
''Nak Ranum, sering-seringlah datang kemari dan ajak cucu opa datang ke sini.'' ucap Pak Hermawan saat Ranum dan Elzein hendak berpamitan.
''Baik, pa. Kami pasti akan sering datang ke sini mengunjungi papa.'' jawab Ranum.
''Dadah opa! El pulang dulu ya.'' pamit Elzein.
''Iya, jagoan.'' jawab Pak Hermawan.
''Aku nganterin El dan Ranum pulang dulu, ya pa.'' pamit Agam.
''Hm. Berhati-hati lah!'' ucap Pak Hermawan.
Setelah berpamitan, mereka bertiga pun berjalan menuju pintu depan untuk menuju mobil Agam. Namun, saat mereka bertiga akan keluar dari pintu utama tiba-tiba saja datang seorang perempuan muda yang lansung menghampiri Agam.
''Agam!'' seru perempuan itu yang langsung berlari memeluk Agam.
''Heh! Lepas! Siapa kamu!'' ucap Agam sambil berusaha melepaskan pelukan wanita yang tak ia kenali itu. Ia merasa risih dan takut membuat Ranum salah paham.
Begitu menyadari dan mengenali siapa perempuan itu, Ranum pun langsung terdiam membatu melihat peristiwa di hadapannya.
Deg!
Melihat ibunya yang diam dan nampak tidak baik-baik saja, El pun langsung memeluk Ranum dengan begitu posesif.
''Aku kangen banget sama kamu, tau!'' ucap perempuan muda itu tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
''Lepas!'' teriak Agam dengan cukup keras sambil mendorong tubuh perempuan itu dengan cukup kasar.
''Aw!'' rintih perempuan muda itu sambil memegangi lengannya yang terasa sakit karena di dorong oleh Agam.
''Kamu kok kasar banget sih!'' gerutu perempuan itu dengan manja.
''Siapa kamu?'' tanya Agam dengan dingin.
''Masa kamu lupa sih sama aku. Aku ini Frisca, sahabat kecil sekaligus calon istri kamu! Apa kamu sudah lupa denganku?'' ucap Frisca dengan penuh percaya diri.
''Frisca?'' beo Agam yang langsung menoleh ke arah Ranum.
''Loe kan?'' Frisca mencoba mengenali wajah perempuan yang berdiri di dekat Agam itu.
''Ngapain loe di sini!'' ucap Frisca begitu menyadari keberadaan Ranum di tempat itu.
''Kami permisi!'' ucap Ranum yang langsung membawa Elzein pergi dari tempat itu.
__ADS_1
''Ranum, tunggu!'' panggil Agam yang berusaha menghentikan Ranum namun tangannya ditahan oleh Frisca.
''Minggir atau aku tidak akan segan-segan menyingkirkan tangan ini!'' ucap Agam dengan penuh amarah.
Melihat ekspresi Agam yang begitu menakutkan, Frisca pun mulai melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Agam.
''Ah, sial!'' gerutu Frisca seorang diri.
''Kenapa perempuan bayaran itu bisa ada di sini! Arggh!'' kesal Frisca karena melihat Ranum kembali.
Begitu berhasil melepaskan diri dari Frisca, dengan cepat Agam segera menyusul Ranum dan juga putranya itu.
''Ranum!'' panggil Agam sambil berlari dan terus mengejar langkah Ranum.
''Ranum, aku bisa jelaskan semuanya!'' ucap Agam begitu berhasil menghentikan langkah Ranum.
Ranum masih diam dan seolah enggan menatap lelaki itu.
''Lepasin! Jangan sakitin mama!'' teriak Elzein dengan mendorong tubuh Agam.
''Sayang, dengerin papa nak. Papa harus jelasin sesuatu sama mama kamu. Beri papa kesempatan untuk berbicara dengan mama, ya nak?'' mohon Agam pada putranya.
''Kenapa papa tadi peluk-pelukan dengan tante itu? Papa jahat! Papa udah bikin mama sedih!'' kesal Elzein pada ayahnya.
''Maafkan papa sayang, tadi papa benar-benar kaget dan tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu.'' terang Agam.
''Aku mohon percayalah....'' ucap Agam lagi karena melihat Ranum yang hanya diam saja tanpa sepatah kata pun.
