Kidung Renjana

Kidung Renjana
Posesif


__ADS_3

''Agam, tunggu dulu!'' seru Ranum menahan tangan kekar itu untuk tidak turun dari mobil terlebih dulu.


''Ada apa?'' tanya Agam dengan lembut.


''Jujur saja aku belum siap sekarang. Bagaimana kalau aku keluar sendiri dulu, setelah itu baru kamu boleh keluar.'' ucap Ranum.


''Nggak!'' ucap Agam dengan tegas.


''Kok gitu sih?'' ucap Ranum dengan memanyunkan bibirnya.


Melihat Ranum yang sedang merajuk seperti itu membuat Agam merasa begitu gemas.


''Astaga! Jangan seperti itu nanti aku nggak bisa menahan diri.'' ucap Agam dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.


''Dasar pria mesum!'' ucap Ranum dengan kesal.


''Ranum dengar ya, jangan pernah menunjukkan wajah yang seperti ini di hadapan laki-laki manapun selain aku!'' ucap Agam dengan membelai lembut bibir yang nampak merah merekah itu.


''Stop!'' sahut Ranum memperingatkan.


''Maaf....'' ucap Agam yang langsung kembali tersadar.


''Kalau begitu ayo kita keluar sekarang.'' ucap Agam lagi.


''Tapi, Gam...'' elak Ranum.


Agam pun kembali meraih tangan wanitanya itu dengan lembut.


''Mau sekarang atau besok akan sama saja. Lambat laun semua orang akan dan harus tahu kalau kamu adalah calon istriku, orang yang sangat aku cintai.'' ucap Agam.


''Gombal!'' ucap Ranum dengan terkekeh.


''Kamu tuh bisa nggak sih enggak merusak suasana, aku serius lho!'' ucap Agam yang merasa kesal karena momen romantisnya dikacaukan oleh orang yang sedang ia puja sendiri.


''Hahahaha...'' Ranum pun tak kuasa menahan tawanya melihat Agam yang nampak kesal.


''Aku baru sadar sekarang, kalau ternyata kamu itu punya kepribadian ganda.'' ucap Ranum dengan terkekeh.


Agam pun menuatkan kedua alisnya tanda tak mengerti.


''Ya iya, kalau lagi di kantor kamu tuh kaya manusia salju, dingin dan nggak berperikemanusiaan. Tapi kalau udah di luar kantor langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Manja pula!'' terang Ranum.


''Biarin, lagian manjanya juga cuma sama kamu.'' ucap Agam dengan mengedipkan matanya.

__ADS_1


''Dih!'' Ranum pun hanya berdecak mendengar apa yang Agam katakan.


''Ayo, turun...'' ucap Agam sambil membukakan pintu untuk Ranum.


Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya mau tak mau Ranum pun menurut pada Agam.


''Aku bisa jalan sendiri!'' ucap Ranum melepas tangannya dari genggaman Agam begitu ia turun dari mobil.


Namun Agam kembali meraih tangan itu dan tak membiarkan Ranum berjalan seorang diri. Ranum pun berjalan memasuki kantor bersama-sama dengan Agam. Dengan posesifnya sepanjang memasuki kantor, Agam menggenggam jemari lentik itu dengan begitu erat, seolah-olah tak ingin membiarkan wanita pujaanya lepas sedikit pun dari jangkauannya untuk sedetik pun.


''Lepasin, Gam!'' bisik Ranum berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar itu karena dia merasa sangat tidak nyaman mendapatkan tatapan dari orang-orang yang ia temui.


''Nggak! Kamu rileks aja dan angkat pandanganmu ke depan!'' perintah Agam dengan sedikit berbisik.


Tentu saja peristiwa pada pagi itu langsung membuat heboh seantero kantor dan menjadi sorotan orang-orang di kantor Agam. Tak sedikit dari mereka yang merasa iri pada Ranum karena berhasil memikat seorang Agam Birendra Wicaksana yang terkenal seperti es batu itu. Bahkan ada yang mengatakan jika Ranum memakai guna-guna untuk memikat bosnya tersebut. Namun, dibalik itu semua tentu ada yang ikut merasa bahagia dengan peristiwa pagi itu, siapa lagi kalau bukan Maya, sahabat Ranum. Ia merasa begitu lega dan ikut berbahagia karena Ranum telah kembali menemukan cinta sejatinya.


''Ya ampun, Num. Aku tuh sampai speechless banget pas tadi lihat Pak Agam gandeng tangan kamu.'' ucap Maya begitu mereka sudah berada di ruang kerjanya.


