Kidung Renjana

Kidung Renjana
Endless Love


__ADS_3

Pagi-pagi buta banyak orang yang berlalu lalang ke sana kemari di sebuah ballroom hotel mewah yang berada di tengah kota itu. Terlihat mereka sangat sibuk. Ya, benar. Hari ini adalah hari pernikahan Ranum dan juga Agam. Sudah sejak semalam, Agam sengaja memboyong calon istri dan juga putranya itu untuk menginap di salah satu hotel milik keluarga Wicaksana. Agam juga membawa seluruh keluarganya untuk menginap di hotel tersebut demi menghindari hal-hal yang tidak diingingkan.


Detik jarum jam terus berputar. Hanya tinggal hitungan jam lagi Ranum akan resmi menyandang status baru sebagai nyonya Agam Birendra Wicaksana. Sebuah hari dimana dirinya akan terikat hubungan yang sakral. Hari yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Hari yang akan mengubah seluruh hidupnya.


Ranum melihat pantulan wajahnya di cermin. Ranum seolah merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. Berkali-kali ia mencubit tangannya sendiri, tapi terasa sakit. Ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan. Ia akan segera menikah dengan lelaki yang begitu ia cinta selama beberapa tahun ini. Lelaki yang juga telah menyempurnakan hidupnya dan menjadikannya menyandang status sebagai seorang ibu.


''Jangan tegang gitu dong, Num. Yang ngucapin ijab kabul kan Pak Agam, bukan kamu.'' ucap Maya yang berusaha mencairkan suasana karena melihat ketegangan di wajah sahabatnya itu.


''Duh.. Malah jadi makin nervous nih, aku.'' ucap Ranum.


''Kalem, sist. Santuy....''


''Coba deh kamu tarik nafas pelan-pelan terus, keluarkan....'' perintah Maya yang otomatis diikuti oleh Ranum.


Tepat saat Ranum menghembuskan nafasnya saat mengikuti perintah dari Maya, sang MUA pun datang dan segera memasuki kamar Ranum.


''Permisi nona...'' ucapnya begitu Ranum mempersilakannya masuk.


''Kita mulai ya nona.''


''Jangan menor-menor ya, mbak.'' ucap Ranum pada sang penata rias itu.


''Dibikin kaya ondel-ondel sekalian aja dia mbak!'' sahut Maya dengan terkekeh.


''Diem, kamu nggak diajak di sini!'' ucap Ranum.


''Tanpa make up begini aja nona sudah sangat cantik kok, apalagi kalau ditambah polesan sedikit, pasti makin-makin cantiknya...'' ucap penata rias itu.


''Jangan terlalu dipuji mbak, terbang nanti dia!'' sahut Maya sambil terkekeh.


Sang penata rias mulai memoles wajah ayu milik Ranum dengan sentuhan-sentuhan yang lembut. Make up korean look dipilih Ranum sebagai riasannya kali ini. Setelah beberapa saat, sang penata rias memberi sentuhan terakhir berupa lipstik ke bibir Ranum. Pertanda make up nya telah selesai.


''Selesai!'' ucap sang penata rias setelah menyelesaikan riasan di wajah Ranum.


Ranum pun melihat pantulan wajahnya di cermin dengan tatapan tak percaya. Ia melihat wajahnya yang nampak begitu sempurna, benar-benar cantik.

__ADS_1


''Ini beneran aku?'' Ranum meneliti setiap inchi wajahnya yang nampak berbeda dari biasanya.


''Ya ampun, kamu cantik banget, Num. Beneran nggak peres aku!'' ucap Maya saat melihat hasil riasan di wajah Ranum.


''Kalau Pak Agam lihat, bakalan makin klepek-klepek!'' imbuhnya.


''Iya, benar nona.''


Dan itu berhasil membuat Ranum malu, ia yakin pasti wajahnya sudah memerah saat ini namun tidak terlihat berkat polesan make up di wajahnya.


''Makasih, ya mbak.'' ucap Ranum pada sang penata rias.


Sekali lagi, waktu cepat berlalu. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ranum duduk dengan gelisah. Ia menautkan jari-jarinya yang terasa begitu dingin. Jantungnya pun makin berdetak tak karuan.


Seseorang membuka pintu kamar Ranum. Sontak Ranum dan Maya pun menoleh ke arah pintu.


''Mama!'' seru Elzein begitu masuk ke dalam ruangan.


''Mama cantik sekali!'' puji Elzein.


''Anak mama juga tampan sekali.'' puji Ranum yang nampak gemas melihat putranya memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan bunga mawar merah di sisi sakunya.


''Hm.'' jawab Ranum dengan menghembuskan nafasnya.


Ranum mengukir senyumnya. Ia kembali teringat tentang kenangannya bersama kedua orang tuanya dan juga adik laki-lakinya. Ranum berharap kedua orang tuanya ada di sampingnya sekarang dan melihatnya menikah. Ranum merasakan matanya mulai memanas, seperti ada sesuatu di sana yang hendak mendesak keluar.


''Ranum, jangan nangis. Nanti make up kamu luntur, sayang tau!'' gurau Maya yang melihat kegelisahan dan kesedihan di wajah Ranum. Bahkan, Maya pun sama. Ia bisa merasakan kesedihan Ranum saat ini, matanya mulai berkaca-kaca.


