Kidung Renjana

Kidung Renjana
Terhanyut


__ADS_3

Malam ini, hujan turun lagi. Diam-diam Ranum menyesap aroma hujan berulang kali. Mencoba memahami semua yang telah terjadi. Masih jelas tergambar bayang wajahnya yang dulu pernah hilang.


Rinai hujan jatuh perlahan, menerpa tanah yang menjadikannya basah. Dulu, aroma seperti inilah yang selalu ia rindukan. Karena hujan, setidaknya pernah menghentikan waktu untuknya menahan rasa.


Menikmati setiap titiknya yang terdengar bak melodi indah. Namun kini, ketika melihat rintik hujan yang berjatuhan, hatinya menjadi sedikit sesak.


Untuk sekarang, Ranum lebih menikmati gerimis kecil hujan dan pasca hujan itu reda. Mendamaikan. Menyejukkan. Dingin yang menghangatkan. Suasana yang selalu ia inginkan.


Memang bukan tanpa alasan kita dipertemukan. Bukan sebuah kebetulan jika kita ternyata pernah sangat dekat. Semua telah tertulis, terlukis, dan tergaris.


Aku sangat mengenal dirimu, bukan karena lamanya waktu. Aku sangat mengasihi dirimu, bukan karena tampannya kamu. Engkau seperti udara yang ku hela. Engkau seperti musik yang selalu aku dengar setiap malam, dulu.


Meninggalkan aku mungkin sudah menjadi niatmu. Dan mungkin akan kamu sesali itu. Kamu menangis di hadapan aku, merintih dalam pelukku. Aku mencintaimu dan kamu tau itu. Tapi itu dulu.


Kita tahu kehilangan. Karena kita pernah merasakan cinta dan harapan. Kita tahu kesedihan karena kita telah memahami kebahagiaan. Kita hancur karena dulunya kita pernah hampir utuh.


Ia kembali teringat tentang semua yang Agam katakan siang tadi kepadanya.


''Ranum, aku tidak ingin merebut El dari kamu. Aku hanya ingin menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kalian..''


''Aku ingin mengganti waktu yang telah aku sia-siakan selama ini. Aku ingin menebus semua penderitaan kalian...''


Ranum mengamati lekat wajah Agam yang nampak pada sudut matanya hadir setetes cairan bening yang sepertinya sedang ia tahan.


''Maaf, aku harus pergi!'' ucap Ranum dengan segera melangkahkan kakinya.


Namun belum sempat ia melangkah dari tempatnya, tangannya lebih dulu di cekal oleh Agam.


''Lepas!'' teriak Ranum.


''Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu mau memberikan maaf dan memberikan aku kesempatan.''


''Aku sudah memaafkan kamu. Jadi aku mohon sekarang lepaskan aku!'' ucap Ranum masih berusaha untuk melepas cengkeraman Agam pada tangannya.

__ADS_1


''Lihat aku dan katakan. Katakan kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi maka aku akan melepaskan kamu!'' ucap Agam dengan membawa tubuh Ranum ke dalam genggamannya.


''Lepasin! Jangan gila kamu!''


''Katakan, katakan Ranum!'' perintah Agam dengan menatap lekat wajah cantik Ranum yang nampak memerah.


''Kita sudah selesai, jadi aku mohon jangan seperti ini.'' ucap Ranum.


''Tidak! Katakan dengan lantang kalau kamu sudah tidak mencintai aku lagi.'' ucap Agam.


''Kamu....''


Belum selesai Ranum berbicara, tiba-tiba saja dengan secepat kilat Agam meraup bibir mungil yang dipulas lipstik berwarna nude itu. Menyesap dengan lembut bibir yang selama ini ia rindukan. Menghirup dalam-dalam aroma cherry mint dari bibir Ranum yang nampak begitu menggodanya. Mendapat serangan yang begitu tiba-tiba membuat Ranum sedikit terhentak. Ia begitu syok dan tak menyangka jika Agam akan menciumnya. Mulanya Agam mencium Ranum dengan sangat lembut dan hati-hati, sebelum berubah menjadi ciuman yang menuntut. Setelah berusaha memberontak, lambat laun Ranum mulai ikut hanyut dalam buaian Agam. Merasa mendapatkan balasan dari lawan mainnya, semakin membuat Agam menggila. Ia semakin gencar melakukan serangan yang bertubi-tubi pada wanitanya itu.


