Kidung Renjana

Kidung Renjana
Gangguan


__ADS_3

Tanpa terasa, hari terus berganti. Meninggalkan jejak waktu. Memberi jejak pada tempat yang dipijak pada banyak peristiwa yang sudah terjadi di masa silam.


Seperti saat ini, di tempat yang sama seperti kemarin pada saat waktu jam istirahat kerja yang sudah hampir habis, Agam dan asistennya sedang berada di ruangan yang dominan dengan nuansa biru tua dan putih. Sebuah ruangan yang sengaja di desain untuk menampilkan kesan yang maskulin dan dinamis.


''Ternyata buku CEO mu itu tidak mempan pada Ranum!'' ucap Agam sambil mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang juga berwarna biru tua.


''Seharusnya itu bekerja dengan baik bos, mungkin bos yang kurang berusaha dengan maksimal atau bisa juga mbak Ranum udah terlanjur sakit hati sama bos.'' jawab Hardy jujur.


''Hah, kau ini! Bukannya memberi saran malah bikin tambah kesal saja!'' kesal Agam.


''Maaf, bos.'' ucap Hardy dengan terkekeh.


''Oh ya bos, apa kita perlu mencari tahu tentang Frisca?'' tanya Hardy.


Mendengar pertanyaan Hardy, Agam hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


''Entahlah... Aku sedang pusing memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan maaf dari Ranum untuk saat ini.'' jawab Agam sambil melonggarkan ikatan dasinya.


''Tapi aku sebenarnya juga penasaran apa alasan Frisca kenapa waktu itu tidak mau bertemu denganku.'' jawab Agam.


''Apa saya perlu melakukan penyelidikan, bos?'' tanya Hardy.


''Tidak perlu. Lain kali saja, sekarang aku sedang fokus pada Ranum.'' jawab Agam.


''Baik, bos.'' jawab Hardy.


''Seharusnya bos bersyukur karena waktu itu Frisca tidak jadi datang, bayangkan saja kalau beneran Frisca yang datang mungkin bos tidak akan bertemu dengan mbak Ranum.'' ucap Hardy.


''Kamu benar....'' ucap Agam menghembuskan nafasnya berat.


''Oh iya bos, ada hal yang lebih penting lagi untuk saat ini.'' ucap Hardy.


''Apa?'' tanya Agam.


''Dua puluh menit lagi kita ada meeting dengan Pak Robert di Blue-Z.'' ucap Hardy mengingatkan.


''Hah! Kau ini, aku pikir ada masalah apa!'' kesal Agam.


''Peace bos!'' ucap Hardy sambil terkekeh.


''Kau sudah siapkan semuanya kan?'' tanya Agam.


''Semua sudah beres, bos.''

__ADS_1


''Ayo kita bersiap sekarang.'' ucap Agam.


''Baik, bos.''


Mereka berdua pun segera berangkat menuju gedung tempat akan diadakannya meeting.


...----------------...


Hari Jumat di kantor Agam bukanlah hari yang sibuk. Seperti saat ini, Ranum dan Maya telah menyelesaikan pekerjaannya tepat pada pukul setengah tiga sore. Mereka telah berkemas untuk pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba saja sebuah dering telepon di meja Ranum berbunyi dengan sangat nyaring.


Kring... kring... kring!!!


''Ya ampun, ini telepon bikin kaget aja.'' ucap Ranum sambil mengelus dadanya.


''Angkat, gih. Berisik banget.'' sahut Maya dari seberang meja.


''Nomor satu!'' jawab Ranum begitu melihat nama panggilan khusus dari petinggi perusahaan tempatnya bekerja itu.


''Ngapain dia telepon?'' ucap Ranum lagi.


''Angkat gih, siapa tau penting.'' usul Maya.


Mau tak mau Ranum pun segera mengangkat panggilan itu, ia menyadari kalau sekarang masih waktunya jam kerja jadi ia merasa harus patuh pada aturan di kantornya.


''Ada yang ingin saya bicarakan.'' jawab sosok dari balik telepon itu.


''Bicara apa ya pak?'' tanya Ranum.


''Segera ke ruanganku dan jangan banyak bertanya lagi!'' perintah Agam.


''Baik, pak.'' jawab Ranum dengan malas dan segera menutup sambungan telepon itu.