''Kamu boleh marah sama aku, aku terima. Tapi jangan diam terus seperti ini.'' ucap Agam dengan frustasi.
''Selesaikan dulu masa lalumu, baru kamu boleh temui kami.'' ucap Ranum dengan dingin dan langsung membawa Elzein untuk masuk ke dalam taksi.
''Ranum!'' teriak Agam dengan sangat keras karena Ranum telah berlalu meninggalkannya seorang diri.
''Argh! Kenapa bisa begini!'' ucap Agam dengan frustasi. Ia pun menjambak rambutnya sendiri karena merasa begitu kesal.
...----------------...
Dua hari telah berlalu, Ranum masih mendiamkan dan mengabaikan setiap panggilan atau pun pesan dari Agam.
Dan pada siang ini saat tiba waktunya untuk makan siang, Agam pun segera bergegas untuk menuju ruang kerja Ranum.
''Dimana Ranum?'' tanya Agam pada Maya yang masih berada di ruangan itu.
__ADS_1
''Lho, bukannya tadi Ranum pergi keluar sama bapak?'' ucap Maya.
''Tidak! Kemana dia pergi?'' tanya Agam.
''Ranum nggak bilang sih pak mau kemana, saya pikir dia perginya sama bapak soalnya kaya buru-buru tadi.''
Agam pun langsung pergi dari ruangan Ranum detik itu juga dan berniat untuk mencari keberadaan wanitanya tersebut.
''Kenapa sih? Apa mereka lagi marahan ya?'' gumam Maya begitu Agam meninggalkan ruangannya.
Berkali-kali Agam mencoba melakukan panggilan ke nomor Ranum, namun usahanya sia-sia. Ranum sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya.
''Kamu kemana sih Ranum?'' ucap Agam dengan kebingungan sambil terus melajukan roda mobilnya.
''Apa ke sekolah El ya? Tapi sekarang kan belum waktunya El pulang sekolah.'' gumamnya.
''Berpikirlah Agam!'' ucap Agam pada dirinya sendiri.
...#FLASHBACK#...
Sesaat setelah Ranum meninggalkannya, Agam segera kembali menghampiri Frisca yang masih berdiri di depan rumahnya.
''Agam, akhirnya kamu kembali juga.'' ucap Frisca saat Agam berjalan menghampirinya.
''Katakan apa mau mu!'' ucap Agam dengan dingin.
''Kamu kenapa sih, Gam? Apa kamu nggak kangen sama aku? Udah lama banget kita nggak ketemu. Aku nggak nyangka kamu berubah banget sekarang dan jadi makin tampan.'' ucap Frisca yang hendak mendekati Agam.
''Berhenti di situ dan jangan mendekat!'' seru Agam yang langsung memberi batasan pada wanita itu.
''Kenapa kamu ngomong kaya gitu sih? Aku ini Frisca, sahabat kecil kamu Gam!''
''Dulu kamu kan selalu baik sama aku. Kamu juga sangat memanjakan aku. Tapi kenapa kamu jadi dingin begini sekarang?'' ucap Frisca mencoba membawa Agam mengingat kembali kenanagan manis saat mereka kecil dulu.
''Lalu?'' ucap Agam dengan dingin.
''Sebenarnya aku datang ke sini karena aku mau minta maaf sama kamu atas kejadian yang terjadi lima tahun lalu. Aku sangat menyesalinya, Gam.'' ucap Frisca dengan tatapan mengiba.
''Agam, kamu mau kan maafin aku kan?''
''Ini semua terjadi bukan karena salahku, Gam. Ini semua gara-gara perempuan bayaran tadi!'' seru Frisca.
''Perempuan itu yang datang dan memohon-mohon padaku agar dia bisa menggantikan aku saat akan bertemu dengan kamu, Gam. Aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksa dan dia malah menjebakku sehingga aku tidak bisa datang untuk menemui kamu waktu itu.'' terang Frisca.
__ADS_1
''Agam, kamu jangan sampai terperdaya dengan tipu muslihatnya. Dia itu perempuan yang sangat licik dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan lelaki incarannya. Dia itu seperti serigala. Kamu harus berhati-hati dengan perempuan itu.'' ucap Frisca memperingatkan Agam.
''Agam, kamu paham kan apa maksud dari perkataanku?'' tanya Frisca dengan menatap Agam lekat-lekat.