Ranum terhanyut. Jujur saja, jauh dalam relung hatinya ia sangat merindukan lelaki yang kini ada di hadapannya itu. Logikanya tiba-tiba saja mati untuk sesaat. Namun ia kembali teringat, secepat kilat ia segera melepaskan bibirnya dari bibir Agam. Pasukan udara di otaknya kembali terisi penuh. Ia menyadari telah melakukan kesalahan.


''Kamu keterlaluan!'' Ranum mendorong tubuh Agam agar bisa segera menghentikan ciuman yang begitu menderu itu.


''Kenapa? Bukankah kamu juga menikmatinya tadi?''


''Aku benci sama kamu!'' teriak Ranum sebelum benar-benar pergi.


Agam hanya bisa terdiam dan terpaku memandang punggung Ranum yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.


''Ah, dasar bodoh!''


''Kenapa aku melakukan itu!'' Agam memaki dirinya sendiri.


...----------------...


...#FLASHBACK#...


Agam mengetuk-ngetuk jarinya di meja kerjanya. Sejak semalam, ia terus saja memikirkan tentang anak lelaki yang ia temui di kantornya waktu itu. Ia terus terbayang ketika anak kecil itu memanggilnya dengan kata papa. Entah mengapa, ada perasaan lain yang langsung menyelimuti hatinya. Ditambah lagi saat mereka bertemu di kafe, Agam baru mengetahui jika anak lelaki kecil yang ia temui itu adalah anak Ranum.

__ADS_1


Sejak saat itu, Agam mulai menelusuri kehidupan Ranum. Mencari tahu tentang semua yang terjadi setelah ia pergi.


''Segera ke ruangan saya.'' perintah Agam pada seseorang.


Tak berselang lama, pintu ruangan Agam pun terbuka.


''Ada yang bisa saya bantu bos?'' tanya Hardy.


''Cari semua informasi yang berkaitan dengan Ranum, apapun itu!'' perintah Agam pada Hardy.


''Ranum yang mana bos?'' tanya Hardy tak mengerti.


''Karyawan di divisi dua.'' jawab Agam.


''Memangnya kenapa bos? Apa ada pelanggaran kerja yang ia lakukan? Atau jangan-jangan orang itu melakukan korupsi?'' ucap Hardy menerka-nerka.


''Lakukan saja apa yang aku perintahkan!'' seru Agam.


''Baik bos!''


Hardy segera meninggalkan ruangan Agam guna menjalankan perintah atasannya itu. Ia pun mulai mengetikan nama yang disebutkan oleh Agam di daftar pencarian tentang data-data seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan Agam. Lalu, munculah informasi dan data diri orang yang ia cari.


''Oh, pantas saja..'' gumam Hardy begitu melihat profil dan foto dari Ranum.


''Spek bidadari!'' seru Hardy ikut mengagumi kecantikan Ranum.


''Kenapa aku selalu terlambat menyadari jika ada pegawai yang secantik ini ya?''


''Sepertinya belum mulai perang sudah harus mundur teratur ini mah, saingannya kelas kakap!'' ucap Hardy dengan terkekeh.


''Aku harus segera laporkan pada tuan besar. Beliau pasti sangat senang kalau tahu anak laki-lakinya sedang berusaha mendekati seorang perempuan.'' ucapnya merasa lega karena atasannya itu sedang berusaha mencari tahu informasi tentang seorang perempuan, pikir Hardy.


''Syukurlah, dia masih normal.'' ucap Hardy dengan terkekeh.

__ADS_1


Ya, selama ini Pak Hermawan, ayah Agam sudah berpuluh-puluh kali berusaha mencarikan pasangan untuk putra semata wayangnya itu. Pak Hermawan merasa khawatir jika putra satu-satunya itu tidak tertarik dengan wanita, karena selama ini tidak pernah sekali pun ia mengetahui putranya berpacaran dengan siapa pun setelah lima tahun lalu Agam tiba-tiba saja memohon kepadanya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Diam-diam Pak Hermawan meminta Hardy yang juga merupakan sahabat putranya itu untuk melaporkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Agam.


__ADS_2