''Ayo kita keluar sekarang! Acara ijab kabulnya sebentar lagi akan segera dimulai.'' ucap Yuda yang berusaha untuk tetap bersikap tegar saat itu.


''Hm.'' Ranum pun mengangguk mengiyakan perintah Yuda.


Ranum tersenyum, sementara jantungnya berdegup dengan begitu kencang. Maya dan Elzein menuntun dirinya menuju singgasana pernikahan.


Sepanjang memasuki singgasana pernikahan, seluruh mata yang hadir di tempat itu pun tak henti-hentinya menatap ke arahanya yang semakin membuat Ranum merasa begitu berdebar. Tatapan-tatapan kekaguman menghiasi suasana itu. Para hadirin yang ada di sana pun memuji kecantikan sang mempelai wanita. Termasuk Agam, ia benar-benar tak berkedip saat melihat calon istrinya itu.

__ADS_1


''Bos, mulutnya ditutup bos takut ada lalat yang masuk!'' bisik Hardy mengingatkan Agam untuk kembali fokus dan dengan spontan Agam pun langsung mengatupkan mulutnya.


''Diam kamu!'' kesal Agam.


Begitu tiba di tempat dimana akan dilangsungkannya acara ijab kabul, Ranum pun segera duduk pada sebuah kursi yang berada di samping Agam. Calon pengantin pria memang telah lebih dulu berada di sana untuk bersiap menghadap sang penghulu. Sementara Elzein duduk bersama dengan Pak Hermawan pada sebuah tempat yang telah disediakan. Maya dan Yuda pun duduk pada sebuah kursi yang telah disiapkan khusus untuk keluarga inti. Acara pernikahan pagi ini memang hanya dihadiri oleh saudara dan kerabat dekat saja, sesuai dengan permintaan kedua mempelai. Benar-benar intimate wedding.


Agam melirik Ranum sekilas, senyum Agam terbit saat melihat Ranum yang nampak begitu cantik dan anggun pagi ini saat mengenakan sebuah gaun berwarna ivory dengan sentuhan klasik namun tetap modern yang memang pas dikenakan pada tubuhnya yang proporsional.


''Apakah saudara Agam sudah siap mengucapkan ijab kabul?'' tanya sang penghulu.


''Siap, pak!'' jawab Agam dengan bersemangat.


Jantung Agam pun seketika berdedar tak karuan. Tangannya juga mendadak tremor. Ia pun memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas panjang. Tidak lupa ia mengucapkan bismillah agar dimudahkan dalam mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas.


''Saya terima nikah dan kawinnya Ranum Renjana binti Aris Subagyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!'' ucap Agam dengan begitu lantang dan lancar.


''SAH!!!!''


''Alhamdulillah...''


Agam dan Ranum sama-sama bernafas dengan lega. Acara ijab kabul berlangsung dengan khidmat dan khusyuk.


Setelah acara ijab kabul selesai dan telah menyalami para tamu yang datang, Agam telah menyiapkan sebuah kejutan istimewa untuk istrinya itu. Sebuah alunan musik mulai terdengar dengan lembut. Lampu-lampu mulai dipadamkan dan sebuah sorotan cahaya langsung menyala dan mengarah pada sepasang pengantin yang sedang berbahagia itu. Diiringi alunan lagu romantis milik Lionel Richie dan Diana Ross yang berjudul Endless Love, Agam berlutut di hadapan Ranum dan menggenggam sebelah tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah hati yang di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat cantik dan begitu berkilau.


''Ranum Renjana, pada hari ini aku ingin semua orang tahu bahwa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena memiliki perempuan seperti kamu.''


''Istriku, aku ingin menjadi angin untukmu yang akan memelukmu dalam kesedihan dan kegembiraanmu. Aku tak akan menuntut apa-apa darimu, aku hanya ingin kau saja yang menemaniku. Membuka pagi dan melepas senja. Menenangkan malam dan berbagi cerita. Aku hanya ingin kita saling mencintai dengan sederhana untuk selama-lamanya.'' ucap Agam sambil memasangkan sebuah cincin di jari manis Ranum.


Sontak semua yang hadir di tempat itu pun ikut merasa haru melihat ketulusan dan kekuatan cinta dari sepasang pengantin baru itu.


Tanpa terasa, Ranum menitikkan air matanya. Ia benar-benar dibuat haru oleh suaminya itu. Dalam hatinya tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur.


''Terima kasih Tuhan telah engkau satukan kami. Lengannya cukup kuat, untuk menahan setiap rasa takut, setiap bagian diriku yang indah dan patah. Pria ini tidak hanya membuatku merasa lengkap, dia melengkapiku. Jaga dan bimbing langkah kami selalu dengan karuniaMu.''


Syukur tak henti terucap akan terwujudnya satu harap. Hidup denganmu dalam satu atap, dalam terang maupun gelap. Tuhan telah titipkan seorang wanita, darinya diselimuti suka dan cita, hatinya penuh kasih dan cinta.

__ADS_1


Kau adalah wanita terindah, pelengkap bahagiaku. Untukmu wahai wanitaku, tetap tegar, tetaplah bertahan denganku jalani nikmat kehidupan, hingga nanti kembali pada Tuhan.


...♡ TAMAT ♡...


__ADS_2