Kidung Renjana

Kidung Renjana
Sebuah Benda Tanpa Mulut Namun Mampu Berbicara


__ADS_3

Suasana pagi ini terasa begitu dingin dan hawanya seperti menusuk hingga ke relung batin. Suasana pagi ini begitu sepi dan nampak sedikit muram. Angin diam, seperti tertahan oleh  suatu duka yang mendalam. Dibalut kabut dan awan kelabu yang berarak pelan. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun kemarau yang menguning kering. Begitu sunyi. Tak ada kicau burung atau kokok ayam jantan sebagaimana pagi-pagi biasanya. Bahkan tak terlihat adanya lalu-lalang para manusia yang saban hari menjalani takdir sebagai peniup terompet-terompet kehidupan. Benar-benar tidak ada.


Ranum tersenyum pahit sembari bangkit menuju jendela, berharap angin segar menyapu pori-pori wajahnya. Namun lagi-lagi yang ia dapati hanya sepotong pagi yang sunyi, dengan langit kelabu, aroma tanah kering, dan debu-debu kemarau yang hinggap di jendela.


Sama-samar, detik berdetak dari dalam jantungnya. Hingga bisa terdengar lirih suara-suara jiwa dari dalam tubuhnya.  Entah bagaimana bisa begitu, Ranum sendiri tidak tahu. Yang jelas tiba-tiba saja ia merasakan sebuah kesedihan. Seperti terlempar dalam pusaran nestapa. Air matanya meleleh pelan layaknya sungai di awal musim hujan. Dan mahluk bernama kenangan itu pun kembali datang. Dengan dera dan luka di tangannya, ia paksa aku untuk kembali menengok tahun-tahun silam yang telah berlalu itu.


''Hah!'' Ranum menghembuskan nafasnya dengan berat. Lalu mencoba melepaskan terawangannya dari masa lalu dan kembali ke dunia nyata.


''El, ayo kita berangkat sekarang, nak!'' ucap Ranum setelah menyiapkan segala perlengkapan sekolah Elzein dan juga menaruh tasnya di dalam mobil.


''Iya, mama.'' jawab Elzein segera bergegas.


...----------------...


Di sisi lain di kota itu, Agam baru saja tiba di kantornya. Setiap orang yang berpapasan dengannya tentu saja dengan sigap langsung membungkuk dan memberikan hormat kepadanya.


Pagi ini, entah mengapa Agam ingin berkeliling untuk sekedar melihat-lihat keadaan kantornya. Pada saat ia tiba di depan pintu pantry yang berada di lantai dua, tanpa sengaja ia mendengar sebuah percakapan dari beberapa karyawannya yang sedang berada di dalam sana. Beberapa karyawan itu sepertinya sedang asyik membicarakan seseorang. Namum, pada saat nama Ranum di sebut dalam percakapan itu, Agam pun langsung menajamkan pendengarannya.


''Udah lihat grup Whatsdown belum? Gila, kaget banget gue.'' ucap seseorang.


''Berarti bener ya gosip yang beredar selama ini?''


''Ya jelas bener lah, tuh udah ada buktinya kan sekarang.'' jawab Rani, salah satu bawahan Ranum.


''Masa sih mbak Ranum seperti itu, mbak Rani? Aku sih nggak percaya sama gosip nggak jelas kaya gitu.'' ucap Sapto yang ikut bergabung di pantry karena kebetulan dia kebagian shift dua pagi ini.


''Terserah mas Sapto mau percaya atau enggak.'' jawab seorang yang bernama Rani tersebut.


''Jelas-jelas udah ada bukti nyatanya kan kalau si Ranum itu simpenan om-om hidung belang.'' sahut salah seorang lagi di pantry.


''Hus... Jangan sembarangan ngomong takutnya fitnah.'' sahut seseorang lagi.

__ADS_1


Mendengar pembicaraan itu seketika Agam pun menjadi marah dan tak bisa lagi menahan amarah dalam dirinya.


''Sedang apa kalian semua di situ!'' ucap Agam secara tiba-tiba yang membuat panik semua orang yang berada di ruangan itu.


