Kidung Renjana

Kidung Renjana
Sebuah Seni, Berdamai & Memaafkan


__ADS_3

Melupakan masa lalu dan berdamai dengannya adalah sebuah seni kehidupan.


''Sebaiknya tak perlu lagi kamu bersusah payah untuk meyakinkan aku tentang semua itu, karena apa yang kamu lakukan saat ini tidak akan mengubah pikiranku.'' ucap Agam dengan sangat tenang.


''Maaf...'' ucap Frisca dengan menundukkan kepalanya.


''Aku benar-benar minta maaf. Aku akui aku salah.'' ucapnya lagi Frisca dengan sendu.


''Kau juga tidak perlu minta maaf padaku.'' jawab Agam singkat.


''Tapi aku tetap harus minta maaf padamu, sebab karena aku kejadiannya malah menjadi seperti itu.'' sahut Frisca dengan rasa bersalahnya.


''Justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena dengan adanya peristiwa itu aku bisa bertemu dengan Ranum.'' ucap Agam dengan jujur tanpa ada sedikit pun yang ia tutupi dari sahabat kecilnya itu.


''Sebenarnya aku juga tidak bermaksud seperti itu kemarin, tapi aku terlalu malu pada Ranum. Aku menjanjikan kepadanya sejumlah uang, tapi aku.....'' belum selesai Frisca berbicara, ucapannya lebih dulu dipotong oleh Agam.


''Sudahlah, tidak perlu kau risaukan lagi sebab Ranum juga sudah memaafkan kamu.''


''Jujur saja, saat itu aku benar-benar nggak tau harus gimana lagi waktu papi bilang kalau om Hermawan menghubungi papi dan mengatur pertemuan kita kembali setelah lima belas tahun berlalu. Sebenernya aku juga ingin datang dan menemui kamu, tapi aku bingung. Aku nggak tau harus gimana. Kondisiku sangat buruk dan aku benar-benar malu untuk bertemu denganmu.''


''Aku takut kalau nantinya kamu akan jijik saat melihatku dan malah menjauhi aku setelah kamu mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Kebetulan di rumah sakit aku bertemu dengan Ranum, entah dapat bujukan dari mana aku malah menyuruh Ranum untuk menggantikan dan mengaku menjadi aku.'' ucap Frisca dengan tatapan nanarnya.


Agam hanya terdiam sambil terus mendengarkan dan menyimak apa yang Frisca katakan dengan sungguh-sungguh.


''Awalnya hidupku baik-baik saja hingga aku bertemu dengan orang yang bernama Eddy, lelaki yang sangat aku cintai namun begitu dibenci oleh papi. Diam-diam kami menjalin hubungan tanpa sepengetahuan papi. Hingga akhirnya aku hamil anak Eddy dan Eddy tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku waktu itu.'' ucap Frisca dengan menjeda kalimatnya.

__ADS_1


''Begitu tahu kalau aku hamil anaknya, dia malah marah dan memaksa aku untuk menggugurkan kehamilan itu. Dia juga meninggalkan aku seorang diri di rumah sakit begitu dokter selesai mengeluarkan janin dari dalam kandunganku. Bahkan setelah kejadian itu, dia juga selalu meminta uang padaku dan mengancam akan menyebarkan video itu jika aku tidak memberinya sejumlah uang yang dia minta.'' ucap Frisca dengan tatapan kosong yang menyimpan rasa sakit hati yang mendalam di sana.


''Hingga seuatu ketika, papi tau semuanya dan papi sangat marah kepadaku. Dari situlah awal mula hidup kami berantakan. Papa syok setelah mengetahui semuanya hingga papi harus jatuh sakit. Aku yang tak tau sama sekali tentang perusahaan terpaksa harus menggantikan poisisi papi. Namun sialnya aku malah ditipu oleh orang kepercayaan papi dan perusahaan menjadi kacau hingga akhirnya menjadi seperti sekarang ini.'' ucap Frisca dengan air matanya yang terus berderai.


Tanpa banyak bicara, Agam hanya memberikan sebuah tisu pada gadis malang yang sedang duduk di hadapannya itu.


''Makasih.'' jawab Frisca sambil menghapus air matanya yang terus mengalir dari mata indahnya.


