Kidung Renjana

Kidung Renjana
Batasan-batasan


__ADS_3

Menunggu. Ketika hati dirundung pilu, gelisah mulai merancu. Hati mendadak terbelenggu rindu. Menantikan kekasih yang tak kunjung temu.


Agam menutup leptopnya ketika menyadari bahwa Ranum tak kunjung tiba di ruangannya. Pikirannya mendadak berkelana kemana-mana.


''Hah!'' Agam melirik jarum jam yang melingkar di tangannya.


''Sudah sepuluh menit.'' ucapnya.


Hati dan pikiran Agam sedang berdebat hebat. Hatinya mengatakan untuk segera menyusul dan mencari Ranum, namun pikirannya berkata yang sebaliknya.


''Nggak usah dicari deh, nanti makin ke ge-er an dia.'' elak Agam menepis perasaannya.


''Tapi, kalau nggak dicariin takutnya Ranum malah kenapa-kenapa.''


''Ah, sudahlah!'' Agam segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar untuk memastikan keberadaan wanita pujaan hatinya itu. Agam memutuskan untuk menyusul dan mencari keberadaan Ranum di ruang kerjanya. Namun, saat ia akan turun dengan menaiki lift tanpa sengaja ia melihat Ranum yang sedang berdiri dengan memegang handle pintu kamar mandi di sudut lantai empat.


''Lho, itu dia orangnya. Ngapain dia malah di situ?'' gumam Agam.


Agam pun segera berjalan ke arah dimana Ranum berada. Namun, saat langkah kaki Agam semakin dekat terlihat Ranum yang nampak akan membuka pintu toilet itu.


Brak!


''Astaga! Bikin kaget aja. Hancur dah pintu toilet, untung sayang!'' gumam Agam dalam hatinya sambil memegangi dadanya karena terkejut.


Agam pun semakin mempercepat langkah kakinya. Ia mengikuti langkah Ranum dengan cepat. Namun, saat Agam akan sampai di depan pintu, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Ia mendengar percakapan antara Ranum dan ketiga perempuan yang ada di dalam toilet itu.


Agam pun segera memasang telinganya baik-baik. Agam yakin ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana. Dan saat ia mendengar ucapan salah satu perempuan di dalam sana yang tak lain adalah karyawannya sendiri, membuatnya seketika menjadi murka dan diliputi amarah. Ia pun mengepalkan jari-jari tangannya hingga nampak memucat.


Saat Agam hendak menghentikan ucapan perempuan itu, ia kembali mengurungkan niatnya masuk ke dalam toilet karena mendengar perkataan Ranum yang cukup membuat hatinya melayang bagaikan kupu-kupu yang berterbangan di awan.


''Apa jangan-jangan kamu ngerasa kalah karena Pak Agam lebih memelih aku!'' ucap Ranum dengan menekankan setiap kata di kalimatnya.


''Tapi kamu memang udah kalah sih. Karena apa?'' tanya Ranum pada perempuan di hadapannya yang mulai nampak diliputi rasa amarah.


''Karena kami saling mencintai. Asal kalian semua tahu ya, Pak Agam itu cinta mati sama aku.'' ucap Ranum dengan penuh percaya diri.


''Nggak usah halu deh lu! Perempuan murahan kaya elu nggak pantes dapetin Pak Agam! Dasar cewek murahan!'' ucap perempuan itu tak terima.


''Bodo!'' jawab Ranum dengan acuh.

__ADS_1


''Sialan!'' Perempuan itu pun nampak kesal pada Ranum, ia segera menjambak rambut Ranum dan menariknya dengan sekuat tenaga.


''Aaargh, sakit woi!'' teriak Ranum menahan sakit.


Ranum pun tak tinggal diam, ia segera meraih tangan perempuan itu dan memilinkan tangan perempuan itu hingga terjatuh terjerembab ke lantai.


''Awww!'' rintih perempuan itu kesakitan. Kedua teman perempuan itu pun tak mampu melakukan lebih. Mereka hanya berdiam di pojokan karena terlalu terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi.


''Berhenti!'' ucap suara berat dari balik pintu.


Mereka berempat pun sontak menghadap ke arah sumber suara itu. Terutama perempuan yang tadi menjambak Ranum, ia segera berakting dengan sedemikian rupa.