''Pak Agam!!''


''Selamat pagi, pak...'' sapa mereka dengan salah tingkah dan ketakutan karena mendadak ada sidak dari atasan mereka.


''Kembali bekerja!'' ucap Agam dan segera berlalu dari tempat itu.


''Baik, pak...'' jawab mereka serentak setelah Agam pergi.


''Kamu sih....''


''Semoga Pak Agam nggak denger apa yang kita omongin tadi, deh.''


''Udah.. pada bubar-bubar!! Buruan pada kerja!'' ucap Sapto membubarkan pembicaraan pagi itu.


Mereka pun segera membubarkan diri dan kembali ke ruang kerja masing-masing.


Ya, benar saja. Gosip mengenai Ranum yang menjadi simpanan pria hidung belang itu begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru perusahaan.


''Kenapa dia malah berbuat seperti itu! Apa kurangnya aku ini kalau dibandingkan dengan lelaki hidung belang itu. Jelas-jelas aku ini sangat tampan, kaya raya, bahkan banyak wanita yang jelas-jelas mengantre dan ingin menjadi pendamping hidupku. Tapi kenapa Ranum malah begitu.'' gerutu Agam.


''Aku harus segera bertanya langsung padanya, sebenernya apa mau perempuan itu!'' kesal Agam.


Lalu, Agam pun segera meminta Ranum untuk mememuinya di ruangannya saat itu juga.


Saat Ranum sedang berjalan menuju ruangan Agam, setiap orang yang melihat atau berpapasan dengannya langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh dan penuh dengan intimidasi. Selain itu mereka juga berbisik-bisik entah membicarakan apa di belakangnya.


''Pada kenapa sih, orang-orang!'' gumam Ranum dalam hatinya tak mengerti.

__ADS_1


''Memangnya ada yang salah ya sama penampilanku? Perasaan biasa aja deh.'' Ranum memperhatikan penampilannya dari atas kepala hingga ke ujung kakinya.


''Bodo amat lah!'' ucap Ranum yang berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan-tatapan orang-orang di kantornya.


Begitu tiba di ruangan Agam, Agam langsung bertanya pada Ranum.


''Duduk!'' perintah Agam kepada Ranum untuk duduk pada sebuah sofa yang berada di ruangannya.


''Ada apa lagi? Kalau nggak penting aku akan pergi sekarang juga. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.'' jawab Ranum ketus.


''Tidak boleh ada yang meninggalkan tempat ini tanpa seijinku.'' ucap Agam dengan menatap dalam-dalam manik mata Ranum.


Ditatap seperti itu membuat Ranum merasa begitu jengah.


''Lalu?'' tanya Ranum dengan malas.


''Katakan padaku, siapa lelaki itu! Apa kamu bermain-main lagi di belakangku?'' tanya Agam terus terang.


''Laki-laki apa sih?'' Ranum menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti.


''Katakan saja, siapa lelaki itu!'' ucap Agam dengan menatap Ranum semakin dalam.


''Kamu tuh ngomong apa sih!'' jawab Rahum benar-benar tak mengerti maksud pembicaraan Agam.


''Memangnya apa kurangnya aku sampai kamu bisa melakukan hal itu!'' sahut Agam yang sejak tadi berusaha mengontrol amarahnya agar tidak meledak dan membuat Ranum semakin menjauhinya.


''Apaan sih, Gam! Aku tuh bener-bener nggak ngerti kamu ngomong apa.'' jawab Ranum.


Dari arah luar, dengan langkah cepat tanpa permisi Hardy langsung masuk ke dalam ruangan Agam.


''Ngapain kamu ke sini!'' tanya Agam dengan ketus pada Hardy karena mengganggu waktunya dengan Ranum.

__ADS_1


''Maaf bos, tapi bos harus lihat ini!'' Hardy pun menunjukkan foto-foto yang kini telah tersebar dan menjadi bahan pergosipan karyawan di kantornya.


''Apa-apaan ini!'' ucap Agam begitu melihat foto yang ditunjukkan oleh Hardy.


__ADS_2