''Rumah dan seluruh aset perusahaan udah disita oleh bank, hutang kami juga semakin menumpuk dan aku nggak tau lagi harus bagaimana membayarnya.''


''Dan asal kamu tahu, Gam. Aku terpaksa melakukan perbuatan hina itu. Aku juga nggak mau seperti ini, tapi aku terpaksa melakukan itu untuk menutup hutang-hutang perusahaan papi pada pria-pria hidung belang itu.'' ucap Frisca lagi dengan air matanya yang terus berjatuhan meratapi nasib malangnya.


Agam masih terdiam mendengarkan semua cerita Frisca. Ia merasa begitu iba dan geram atas semua yang terjadi pada sahabat kecilnya itu.


''Awalnya aku sempat berpikir untuk menemui kamu. Tapi aku terlalu takut dan malu.''


''Lagi-lagi aku malah bersikap bodoh. Aku datang kembali ke sini dengan semua permainan ini dengan harapan agar aku bisa terlepas dari jeratan hutang itu. Tapi kini aku sadar, aku salah. Kamu terlalu baik untuk aku yang sudah hina ini.'' Frisca menghapus lagi air matanya yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


''Frisca, setelah ini aku yang akan mengurus masalah perusahaan om Sebastian dan berhenti melakukan itu!'' ucap Agam dengan sedikit geram.


''Mulai sekarang berhenti dan jangan pernah menghabiskan waktumu untuk melakukan hal yang sia-sia.'' ucap Agam lagi.


''Makasih... Terima kasih Gam!'' ucap Frisca dengan raut wajah yang berbinar seolah baru saja mendapatkan secercah harapan.


''Hm.''

__ADS_1


''Terima kasih juga karena kamu dan om Hermawan udah mau merawat papi. Aku nggak tau lagi kalau nggak ada kamu gimana nasib papi sekarang.'' ucapnya lagi dengan sendu.


''Hm.'' jawab Agam sambil menyeruput kopi hitamnya.


''Aku udah lega sekarang karena akhirnya kamu udah tau semuanya dan kamu masih mau memaafkan kesalahanku.'' ucap Frisca yang merasa jika beban dalam hatinya mulai sedikit berkurang setelah mengatakan yang sebenarnya pada sahabat kecilnya itu.


''Oh, ya aku juga ikut bahagia karena yang aku dengar kamu akan menikah dengan Ranum, bukan?'' tanya Frisca.


''Dia perempuan yang baik, Gam. Jangan pernah sia-siakan perempuan seperti dia.'' ucap Frisca dengan tulus.


''Hm.'' jawab Agam dengan mantap.


Ya, setelah peristiwa yang terjadi di rumahnya tempo hari, Agam memang kembali mencari keberadaan Frisca. Sejak semalam ia tak henti-hentinya memikirkan tentang sahabat kecilnya itu. Ia seolah merasa ada sesuatu yang tersembunyi dan belum selesai di sana. Ia juga merasa sedikit menyesal karena telah bersikap terlalu kasar pada sahabat kecilnya itu. Agam tidak ingin menyelesaikan masalah dengan kekerasan ataupun dengan diakhiri oleh kebencian. Ia ingin semuanya menjadi baik dan berdamai. Dan pada malam itu, Agam kembali bertemu dengan Frisca untuk menyelesaikan segala sesuatunya.


...----------------...


...#KEMBALI KE WAKTU SEKARANG#...


Siang hari ini, Agam kembali mencari keberadaan Ranum setelah telepon dan pesan darinya selalu diabaikan oleh calon istrinya tersebut.


''Berpikirlah! Ayolah, berpikir!'' ucap Agam pada dirinya sendiri sambil terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota untuk mencari keberadaan Ranum.


''Yuda! Ya benar! Ranum pasti ada di sana. Aku harus segera ke sana.'' ucap Agam yang lansung melajukan arah kendaraannya untuk menuju kafe Yuda.


Begitu sampai di depan kafe milik Yuda, Agam pun segera memarkirkan mobilnya. Lalu ia pun keluar dari mobilnya samhil ekor matanya berkeliling untuk mencari apakah ada mobil Ranum diantara banyaknya mobil yang terparkir di sana.

__ADS_1


__ADS_2