
Di sudut kota lain, Agam baru saja menyelesaikan meeting dengan Pak Ibrahim, salah satu kolega bisnis kepercayaannya. Setelah kedua belah pihak menyetujui dan menyepakati isi kontrak kerja sama antar dua perusahaan itu, Agam pun lantas berpamitan pada Pak Ibrahim.
''Terima kasih pak Ibrahim, senang bisa kembali berbisnis dengan Anda.'' ucap Agam dengan mengulurkan tangannya pada Pak Ibrahim dan juga pada asisten Pak Ibrahim, begitu pula dengan Hardy yang juga ikut bergantian bersalaman.
''Sama-sama Pak Agam, justru saya yang harus berterima kasih pada anda karena telah mempercayai perusahaan kami.'' jawab Pak Ibrahim.
''Hm. Kalau begitu, kami mohon pamit masih ada urusan lain di kantor.'' pamit Agam.
''Silahkan pak Agam, sekali lagi terima kasih.'' Agam dan Hardy pun meninggalkan perusahaan pak Ibrahim dengan diantar oleh asisten Pak Ibrahim hingga ke pintu depan.
Setelah itu Agam lalu berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai di tempat parkir dimana mobilnya diperkirakan. Sejak tadi, sebenarnya pikiran Agam sudah tidak begitu terfokus pada apa yang di hadapannya. Namun lagi-lagi karena kecakapan dan kepiawaiannya dalam dunia bisnis sehingga ia mampu untuk tetap bersikap profesional dan menyelesaikan satu per satu urusan bisnisnya dengan sangat baik.
''Bos, kenapa terburu-buru sekali? Seingat saya kita sudah tidak ada janji lagi dengan siapapun, pekerjaan di kantor juga sudah saya bereskan semua.'' ucap Hardy yang kini sedang berjalan mengikuti Agam dari arah belakang.
''Apa kamu tidak ingat saat kita akan pergi tadi Ranum seperti sedang ada masalah? Aku harus segera mencari tahu dan menolongnya.'' jawab Agam dengan terus melangkahkan kakinya lebar-lebar.
Begitu mendengar perkataan bosnya itu, Hardy pun segera melirik ke arah ponselnya.
''Oh, syukurlah sudah beres.'' gumam Hardy begitu melihat sebuah notifikasi pesan dari seseorang.
Ya, selama ini di belakang Agam, Hardy memang bekerja sama dan menjadi mata-mata untuk Pak Hermawan. Ia telah menceritakan semua yang terjadi pada Agam kepada bos besarnya itu. Tentu saja dengan suka rela ia melakukan itu semua demi Agam. Selama ini Hardy telah menganggap Agam seperti adik kandungnya sendiri. Hardy tidak ingin Agam kembali salah dalam menentukan langkah hidupnya setelah peristiwa lima tahun lalu itu. Selain itu, Hardy juga sudah menganggap Pak Hermawan seperti ayah kandungnya sendiri, selama ini Pak Hermawan lah yang telah berjasa dan merawatnya hingga menjadi orang berguna seperti saat ini.
''Hardy! Ngapain masih di situ!'' teriak Agam pada asistennya yang malah nampak terdiam sambil memainkan ponselnya itu.
''Oh, iya bos.'' jawab Hardy dengan segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung duduk di balik kemudinya.
''Cepat kita cari Ranum!'' perintah Agam.
''Cari kamana bos? Kenapa tidak ditelepon saja mbak Ranum nya?'' ucap Hardy memberi usul.
''Ah, benar juga. Kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi!'' kesal Agam dan langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Ranum.
Setelah melakukan panggilan berulang-ulang kali, akhirnya Ranum pun mengangkat telepon darinya.
'Hallo?'' jawab Ranum dari balik telepon.
''Kamu dimana?'' ucap Agam begitu sambungan telepon itu terhubung.
__ADS_1
''Di kantor lah, dimana lagi!'' jawab Ranum dengan sedikit menaikkan intonasi bicaranya.
''Hah? Kenapa bisa ada di kantor? Bukankah kamu nampak terburu-buru tadi? Kamu nggak apa-apa kan? Semua baik-baik saja kan? Katakan padaku jika ada yang berani menyakitimu!'' berondong Agam dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi ingin ingin ia tanyakan pada Ranum, siapa pun yang melihat wajah Agam kali ini bisa melihat jelas kekhawatiran yang nampak di wajahnya.