''Ciyeee... ada yang mau ngapelin gebetan nih, ye.'' goda Maya.


''Apaan sih, May!'' kesal Ranum.


''Aku ke ruangan pak Agam dulu.'' pamit Ranum.


''Hati-hati, Num. Takutnya lupa jalan pulang karena keenakan di sana.'' ucap Maya dengan terkekeh. Dan berhasil mendapat pelototan dari Ranum.


Ranum kini sedang berjalan menuju ruangan Agam, namun sebelum itu ia hendak pergi ke toilet untuk mencuci tangannya terlebih dulu. Saat ia hendak membuka pintu toilet itu, ia mendengar suara beberapa orang wanita di dalam sana. Mendengar hal itu, ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih berdiam diri di balik pintu.


''Lu tau nggak si Ranum dari divisi dua?'' ucap salah satu perempuan yang ada di dalam kamar mandi itu.

__ADS_1


''Tau, kenapa memangnya?'' tanya salah seorang yang lain lagi.


''Gue denger-denger tuh cewek berhasil diterima kerja di sini karena orang dalem.'' kata perempuan itu.


''Tapi yang gue tau, meskipun dia diterima di sini lewat orang dalem tapi sampai sekarang dia belum diangkat jadi pegawai tetap, kan?'' sahut perempuan yang satunya lagi.


''Itu mah taktik aja biar nggak terlalu mencolok!'' sahut perempuan muda yang lain lagi.


''Bayangin aja deh, dia punya anak tapi nggak ada suaminya. Apa nggak aneh?''


''Tapi dia kerjanya oke lho, aku pernah gabung sama timnya sekali dan aku akui kerjanya bagus. Dia bahkan bisa cari solusi yang bener-bener di luar pikiran kita sebagai seniornya.'' jawab perempuan itu.


''Alah, pasti udah di briefing itu mah! Mana ada junior yang kerjanya bagus.'' ucap perempuan berambut panjang sebahu itu.


''Asal kalian tahu, gue denger-denger tuh cewek sekarang lagi coba buat deketin Pak Agam. Setelah Pak Andre, sekarang dia mau deketin Pak Agam juga. Murahan banget nggak sih tuh cewek!'' ucap perempuan berambut panjang itu.


Tiba-tiba saja dari arah luar ruangan toilet,


Brak!!! Pintu kamar mandi itu terbuka dengan keras dan sontak saja tiga perempuan yang ada di dalam toilet itu pun dibuat kaget oleh kedatangan Ranum.


Ranum segera berjalan menerobos kerumunan tiga perempuan itu dengan santai.


''Permisi.'' ucap Ranum dengan tenang.


''Seru banget kayaknya, boleh ikut gabung nggak?'' ucap Ranum lagi.


Sontak saja ketiga perempuan muda itu pun langsung menutup mulut mereka.


''Kok udahan sih ngobrolnya? Padahal tadi kayaknya lagi seru-serunya deh.'' sindir Ranum.


''Ngomongin orang di depan orangnya langsung kan lebih menantang, jangan cuma berani di belakang dong. Iya, nggak?'' ucap Ranum dengan tatapan yang sulit diartikan.


''Yang aku tau, kalau orang ke toilet itu buat bersih-bersih atau buat buang kotoran. Jadi tolong ya jangan bikin tambah kotor tempat ini dengan mulut sampah kalian.'' ucap Ranum tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca besar di depannya.


''Jaga mulut lu!'' kesal perempuan itu.


''Memang bener kan apa yang gue bilang! Elu tuh cewek murahan, buktinya lu punya anak tapi nggak tau siapa bapak dari anak lu!'' ucap perempuan berambut panjang itu dengan keras.


''Dan sekarang elu sedang berusaha buat menggoda Pak Agam, dasar cewek gatel!'' imbuh perempuan berambut panjang itu lagi.


''Udah? Udah puas belum ngomongnya? Ada masalah apa sih elu sama gue? Gue kenal sama elu aja enggak, kenapa bisa sebegitu nggak sukanya sih elu sama gue!'' sahut Ranum dengan nada yang masih cukup tenang.


''Apa jangan-jangan elu ngerasa kalah karena Pak Agam lebih memelih gue!'' ucap Ranum dengan menekankan setiap kata di kalimatnya.

__ADS_1


__ADS_2