''Pak Agam?'' ucap mereka kompak.


''Aduh, sakit banget...'' rintih perempuan itu dengan membelai tangan dan kakinya seolah-olah mengalami cedera yang parah. Benar-benar patut diacungi jempol untuk aktingnya yang cukup menjanjikan.


Namun tentu saja, perhatian Agam tetap langsung tertuju pada wanita pujaannya itu. Melihat rambut dan pakaian Ranum yang nampak acak-acakan, Agam pun tidak dapat menutupi kekhawatirannya. Namun, ia masih tetap bersikap biasa saja.


''Apa-apaan kalian ini.'' seru Agam.


''Dia itu pak!'' ucap perempuan itu dengan menunjuk ke arah Ranum.


Mendengar itu semua Ranum pun menjadi semakin muak dan segera meninggalkan tempat itu.


''Ranum!'' panggil Agam saat melihat Ranum pergi meninggalkan tempat kejadian itu.


''Besok pagi kalian bertiga temui saya di ruangan saya!'' perintah Agam pada tiga perempuan di hadapannya itu.


Agam pun segera berlari mengejar Ranum.


''Ranum, tunggu!'' teriak Agam.


Ranum terus saja berjalan tanpa mengindahkan panggilan atasannya itu.


''Ranum!''


Meskipun Ranum terus berjalan dengan cepat, namun langkah kakinya tetap saja lebih pendek dari langkah kaki milik Agam. Dengan mudah Agam bisa segera meraih lengan milik Ranum.


''Lepasin!'' ucap Ranum mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar Agam.

__ADS_1


''Maaf, makanya jangan pergi gitu aja.'' jawab Agam dengan melepaskan tangannya.


''Kamu mau kemana? Apa kamu lupa kalau kamu harus ke ruanganku?'' tanya Agam.


Ranum pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia benar-benar merasa lelah kali ini. Namun, ia hanya bisa pasrah dan menuruti perintah atasannya tersebut.


''Bapak duluan saja, saya akan mengikuti bapak dari belakang.'' ucap Ranum pada akhirnya.


Agam pun segera berjalan terlebih dulu sesuai permintaan Ranum. Dan setibanya di ruangan Agam, Agam segera menghampiri Ranum.


''Kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?'' tanya Agam khawatir.


''Saya baik-baik saja. Ada perlu apa ya bapak memanggil saya kemari?'' ucap Ranum dengan formal seolah-olah sedang memberi batasan pada Agam.


''Ranum, ayolah jangan terlalu formal seperti ini.'' pinta Agam.


''Wajah kamu terluka, biar aku ambilkan kotak obat dulu ya.'' ucap Agam.


''Tidak usah, terima kasih atas perhatian bapak. Tapi saya bisa obati sendiri nanti.'' jawab Ranum.


''Ranum.... Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini?'' ucap Agam.


''Apa bapak lupa kita sekarang berada dimana? Ini di kantor, dan bapak adalah atasan saya. Jadi sudah sepantasnya kita tahu batasan-batasan yang harus kita lakukan sebagai seorang atasan dan juga sebagai bawahan.'' ucap Ranum.


''Diam di situ dan jangan pergi kemana-mana!'' perintah Agam.


Agam pun segera berjalan untuk mengambil kotak obat dari dalam lemari yang berada di ruangannya. Kemudian ia kembali berjalan ke arah Ranum dan membawanya untuk duduk pada sebuah sofa panjang yang berada di sana.


''Lepasin! Apa-apaan sih kamu!'' gerutu Ranum.


''Duduk di sini. Luka ini harus segera diobati jika tidak akan infeksi nanti.'' perintah Agam dengan mendudukkan Ranum di sofa.


Agam segera membuka kota obat itu dan mengambil kain kasa yang telah ia tetesi dengan obat.


''Nggak usah, aku bisa sendiri.'' elak Ranum.


''Sssttt... diamlah!''


Dengan hati-hati Agam segera meraih dagu Ranum untuk mengobati luka di pipi Ranum akibat terkena cakaran kuku milik perempuan tadi.

__ADS_1


''Tahan sedikit, ya...'' ucap Agam dengan lembut.


__ADS_2