''Kamu cuman speechless, lah aku sampe dingin semua nih tangan. Agam tuh nyebelin, sukanya maksa!'' gerutu Ranum.


''Justru malah bagus dong, menurut pandangankun nih ya Pak Agam sengaja melakukan itu semua tuh karena mau menunjukkan sama semua orang kalau kamu adalah orang yang spesial buat dia. Trus juga seolah-olah Pak Agam tuh ingin menunjukkan pada orang-orang yang selama ini selalu rese sama kamu, buat stop macem-macem sama kamu. Stop fitnah atau nyebarin berita yang nggak bener tentang kamu. Termasuk si Tina kemarin tuh, kesel banget aku! Untung aja tuh perempuan langsung dipecat sama Pak Agam!'' ucap Maya dengan menggebu-gebu.


''Biar mereka semua tau rasa dan nggak ngawur lagi!'' imbuh Maya.


''Udah sekarang kamu tenang aja. Setelah ini dijamin semua orang akan tunduk dan hormat sama kamu!'' ucap Maya dengan terkekeh.


''Nggak gitu juga kali, May!'' jawab Ranum yang langsung menyalakan komputer di meja kerjanya.


''Sepertinya sebentar lagi aku juga harus lebih hormat sama kamu deh, Num.'' ucap Maya.


''Kenapa memangnya? Nggak usah aneh-aneh deh.''


''Lah iya kan, sebagai seorang bawahan kan harus hormat juga sama istri atasannya. Bisa-bisa aku dipecat juga nanti.'' ucap Maya dengan terkekeh.


''Tuh kan mulai ngaco deh ngomongnya! Brisik tau!'' jawab Ranum.


''Dih, diaminin kek malah kaya gitu jawabnya!'' ucap Maya.


''Udah.. udah... Kerja! Kerja!'' kata Ranum memperingatakan.


''Hahahahah...'' Maya pun hanya membalas dengan tawanya dan juga memulai pekerjaannya.


...----------------...

__ADS_1


Waktu kembali bergulir sebagaimana mestinya. Dan sore ini, Ranum telah bersiap untuk menuju kafe Yuda bersama dengan Elzein yang juga sudah siap dengan bekal mainan lego kesukaannya.


Namun, saat Ranum akan mengunci pintu rumahnya, tiba-tiba saja mobil Agam sudah terparkir di halaman rumahnya.


''Papa!'' seru Elzein yang langsung menyambut kedatangan ayahnya.


''Anak papa, udah rapi banget mau ke mana sih?'' tanya Agam yang lansung memeluk putranya itu.


''Mau nemenin mama, dong.'' jawab Elzein.


''Lho, kok kamu ke sini sekarang?'' tanya Ranum pada Agam.


''Memangnya tidak boleh kalau aku ke sini?'' tanya Agam balik.


''Ya boleh sih, tapi kan aku harus ke kafe Yuda sekarang.'' jawab Ranum.


''Sekarang banget?'' tanya Agam.


''Iya lah. Kita kan perginya besok kenapa kamu malah datang sekarang?'' tanya Ranum.


''Emm, aku antar kalian ya.'' ucap Agam.


''Hore!! Ayo papa, nanti papa temenin El ya.'' sahut Elzein senang.


''Siap, bos!'' jawab Agam dengan memberi hormat.


''Memangnya kamu nggak sibuk?'' tanya Ranum.


''Ini kan hari libur. Lagian juga aku tidak akan membiarkan calon istri dan anakku keluyuran malam-malam sendirian.'' ucap Agam.


''Siapa juga yang mau keluyuran, orang mau kerja juga!'' protes Ranum.


''Ranum, pakai ini.'' Agam memberikan jaket jeans yang sedang ia pakai lalu memakaikannya pada Ranum.


''Kenapa sih? Orang aku nggak kedinginan kok.'' protes Ranum namun tetap menerima pemberian Agam.


''Jangan memakai baju seperti itu lagi.'' ucap Agam.


''Memangnya kenapa?'' tanya Ranum dengan memperhatikan seluruh penampilannya yang menurutnya sopan dan tak ada yang salah.


''Apanya yang salah?'' ucap Ranum dengan merapikan kembali kemeja berwarna merah muda dan celana jeans yang ia kenakan.


''Pokoknya nggak boleh di lepas dan kamu harus memakai ini sampai selesai nyanyi nanti!'' perintah Agam.

__ADS_1


''Iya, iya!'' jawab Ranum dengan sedikit kesal.


__ADS_2