
''Siapa yang mengatakan anak saya nggak jelas asal usulnya!'' ucap seorang laki-laki tampan nan rupawan yang ikut masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
''Papa!'' seru Elzein yang langsung menghambur ke gendongan Agam.
''Papa?'' beo bu Desi dan yang lainnya begitu melihat kedatangan Agam di tempat itu.
Ya, siapa yang tak mengenali seorang Agam Birendra Wicaksana. Seorang pengusaha muda nan tampan yang terkenal akan kecerdikan dan kemampuan dalam berbisnis atau pun dalam berbagai bidang lainnya. Agam yang memang sering ikut serta dalam berbagai kegiatan sosial dan amal, ditambah ia juga sering muncul di layar kaca maupun muncul di berbagai kesempatan sebagai pembicara ataupun sekedar hadir sebagai bintang tamu. Selain itu, orang-orang juga mengenal Agam sebagai anak mantan orang nomor satu di kota itu, putra semata wayang dari Hermawan Wicaksana mantan wali kota di kota Z.
''Kenapa anda langsung menghakimi seseorang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.'' ucap Agam dengan dingin.
''Jelas-jelas anak ini yang salah!'' ucap bu Desi dengan tetap bersikeras membela anaknya.
''Pi, papi kok diem aja sih! Bantuin mami dong, pi.'' ucap bu Desi lagi karena suaminya kini malah diam membisu dan tak lagi ikut bersuara.
Sementara itu, suami bu Desi yang merasa dipanggil namanya oleh istrinya itu nampak terdiam ternganga seolah-olah tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun begitu melihat kehadiran Agam diantara mereka.
''Mi, diem dulu.'' bisik suami bu Desi pada telinga bu Desi.
''Papi apaan sih, ayo dong pi jangan cuma diem aja. Tunjukkin sama mereka kalau keluarga kita ini adalah orang terpandang dan patut disegani.'' bisik bu Desi pada suaminya namun masih dapat di dengar oleh orang di sekitarnya.
''Ssssttt!!!'' suami bu Desi sedang memberikan instruksi pada istrinya untuk tidak berbicara lagi.
''Papi, apaan sih!'' kesal bu Desi pada suaminya.
''Emm... Pak Agam, saya tidak menyangka kita akan bertemu di sini.'' ucap suami bu Desi dengan mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Agam.
Agam pun menatap dengan pandangan yang tak dapat dibaca oleh siapa pun. Lalu, Agam pun menjabat tangan suami bu Desi itu dengan cukup erat.
__ADS_1
''Untung saja kita bertemu di sini, jadi saya tidak perlu repot-repot untuk bertemu dengan Pak Andi di kantor.'' sahut Agam dengan mengangkat sebelah bibirnya.
''Eh, iya pak.'' jawab Pak Andi dengan tergagap. Tangannya kini menjadi sangat dingin dan tubuhnya mulai mengeluarkan keringat.
''Apakah kasus ini masih akan dilanjutkan ke ranah hukumi?'' tanya Agam dengan tatapan yang begitu menghunus ke arah Pak Andi.
Ranum pun sontak meraih lengan Agam, meminta untuk tidak memperpanjang lagi masalah yang terjadi, namun Agam hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya pada wanita pujaan hatinya itu seolah-olah mengatakan jika Ranum harus percaya padanya.
''Tidak.. tidak pak. Saya rasa ini hanya kesalahpahaman saja, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Maklumlah mereka masih anak kecil, jadi belum begitu mengerti.'' jawab Pak Andi dengan nada bicara yang nampak gusar.
''Papi apa-apaan sih!'' protes bu Desi pada suaminya.
''Maafkan kami pak Agam, kami terlalu gegabah dalam bertindak tanpa mencari tahu kejadian yang sebenarnya.'' ucap Pak Andi.
''Saya rasa kita semua di sini perlu melihat rekaman cctv untuk mengetahui kronologinya secara pasti.'' kata Agam dengan nada yang sangat dingin.
''Ibu kepala sekolah, silahkan tunjukkan rekaman cctv itu!'' perintah Agam.
