
Malam selalu menghadirkan cerita yang berbeda. Seperti hati yang harus terlebih dulu benar-benar patah, sebelum ia begitu yakin untuk berubah arah atau berlabuh.
Pada sepertiga malam ini, Ranum mengadukan pada Tuhannya untuk menemukan titik terang. Ia telah berpasrah dan merasa tidak ingin mendebat kehendak Tuhan. Hanya saja butuh waktu yang tak sebentar. Untuk mengetahui apakah benar dia yang ia cintai dalam lima ahun terakhir ini akan menjadi titik akhir pencarian atau justru menjadi titik balik dalam memandang kehidupan.
Sering ia mendiskusikan pada Tuhan, namun justru sering kali ia dikecewakan, seolah seperti tidak ada kuasa Tuhan dalam setiap tindakan yang ia putuskan. Tapi perasaan di hati tak kunjung padam. Tak kunjung berbalik arah. Padahal sudah sebegitunya penuh lebam.
Ranum tahu Tuhan baik. Ia tidak tidur dan mendengar seluruh doa-doanya. Orang-orang terdekatnya pernah mengatakan bisa jadi Tuhan sedang mempersiapkan jawaban yang melebihi segala harapan yang sering ia ajukan. Jauh lebih baik dari yang diidamkan. Mungkin saja itu benar. Tapi sepertinya, yang Tuhan siapkan tetap akan sama.
Ia kini telah berserah. Karena ternyata menjadi manusia tidak semenakutkan prasangka. Kecewa, terluka, jatuh, bangkit, semangat, lalu jatuh lagi sudah khatam ia lalui prosesnya. Beberapa hal yang semesta tawarkan kadang tidak terduga. Kadang sedih lebih sering bercengkrama, duka mudah bertamu tanpa ia tahu bagaimana caranya menutup pintu.
Pernah merasakan kehilangan orang-orang yang teramat penting dalam hidupnya menjadi bagian yang paling menyakitkan untuknya. Ia pernah merasakan kehilangan yang teramat dalam. Lalu, kembali merasakan ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Justru yang dicari pergi. Yang ditunggu tak kunjung datang. Sesuatu seperti dia, meski mengecewakan tapi di sisinya ada tenang yang tak bisa ia jelaskan.
Hanya saja saat ini yang menjadi pertanyaannya adalah bahagia sejati itu seperti apa? Katanya, bahagia lahir pada hal-hal kecil saat kamu bersantai memandang dunia. Merasa damai dan tentram. Hingga menghabiskan waktu bersama orang tercinta untuk selama-lamanya.
Namun, ada perasaan yang sangat perlu dipertimbangkan. Mencintai seseorang dari masa lalu diperlukan kepastian agar tidak menjadi menyesakan. Sedikit menurunka ego sepertinya memang diperlukan untuk menemukan kebahagiaan yang Tuhan janjikan. Padanya yang masih ia cintai dengan sungguh hingga kembali menjadi utuh.
...----------------...
Pagi-pagi sekali, Agam sudah berdiri di depan pintu rumah berwarna hitam legam itu. Ia menekan bel yang terpasang di sana.
''Papa!'' seru Elzein begitu membukakan pintu untuk ayahnya.
''Selamat pagi jagoan!'' sapa Agam yang langsung membawa putranya ke dalam gendongannya.
''Pagi juga papa!''
''Mama kamu dimana?'' tanya Agam dengan melihat sekitar namun tidak menemukan keberadaan wanita yang ia cari.
''Mama sedang memasak di dapur. Tadi mama bilang kalau mama lagi masak yang spesial untuk Elzein.'' jawab Elzein jujur.
''Spesialnya cuma buat El ya? Buat papa nggak ada?'' tanya Agam dengan gaya merajuknya.
''Papa ini seperti anak kecil saja, nggak dibuatin makanan aja trus ngambek.'' ucap Elzein dengan terkekeh.
__ADS_1
''Hah, kamu ini.'' ucap Agam dengan gemas.
''Sarapan sudah siap....'' seru Ranum dari arah dapur.
''Lho kok kamu ada di sini?'' tanya Ranum yang terkejut karena sepagi ini laki-laki itu sudah bersandang ke rumahnya.
''Kan kemarin aku sudah mengatakan kalau mulai hari ini aku yang akan antar jemput kalian.'' jawab Agam.
