
Cinta adalah kekuatan liar. Ketika kita mencoba mengendalikannya, itu menghancurkan kita. Ketika kita mencoba memenjarakannya, itu memperbudak kita. Ketika kita mencoba memahaminya, itu membuat kita merasa tersesat dan bingung.
''Kamu tahu, ternyata aku adalah pria yang paling bodoh di dunia.'' ucap Yuda dengan menghembuskan nafasnya kasar.
Ranum pun menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti.
''Aku sibuk mengejar orang lain yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Sementara itu, aku mengabaikan orang yang benar-benar tulus kepada ku.'' ucap Yuda dengan berat.
''Yud?'' ucap Ranum.
''Ranum, aku ingin berkata jujur sama kamu. Tolong dengarkan aku baik-baik dan jangan memotong pembicaraanku atau berbicara sebelum aku selesai mengatakan semuanya.'' Yuda menghirup udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya.
Ranum pun menganggukkan kepalanya.
''Ranum, sudah empat tahun ini aku berpikir kalau aku mencintaimu.''
''Terkadang aku sendiri tidak tahu, perhatianku selama ini sama kamu itu karena menyukaimu atau karena terbiasa. Terbiasa memberikan perhatian lebih kepadamu. Namun, aku baru menyadari satu hal sekarang. Ternyata aku salah, aku tidak benar-benar sedalam itu memiliki perasaan untukmu.''
''Tapi dengan Maya semua berbeda. Entah sejak kapan, orang yang paling ingin aku temui ketika aku merasa banyak beban yang menghimpitku atau saat aku sedang merasa sangat sedih, orang yang paling ingin aku pedulikan, orang yang sering aku impikan, dan orang pertama yang ingin ku peluk ketika semua usaha-usahaku berhasil adalah Maya.''
''Aku memang bodoh, tidak bisa menyadari perasaanku lebih cepat.''
''Saat aku tahu jika Maya berusaha untuk mendekatkan aku padamu, aku merasa benar-benar sedih.''
''Kenapa aku membiarkannya terluka seorang diri. Kenapa aku membiarkannya melakukan itu dan seolah-olah aku juga mengikuti semua ucapannya.''
''Aku benar-benar bodoh!'' Yuda merutuki dirinya sendiri.
Ranum tertegun mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Yuda.
''Kamu memang bodoh, Yud!'' ucap Ranum.
''Kenapa kamu mengatakan ini padaku. Seharusnya Maya yang kamu beri tahu. Kamu harus mengatakan yang sebenarnya, kamu harus menjelaskan semua kepadanya.'' ucap Ranum dengan menitikkan air matanya haru.
Ia teringat betapa banyak pengorbanan yang telah Maya lakukan selama ini kepadanya, Maya yang selalu rela berkorban untuk kebahagiannya.
''Iya, kamu benar. Aku harus segera mengatakan pada Maya.'' jawab Yuda.
''Tunggu apa lagi, cepat cari Maya!'' seru Ranum.
Yuda mengambil ponsel pintar dari saku celananya, kemudian ia mencari sebuah nama yang tersimpan di sana. Setelah itu ia segera melakukan panggilan pada nomor itu.
''Nggak diangkat, Num.'' ucap Yuda dengan kebingungan.
''Telfon lagi dong!'' jawab Ranum.
__ADS_1
''Tetep nggak bisa.'' ucap Yuda pasrah.
''Biar aku yang coba hubungi Maya.'' jawab Ranum pada akhirnya.
Setelah beberapa saat,
''Nggak di angkat juga.'' ucap Ranum lemah.
''Eh, tunggu dulu, Maya bikin story nih. Kayaknya dia lagi di Terazzo, iya bener aku tau tempat ini.'' ucap Ranum saat melihat story Maya pada ponselnya.
''Kok di ponsel ku nggak ada story Maya?'' tanya Yuda setelah mengutak-atik ponselnya.
''Berarti nomor kamu di hide sama Maya.'' jawab Ranum.
''Yud, itu semua nggak penting sekarang. Buruan susul Maya sekarang juga dan jelasin semuanya!''