''Saya rasa tidak perlu pak Agam, kita anggap masalah ini sudah selesai saja. Kita bisa anggap damai, bukan?'' sahut Pak Andi.
''Tidak pak Andi, kita tetap harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah tadi Pak Andi bersikeras untuk melaporkan anak saya?'' tanya Agam dengan nada yang cukup dingin.
Semua orang yang ada di tempat itu kini sedang menyaksikan rekaman cctv yang terjadi. Pada layar monitor itu menampilkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Bermula dari Erik yang terus saja mengejek dan menggoda Elzein yang sedang makan siang bersama dengan teman-temannya.
''Heh!'' ucap Erik bersama dengan teman-temannya saat mendatangi meja Elzein.
Melihat kedatangan Erik dan kawan-kawannya, Elzein mengabaikan itu dan tetap melanjutkan makan siangnya.
__ADS_1
''Elzein anak haram! Elzein anak haram!'' ejek Erik dengan nada seolah sedang bernyanyi-nyanyi.
Teman-teman Erik yang ada di kelas itu pun ikut menertawakan dan mengejek Elzein.
''Hah, cupu! Huuuuuu!'' sorak teman-teman Erik pada Elzein.
Mendengar hal itu, Elzein masih tetap diam saja sambil berusaha untuk tidak membalas perbuatan Erik. Namun lama kelamaan karena Elzein tidak meladeni ejekannya, Erik pun menjadi marah pada Elzein karena tak berhasil menggoda Elzein. Lalu, Erik mengambil botol minum milik Elzein dan menyiramnya pada makanan yang sedang Elzein makan. Sontak saja, mendapatkan perlakuan sepeti itu Elzein pun langsung berdiri dengan menggebrak mejanya. Lalu, Elzein pun langsung memukul wajah Erik dengan tangan kanannya hingga Erik jatuh tersungkur mengenai meja.
Mendengar suara keributan di kelasnya bu Alice yang sedang berjalan menuju kelasnya setelah mengambil spidol di ruang guru langsung mempercepat langkah kakinya dan segera melerai perkelahian antara Elzein dan Erik.
''Jadi seperti itu kejadian aslinya.'' ucap Agam begitu rekaman cctv itu selesai di putar.
Ranum pun kembali memeluk putranya dengan penuh kasih sayang, hatinya terasa begitu sakit mendengar anaknya dihina dan dimaki-maki seperti itu.
''Maafkan mama, sayang. Karena perbuatan mama kamu harus menanggung akibatnya.'' ucap Ranum dalam hatinya sambil mengecup lembut puncak kepala Elzein.
''Pak Agam, saya minta maaf atas kejadian ini. Sekali lagi saya sebagai ayahnya Erik meminta maaf pada pak Agam.'' sahut Pak Andi.
''Saya sudah maafkan perbuatan putra Pak Andi. Tapi saya rasa anak sekecil itu sebenarnya belum mengetahui makna kalimat yang ia ucapkan jika ia tidak mendengar atau diberi tahu oleh orang tua atau orang-orang di sekelilingnya.'' jawab Agam dengan tatapannya yang menghunus ke arah bu Desi dan juga Pak Andi.
''Maafkan kelalaian kami Pak Agam, lain kali kami akan lebih berhati-hati lagi.'' ucap Pak Andi.
''Saya rasa semua sudah jelas. Masalah saya anggap selesai. Dan setelah ini tolong ajarkan anak anda untuk berbicara yang baik.'' ucap Agam.
''Baik, pak Agam.'' jawab Pak Andi dengan ketakutan.
''Sepertinya Pak Andi juga sudah paham mengenai arah akhir kerja sama kita. Permisi.'' ucap Agam dengan berlalu membawa Elzein dan Ranum keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
''Pak Agam! Tunggu pak! Kita bisa bicarakan ini lagi!'' panggil Pak Andi yang berusaha mengejar kepergian Agam.
''Ini semua gara-gara mami! Batal sudah semua rencana papi!'' ucap Pak Andi dengan frustasi.