''Apa sekarang kamu juga mau merangkap menjadi sopir?'' tanya Ranum.
''Jadi sopir pun aku rela asalkan selalu bersama kalian.'' ucap Agam.
''Alah, gombal! Cowok kalau ada maunya memang begitu.'' seru Ranum.
''Hei, aku sungguh-sungguh ya!'' protes Agam.
''Terserah!'' jawab Ranum cuek.
Setelah selesai menata makanan di meja, kini mereka bertiga pun duduk dengan rapi layaknya keluarga kecil yang harmonis. Elzein duduk dengan begitu riang karena ia merasa pagi ini ia merasa sangat bahagia, sangat jarang bagi mereka bisa menghabiskan sarapan bersama.
''Memangnya kenapa?'' tanya Ranum dengan tetap mengunyah makanannya.
''Seharusnya kamu menyediakan makanan yang sehat dan bergizi untuk Elzein.'' ucap Agam.
''Apa kamu bilang? Lihatlah, di sini sudah ada nasi, nugget ayam, sosis, sayur brokoli, dan juga susu. Kurang apa lagi!'' kesal Ranum.
''Ayo El, di habiskan dulu makananmu.'' ucap Ranum dengan menaruh sepotong nugget lagi ke dalam piring Elzein.
''Iya, mama.'' jawab Elzein patuh dan dengan lahap menyantap makanannya.
''Kenapa? Kamu tidak suka makanannya?'' tanya Ranum pada Agam karena melihat Agam yang belum menyentuh sedikit pun makanannya.
''Kalau tidak mau, kembalikan makanannya. Tunggu di luar dan nggak usah ikut sarapan!'' Ranum mengambil piring yang ada di hadapannya.
__ADS_1
''Eh! Enak saja! Aku kan nggak bilang kalau nggak mau. Sini akan aku habiskan semua makanan ini.'' Agam kembali mengambil piringnya dari tangan Ranum.
Elzein pun hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya yang sedang bertengkar namun malah terlihat lucu di matanya. Ia terus saja memperhatikan interaksi-interaksi yang terjadi itu.
''Mama dan papa kaya Tom and Jerry, tau!'' sahut Elzein dengan terlekeh.
''Mama kamu itu, El. Masa papa nggak boleh ikut sarapan.'' ucap Agam mengadu.
''Papa juga sih bikin kesal mama, mama kan udah capek-capek masakin ini semua buat El. Lagian kata pak ustad nggak boleh mencela makanan, papa. Apapun itu harus selalu kita syukuri.'' ucap Elzein dengan bijak.
''Nah, betul itu!'' sahut Ranum merasa menang karena putranya lebih membelanya.
''Baiklah, maafkan papa anak jenius!'' ucap Agam dengan gemas pada putranya tersebut.
''Kalau begitu ayo cepat dihabiskan, nanti kita terlambat!'' ucap Ranum memperingatkan.
''Siap, bos!'' jawab Elzein dan Agam bersamaan.
Ranum pun merasa begitu bahagia melihat putranya yang nampak lebih antusias dari biasanya pagi ini. Ia pun kembali berpikir, terkadang dengan sedikit menekan dan menurunkan ego semua akan terasa lebih baik.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka bertiga pun kini telah bersiap-siap untuk berangkat.
''Ayo naik!'' ucap Agam dengan membukakan pintu mobilnya.
''Aku bawa mobil sendiri saja ya.'' ucap Ranum yang tiba-tiba saja merasa ragu dan tak enak hati.
''Kenapa? Bukankah kemarin kamu sudah setuju?'' tanya Agam.
''Tapi....''
''Kenapa lagi? Apa kamu belum siap?'' tanya Agam melihat keraguan di mata Ranum.
''Bukan itu, aku hanya tidak ingin orang-orang menilaiku yang tidak-tidak. Selama ini saja mereka selalu mengatakan kalau aku ini diterima kerja karena jalur orang dalam.'' ucap Ranum dan mengingat kembali gunjingan-gunjingan rekan kantornya.
__ADS_1
''Tidak usah terlalu dipikirkan dan jangan perdulikan omongan orang lain. Kamu diterima kerja di perusahaan kan memang karena kemampuan kamu sendiri. Bahkan aku sendiri pun tidak tahu kalau selama ini kamu bekerja di perusahaan papa.''
''Lagi pula tak lama lagi kita juga akan segera menikah, bukan?'' ucap Agam.