
Begitu Agam tiba, Yuda yang saat itu sedang menemani Elzein pun pamit undur diri.
''Di sini saja, aku tidak akan lama.'' ucap Agam begitu melihat Yuda meninggalkan kursinya.
''Aku ada urusan sebentar, kalian nikmati saja waktu kalian. Aku permisi ke bekalang dulu.'' pamit Yuda.
''Hm.''
''Dadah papa Yuda...'' ucap Elzein.
''Papa kemana saja? Kenapa papa tidak pernah mencari El? Apa papa sudah melupakan El?'' ucap Elzein dengan memanyunkan bibirnya, cemberut.
''Maafkan papa ya, nak. Belakangan ini papa sedikit sibuk, banyak pekerjaan yang harus segera papa selesaikan di kantor.''
''Kenapa sih orang dewasa selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan anak kecil tidak boleh tahu!'' protes Elzein.
Agam begitu gemas mendengar apa yang Elzein katakan. Ia pun membelai lembut puncak kepala putranya itu.
''El, ada yang ingin papa tanyakan kepadamu.'' ucap Agam.
''Papa mau tanya apa?''
''Tentu saja! Kenapa sih kita harus tinggal berpisah-pisah. Seharusnya anak dan orang tua kan tinggal bersama-sama. Teman-teman El di sekolah juga mengatakan itu, setiap malam saat mereka akan tidur temen-temen El bilang kalau mereka selalu dipeluk dan dibacakan dongeng sama mama dan papa mereka.'' ucap Elzein dengan sendu.
''Kalau El ingin seperti teman-teman kamu di sekolah, El harus bantuin papa.'' kata Agam.
''Bantuin apa papa?'' tanya Elzein tak mengerti.
''Sini mendekat lah..''
Agam membisikan sesuatu di telinga putranya itu agar tidak ada orang lain yang mendengar apa yang ia katakan.
''Bagaimana? Apa kamu setuju?'' tanya Agam.
''Setuju!'' seru Elzein dengan semangat.
''Deal?'' ucap Agam dengan mengangkat tangannya untuk bersalaman.
''Deal!'' jawab Elzein dengan membalas salam itu.
''Ingat ya, ini adalah rahasia antara dua pria. Tidak boleh ada orang lain yang tahu.'' ucap Agam.
''Siap, bos!'' ucap Elzein dengan memberi hormat.
Kemudian, mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Agam menemani Elzein selama Ranum tidak berada di sisinya.
__ADS_1
''El, ingat ya ini adalah nomor telepon papa. Kamu harus menghafalkannya mulai sekarang.'' ucap Agam.
''Iya papa, El mengerti dan sudah hafal sekarang.'' ucap Elzein.
''Anak pintar!''
''Kalau begitu, papa harus segera pergi dulu sekarang.'' pamit Agam.
''Hm, hati-hati papa!'' seru Elzein sambil melambaikan tangannya pada Agam hingga Agam benar-benar menghilang dari pandangannya.
''El, kamu sedang melambaikan tangan pada siapa?'' tanya Ranum sambil melihat keadaan di sekitar.
''Tidak mama, El hanya mengucapkan salam perpisahan pada om dan tante yang tadi duduk di sebelah El. Mereka sangat baik.'' ucap Elzein.
''Oh.. begitu.''
''Ngomong-ngomong dimana papa Yuda?'' tanya Ranum.
''Papa Yuda sedang di kantornya, mama. Sepertinya papa Yuda sedang sedih.'' ucap Elzein.
''Sedih?'' tanya Ranum.
''Hm. Dari tadi papa Yuda nggak pernah senyum, padahal El sudah mencoba untuk menghiburnya.'' terang Elzein.
''El, apa boleh mama mencari papa Yuda? Mama akan mencoba untuk menghiburnya juga.''
''Hm, kalau begitu El akan bermain di taman belakang saja.'' ucap Elzein.
''Jangan pergi kemana-mana, ya nak. Nggak boleh nakal.''
''Oke, mama.''
''Dewi, titip El sebentar ya.'' ucap Ranum pada Dewi, salah satu orang kepercayaan Yuda.
''Siap, mbak!'' jawab Dewi.
Ranum pun segera mencari keberadaan sahabat baiknya itu ke dalam kantornya yang terletak di belakang kafe.
Tok.. tok..tok..
''Yuda?'' panggil Ranum.
Pintu ruangan pun terbuka.
''Sudah selesai?'' tanya Yuda begitu melihat Ranum.
''Sudah, bahkan sudah sepuluh lagu.'' ucap Ranum dengan terkekeh sambil mendudukkan tubuhnya pada sebuah sofa di kantor Yuda.
''Terima kasih.'' jawab Yuda dengan senyuman di wajahnya.
''Yuda?'' panggil Ranum.
''Ada apa?''
__ADS_1
''Em... apa sedang terjadi sesuatu?'' ucap Ranum dengan terus terang.
Yuda pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian, ia berjalan ke arah Ranum dan ikut mendudukkan tubuhnya pada sebuah sofa yang ada di ruang kerjanya.