Kidung Renjana

Kidung Renjana
Merasa di Atas Angin


__ADS_3

Suasana di ruang kepala sekolah siang itu nampak semakin menegang dan memanas karena sikap orang tua Erik yang merasa tidak terima karena anaknya terluka akibat ulah Elzein.


''Memang benar kan? Anak ini nggak ada bapaknya! Pokoknya saya nggak terima ya, sebentar lagi suami saya akan datang kemari dan saya akan tuntut kalian semua, terutama anda!'' tunjuk bu Desi di depan wajah Ranum.


Mendengar ucapan perempuan di hadapannya itu membuat Ranum seketika menjadi naik darah, namun sebisa mungkin ia tetap menjaga amarahnya agar tetap bisa bersikap tenang. Ranum hanya bisa mengelus dadanya sendiri sambil berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


''Saya akui anak saya salah karena telah memukul anak anda, tapi tidak sepantasnya ibu berbicara seperti itu.'' sahut Ranum dengan tetap berusaha bersikap tenang.


''Bu Desi, mohon jangan berbicara seperti itu. Kami mohon Ibu Desi untuk tetap tenang ya..'' ucap ibu kepala sekolah.


''Pokoknya saya nggak terima ibu kelapa sekolah, orang ini harus tanggung jawab dan diberi hukuman yang setimpal!'' ucap bu Desi.


''Baik, bu. Kami mengerti.'' sahut ibu kepala sekolah.


''Permisi.'' sahut seorang laki-laki dari balik pintu yang lansung masuk ke dalam ruangan.


''Nah, itu suami saya datang.'' ucap bu Desi lagi dengan bangga ketika suaminya telah datang dan pasti akan membelanya.


Setelah dipersilakan masuk, suami bu Desi pun segera duduk di sebelah istrinya itu. Suami bu Desi pun semakin meluapkan amarahnya ketika melihat luka di tubuh putranya.


''Papi lihat nih anak kita kesakitan dan terluka begini.'' ucap bu Desi pada suaminya dengan memperlihatkan luka di lengan dan wajah putranya.


''Kita harus segera ke rumah sakit untuk melakukan visum dan anda harus membayar apa yang telah anak anda lakukan pada putra kesayangan saya! Anda lihat sendiri kan ini adalah luka yang cukup serius!'' ucap lelaki itu dengan amarah yang menguasainya karena mendapatkan laporan dari istrinya jika anaknya dianaiaya oleh teman sekelasnya di sekolah.


''Betul pi, orang ini harus menanggung akibat atas perbuatannya. Kita harus lapor polisi.'' sahut bu Desi.

__ADS_1


''Saya meminta maaf atas nama anak saya karena telah melukai putra ibu, tapi saya yakin pasti ada alasan lain kenapa anak saya bisa sampai melakukan itu.'' sahut Ranum.


''Alasan apa lagi, jelas-jelas anak saya sampai terluka dan ketakutan begini masih mau mengelak juga.'' ucap bu Desi merasa di atas angin karena suaminya sudah ada di dekatnya saat itu.


''Saya pasti akan bertanggung jawab atas semua yang telah anak saya lakukan pada putra bapak dan ibu. Jika perlu sekarang juga kita ke rumah sakit, saya akan tanggung semua biaya pengobatannya. Tapi, saya rasa tidak perlu sampai lapor ke polisi. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.'' ucap Ranum dengan tetap tenang.


''Benar kata bu Ranum, tidak perlu sampai lapor polisi bapak, ibu.'' ucap ibu kepala sekolah pada orang tua Erik.


''Ibu kepala sekolah, bisa kami melihat cctv yang ada di kelas Elzein?'' ucap Ranum.


''Bisa, bu.'' sahut ibu kepala sekolah.


''Nggak perlu pakai cek cctv segala, pokoknya saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum!'' teriak suami bu Desi.


''Jadi ibu kepala sekolah lebih membela anak yang nggak jelas asal usulnya ini dibandingkan dengan anak kami?'' sahut bu Desi tak terima.


Mendengar perkataan bu Desi membuat Ranum merasa benar-benar marah. Tangannya kini sudah terangkat di udara dan hampir saja mendarat sempurna di wajah perempuan bermulut pedas yang ada di depannya itu. Namun, ia masih bisa kembali mengontrol amarahnya dan kembali menurunkan tangannya.


''Tolong jaga bicara anda!'' sahut Ranum kesal karena bu Desi terus saja mengungkit asal usul putranya.


''Apa yang akan kamu lakukan? Mau menampar saya? Memang ya anak dan ibu nggak jauh beda sikapnya.'' ucap bu Desi lagi.


''Sabar ya bapak dan ibu-ibu semua, tolong untuk tidak membuat keadaan menjadi semakin gaduh, ada anak kecil di sini dan juga kita sekarang masih berada di lingkungan sekolah.'' sahut ibu kepala sekolah mengingatkan.


''Pokoknya saya nggak terima, saya akan tetap laporkan anak ini ke polisi!'' ucap bu Desi.

__ADS_1


''Memangnya kalian semua nggak tahu siapa suami saya, hah!? Suami saya ini adalah pebisinis sukses dan nomor satu di kota ini. Jadi jangan harap kalian bisa seenaknya saja pada kami.'' ucap bu Desi lagi dengan penuh percaya diri.


''Jika ibu kepala sekolah tidak memberikan sanksi pada anak ini, saya akan cabut kembali semua dana yang sudah saya berikan pada sekolah ini.'' ancam suami bu Desi.


Ranum pun semakin mengeratkan pelukannya pada putranya itu. Seolah ia sedang menyalurkan kekuatan pada Elzein dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


''Silahkan bapak dan ibu lapor polisi, tapi jika anak saya tidak terbukti bersalah saya akan laporkan balik bapak dan ibu karena telah membuat laporan palsu dan melakukan pencemaran nama baik.'' sahut Ranum.


''Kamu pikir kami takut dengan ancaman dari perempuan seperti kamu!'' ucap bu Desi sinis.


Ranum kembali menata hatinya untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidak gegabah supaya tidak ikut terbawa amarah saat menghadapi makhluk yang ada di depannya itu.


''Kenapa diam saja, takut kan!'' ucap bu Desi dengan nada yang meremehkan.


''Pi, telepon pengacara keluarga kita sekarang juga!'' ucap bu Desi pada suaminya.


''Iya, mi. Papi sudah menghubungi Pak Alex.'' sahut suami bu Desi.


Ibu kepala sekolah dan juga bu Alice tidak dapat melakukan banyak hal, mengingat suami bu Desi adalah salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah itu.


''Dengar ya bu Ranum, lain kali tolong didik anak ibu ini dengan benar agar tidak menjadi berandalan seperti ini. Masih kecil aja udah bisa bikin anak orang babak belur seperti ini, mau jadi apa dia jika besar nanti. Udah bapaknya nggak jelas, eh malah dimanjain gitu ya makin nggak bener jadinya!'' kata bu Desi dengan sinis.


Saat Ranum hendak membuka mulutnya untuk membalas perkataan bu Desi, tiba-tiba dari arah luar muncul lah sosok lelaki tampan yang masuk ke dalam ruangan kepala sekolah dengan penuh kewibawaan dan kharisma yang tinggi.


''Siapa yang berani mengatakan anak saya nggak jelas asal usulnya!''

__ADS_1


__ADS_2