''Bapak kenapa sih? Orang aku nggak ngapa-ngapain kok. Nih, sekarang aku lagi bikin laporan kerja yang bapak minta kemarin.'' jawab Ranum.
''Kamu nggak bohong kan?'' tanya Agam tak percaya.
''Terserah bapak deh, dibilangin nggak percayaan banget.'' kesal Ranum sambil mematikan sambungan teleponnya.
''Hallo! Hallo! Ranum!'' ucap Agam yang merasa kesal ketika Ranum mematikan teleponnya secara sepihak.
''Cepat kembali ke kantor!'' perintah Agam pada Hardy.
''Baik, bos.'' Hardy pun segera memutar balikkan arah kendaraannya untuk kembali menuju kantor.
Setelah sampai di kantor, Agam segera berjalan dengan cepat dan nampak terburu-buru.
''Siang bos!'' sapa Sapto salah satu security di kantornya saat melihat kedatangan bosnya tersebut.
''Buset dah, lagi gelap dah tuh aura! Perasaan nggak pernah ada baik-baiknya dah.'' ucap Sapto begitu Agam berlalu yang lagi-lagi mengabaikan sapaan yang selalu ia berikan. Hanya Hardy yang membalas sapaan Sapto dengan sebuah anggukan dan juga segera berlalu.
Brak! Pintu ruangan itu mulai terbuka dengan lebar.
Ranum dan Maya yang berada di dalam ruangan itu pun merasa terkejut begitu pintu ruang kerja mereka dibuka secara paksa dari luar.
''Pak Agam?'' ucap Maya yang langsung berdiri dengan memberi hormat pada atasannya itu.
Begitu melihat Ranum yang nampak sedang sibuk bekerja di depan komputernya, Agam pun segera menghentikan langkahnya.
''Setelah ini segera ke ruangan saya!'' perintah Agam pada Ranum yang kembali menutup pintu ruangan Ranum.
''Kenapa sih, Num?'' tanya Maya tak mengerti.
Ranum pun hanya mengangkat kedua bahunya dan menghembuskan nafasnya dengan malas.
Ceklek! Pintu ruang kerja Ranum kembali terbuka.
__ADS_1
''Maafkan perbuatan Pak Agam tadi, ya.'' ucap Hardy pada Maya dan Ranum yang langsung menutup kembali pintu itu.
''Eh, iya pak.'' jawab Maya namun Hardy telah lebih dulu menutup kembali pintu ruang kerja mereka.
''Dasar sama-sama aneh.'' gerutu Ranum.
''Aneh tapi sayang, ya Num?'' goda Maya.
''Mulai deh!'' kesal Ranum.
Setelah kepergian Agam dan juga Hardy, Ranum pun segera berjalan dengan langkah gontai menuju ruangan Agam.
''Mau ngapain lagi sih itu orang!'' gerutu Ranum sambil terus berjalan meskipun ia merasa sangat kesal pada Agam.
''Mbak Ranum?'' ucap Hardy begitu melihat kedatangan Ranum di depan ruangannya.
''Di panggil sama pak Agam.'' jawab Ranum terus terang.
''Oh... Silahkan masuk, mbak.'' ucap Hardy mempersilakan Ranum untuk masuk.
Tok..tok..
''Permisi, bos.'' Hardy membuka pintu ruangan Agam.
Begitu melihat kedatangan Ranum, Agam pun segera menyambut hangat wanita pujaan hatinya itu dan memberi kode pada Hardy untuk segera meninggalkan mereka.
''Kamu beneran nggak kenapa-kenapa, kan? Dari mana saja kamu tadi?'' tanya Agam pada Ranum dengan meraih tangan wanita di hadapannya itu.
''Kamu apa-apaan sih!'' sahut Ranum.
''Aku tuh khawatir sama kamu, takut terjadi apa-apa dengan kamu.'' jawab Agam.
''Memangnya aku kenapa? Lagian bukan urusan kamu juga kan.'' kesal Ranum dengan melepaskan tangannya dari genggaman Agam.
''Yang penting aku sudah tenang sekarang setelah mengetahui secara langsung kalau kamu benar-benar baik-baik saja. Jika sampai terjadi apa-apa aku mohon segera katakan padaku, ya...'' ucap Agam.
''Sudah kan? Aku harus segera kembali bekerja.'' jawab Ranum yang hendak melangkah pergi.
__ADS_1
''Tunggu!''
Agam melangkah perlahan dan berjalan mendekat ke arah Ranum, mencoba mengikis jarak yang memisahkan mereka.