Kidung Renjana

Kidung Renjana
Memaksa Restu


__ADS_3

Waktu mengalir dengan pasti. Musim silih berganti, dan tanaman hias di pelataran sudah berbunga lalu mati.


Sore ini, entah karena apa jam pulang kantor tiba-tiba saja di majukan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka itu, maka Ranum pun segera melangkahkan kakinya untuk menuju sekolah Elzein untuk segera menjemput putranya.


''Mama, kenapa mama pulang lebih awal dari biasanya?'' tanya Elzein pada ibunya.


''Iya, sayang. Mungkin bos mama lagi baik hati.'' jawab Ranum dengan terkekeh.


''Papa kan memang baik, mama.'' sahut Elzein.


''Iya.'' jawab Ranum dengan pandangan matanya masih terfokus pada jalanan yang dilaluinya.


''Kok kita ke sini, mama?'' tanya Elzein yang melihat arah jalan mereka tidak seperti biasanya.


''Kita jenguk nenek, kakek, dan om Reyhan dulu ya. Sudah lama bukan kita tidak mengunjungi mereka?'' ucap Ranum.


''Iya, mama. El mau berdoa untuk kakek, nenek, dan juga untuk om Reyhan.'' seru Elzein tak sabaran.


''Hm, kalau begitu kita ke sana sekarang.'' Ranum segera melajukan mobilnya menuju pusara keluarganya.


Setelah membeli sebakul bunga setaman dan beberapa tangkai bunga mawar putih kesukaan ibunya, Ranum dan Elzein pun segera masuk ke dalam kompleks pemakaman yang terletak di pinggir kota itu.


Dari kejauhan samar Ranum melihat seseorang yang sepertinya sangat ia kenali. Seorang laki-laki tinggi dan tampan yang sedang duduk dan bedoa dengan khusyuk di depan pusara kedua orang tuanya.


''Mama, itu kan papa!'' seru Elzein begitu melihat Agam.


''Sssttt... Jangan keras-keras bicaranya sayang nanti mengganggu papa yang sedang berdoa!'' ucap Ranum pada Elzein.


''Oke, mama.'' jawab Elzein dengan lirih.

__ADS_1


Ya, Ranum memang sengaja membiarkan dan memberi waktu pada lelaki itu. Ia ingin melihat apa yang akan Agam lakukan di depan pusara kedua orang tuanya. Pasalnya selama ini Agam tak pernah sekalipun bertanya padanya tentang orang tuanya. Namun kini, ia malah melihat Agam yang sedang tertunduk di sana.


Ranum membawa Elzein untuk sedikit mendekat dan berjalan dengan sangat perlahan-lahan agar Agam tidak menyadari kehadiran mereka. Dari tempatnya berdiri sekarang, Ranum dapat mendengar dengan jelas apa yang Agam ucapankan pada kedua orang tuanya.


''El, kita tunggu di sini dulu ya nak, biarkan papa berdoa dulu. El nggak boleh berisik, jangan bersuara dulu ya sayang.'' bisik Ranum di telinga Elzein.


''Iya, ma.'' jawab Elzein dengan patuh.


Laki-laki itu nampak khusyuk berdoa. Hingga akhirnya,


''Om dan tante, perkenalkan saya adalah Agam.'' ucap Agam dengan sedikit menjeda kalimatnya.


''Mungkin om dan tante bertanya-tanya mengenai kedatangan saya sore ini di sini. Sebelumnya saya minta maaf karena baru sekarang bisa datang dan berkunjung ke sini.''


''Om, tante... Maafkan saya, maafkan semua kesalahan saya karena selama ini telah menyakiti putri kesayangan om dan tante. Saya adalah seorang lelaki yang sangat bodoh karena selama ini telah menyia-nyiakan putri kesayangan om dan tante.'' ucap Agam dengan tertunduk.


''Saya juga minta maaf karena telah abai dan lalai, selama ini tak pernah memperhatikan anak kami, yang juga cucu laki-laki om dan tante.''