''Hm, aku pergi dulu!'' Yuda segera menyambar kunci mobil yang ada di mejanya dan berlari secepat mungkin.
''Ya ampun, mereka berdua benar-benar serasi, sama-sama bodoh soal urusan percintaan.'' ucap Ranum begitu Yuda pergi.
''Tapi aku juga nggak jauh beda sih sama mereka.'' ucap Ranum menertawakan dirinya sendiri.
...----------------...
Yuda segera berjalan ke arah Maya.
''Hai..'' sapa Yuda dengan lembut.
Maya pun mengangkat kepalanya untuk memastikan suara itu.
''Yud, ngapain kamu ke sini?'' ucap Maya yang nampak terkejut saat melihat Yuda yang tiba-tiba saja saat ini sedang berdiri dengan menatapnya.
''Nyari kamu dong.'' jawab Yuda.
''Ngapain kamu di sini sendirian? Nggak takut masuk angin malam-malam begini duduk di sini sendirian?'' ucap Yuda yang langsung memberikan jaketnya pada Maya.
''Makasih.'' ucap Maya sambil membenarkan jaket yang Yuda berikan kepadanya.
''Jadinya kamu dong nanti yang masuk angin kalau jaketnya aku yang pakai?'' ucap Maya dengan terkekeh.
''Aku sudah kebal.'' jawab Yuda dengan santai.
Maya pun menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan.
''Bukankah ini menenangkan?'' ucap Maya dengan pandangan matanya yang masih tetap lurus menghadap ke depan.
__ADS_1
''Hm, kamu benar.'' jawab Yuda tanpa mengalihkan pandangannya.
Untuk sejenak dua sejoli itu hanya saling diam dengan pikirannya masing-masing. Hening. Hanya suara sepoi-sepoi angin malam yang berhembus yang menerpa kulit mereka yang sedikit meramaikan suasana.
''Maya?'' ucap Yuda setelah keheningan yang tercipta untuk beberapa saat.
''Hm?''
''Ada yang ingin aku katakan sama kamu.'' ucap Yuda.
''Kenapa sih? Kayaknya serius banget. Jadi deg-degan nih.'' canda Maya yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dalam hatinya, Maya merasa benar-benar tidak siap mendengar apa yang akan Yuda katakan padanya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya, tangannya mendadak dingin bagaikan air yang membeku.
''Maafkan aku.'' ucap Yuda.
Maya pun langsung mengangkat kembali kepalanya yang sempat tertunduk karena memikirkan sesuatu yang akan melukainya, pikirnya.
''Maaf karena telah mengabaikan kamu selama ini.'' ucap Yuda.
Yuda pun meraih tangan Maya dan membawanya ke dalam genggamannya.
''Maya, beri aku satu kesempatan lagi untuk menunjukkan kepada kamu bahwa aku bisa menjadi sesuatu yang berharga bagi kamu, aku mohon izinkan aku untuk menunjukkannya kepadamu."
Deg! Jantung Maya seolah berhenti untuk beberapa detik.
''Tapi, Yud?'' sahut Maya.
''Dengarkan aku dulu.'' mohon Yuda.
''Maya, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu.'' ucap Yuda dengan sungguh-sungguh.
''Aku benar-benar menyesal. Selama ini selalu menghiraukan kamu. Aku terlambat menyadari, aku terlalu abai selama ini.''
''Ada tempat dalam diriku di mana kamulah yang selalu menempati. Itu adalah tempat di mana bagian dirimu yang akan selalu menjadi bagian dari hidupku.'' ucap Yuda.
Tanpa terasa Maya menitikkan air matanya mendengar semua ucapan Yuda.
''Maya, beri aku satu kesempatan lagi. Dan aku akan membuktikan semuanya. Karena hanya kamulah satu-satunya orang yang aku cintai.'' mohon Yuda masih dengan menggenggam erat tangan Maya.
Maya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia seolah-olah kehilangan semua kata-katanya.
''Terima kasih. Terima kasih, May!''
''Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan ini.''
''Terima kasih!'' Yuda segera membawa Maya ke dalam pelukannya. Ia peluk erat wanita pujaannya itu.
__ADS_1