''Saya minta maaf, saya benar-benar minta maaf karena selama ini telah banyak melukai dan menyakiti putri kesayangan om dan tante.''


''Dan tujuan kedatangan saya kemari sore ini selain ingin meminta maaf pada om dan tante, saya juga ingin meminta restu. Mungkin saya terlalu hina dan tak pantas untuk mendapatkan itu semua, namun saya tetap akan memaksa agar om dan tante merestui hubungan kami. Saya benar-benar menyesal dan bersungguh-sungguh. Saya sangat mencintai putri om dan tante, saya sangat menyayangi Ranum....'' ucap Agam dengan mantap dan tak ada keraguan di sana.


''Sekali lagi maafkan semua kesalahan saya. Saya ingin menebus semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada Ranum dan juga putra kami, putra kesayangan saya. Saya sangat mencintai mereka.'' ucap Agam dengan suara yang mulai serak dan bergetar.


''Saya harap om dan tante, bersedia dan berkenan merestui langkah saya. Langkah kami....''


Setelah selesai merapalkan doa-doa dan bermunajat pada yang kuasa, Agam pun kemudian mulai menaburkan bunga yang ia bawa pada tiga gundukan tanah berumput hijau yang berjejer rapi di sana.


Melihat itu, Ranum pun tak kuasa menahan tangisnya begitu mendengar semua yang Agam katakan pada kedua orang taunya.

__ADS_1


''Papa!'' seru Elzein yang langsung berhambur dan memeluk ayahnya itu.


Begitu mendengar suara itu, Agam pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati orang-orang yang begitu ia cintai telah berada di depan matanya.


''Kalian?'' ucap Agam dengan terkejut.


''Papa, kenapa papa tidak mengajak El dan mama ke sini bersama-sama?'' tanya Elzein yang kini sudah berada dalam gendongan Agam.


''Maafkan papa sayang, tadi papa kebetulan sedang melewati daerah ini. Jadi papa memutuskan untuk mampir ke sini. Lain kali pasti kita akan kemari bersama-sama.'' ucap Agam dengan melirik ke arah Ranum.


Merasa di perhatikan, Ranum pun langsung menurunkan tubuhnya untuk duduk dan menaburkan bunga yang ia bawa ke dalam pusara kedua orang tuanya dan juga adik laki-lakinya.


''Maafkan aku, aku datang ke sini tanpa meminta izin darimu lebih dulu.'' ucap Agam pada Ranum begitu melihat Ranum telah selesai membacakan doa untuk kedua orang tuanya.


''Hm, ini adalah tempat umum jadi siapa saja berhak datang kemari.'' jawab Ranum.


''El, turun dulu sebentar ya nak.''


''Iya, papa.'' Agam pun menurunkan Elzein dari gendongannya. Lalu,


''Ranum...'' panggil Agam dengan meraih tangan kanan wanita pujaannya itu.


''Hari ini dan di tempat ini, dengan disaksikan oleh kedua orang tuamu, aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama aku tahan.''


Agam pun mulai mengeluarkan suatu benda dari dalam saku celananya. Lalu ia pun menurunkan tubuhnya dan bertekuk lutut di hadapan Ranum.


''Ranum, aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Satu-satunya hal yang bisa kujanjikan padamu saat ini adalah hatiku yang tulus. Kurasa, selama ini kita saling membuang-buang waktu, saling larut dalam kebencian yang tak seharusnya ada.''


''Namun, kali ini aku tak ingin membuat kamu merasa sedih dan terluka lagi. Karena aku semakin hancur ketika tidak mampu membahagiakan mu.''

__ADS_1


''Ranum, setelah perjalanan dan perseteruan panjang ini, aku mohon padamu untuk kita bisa berdamai. Berdamai dengan keadaan dan hati kita. Akan kulakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidupku.'' ucap Agam lagi dengan menjeda kalimatnya.


''Ranum, will you marry me?''


__ADS_2