
Setelah memarkirkan mobilnya, Ranum segera bergegas untuk masuk ke kantornya. Saat ia sedang berjalan memasuki loby, ia bertemu dengan Hardy.
''Selamat pagi.'' sapa Ranum.
''Selamat pagi juga.'' jawab Hardy spontan tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sedang ia genggam.
Namun, seketika ia langsung menyadari satu hal.
''Lho... lho... itu kan Mbak Ranum?'' tunjuk Hardy pada Ranum yang sudah melangkah pergi mendahuluinya.
''Kok dia bisa ada di sini sekarang? Seharunya kan bos berangkat bareng mbak Ranum.''
''Jangan-jangan misinya gagal lagi? Ah, sudahlah nanti aku tanya langsung saja sama si bos.'' gumamnya lagi.
Ranum segera berjalan menuju ruang kerjanya. Begitu ia membuka pintu ruangannya, ia sangat terkejut mendapati pemandangan yang ada di hadapannya.
''Apa-apaan ini!'' ucap Ranum keheranan.
Tak berselang lama, masuklah Maya ke dalam ruangan itu juga.
''Ya ampun! Banyak banget bunganya!'' seru Maya dengan matanya yang berbinar melihat untaian bunga yang berjajar rapi di meja milik sahabatnya itu.
''Dari siapa ini?'' tanya Maya penasaran.
''Entahlah.'' jawab Ranum dengan mengangkat kedua bahunya.
''Romantis banget sih ini...'' ucap Maya sembari mengambil salah satu buket bunga mawar merah itu.
''Kurang kerjaan banget nih orang yang ngirim kaya ginian! Nggak sayang sama duitnya apa ya!'' sahut Ranum.
''Romantis tau, masa kurang kerjaan sih!'' protes Maya sambil mengagumi kecantikan buket bunga mawar yang sedang ia bawa itu.
''Eh, baca tuh. Ada pesannya di situ, siapa tau ada nama pengirimnya!'' perintah Ranum.
''Dari Yuda kali.'' jawab Ranum acuh.
''Mana mungkin Yuda bisa seromantis itu! Lagian juga kalo itu dari Yuda, nggak mungkin sebanyak ini juga kan?'' ucap Maya.
Ranum pun memilih untuk mendudukkan dirinya pada kursi kerjanya.
''Jangan-jangan dari pengagum rahasia mu kali, Num.'' ucap Maya yang langsung mendekat ke arah sahabatnya itu.
''Apaan! Mana ada pengagum rahasia segala.'' kilah Ranum.
''Sini, biar aku aja yang baca pesannya.'' Maya segera mengambil alih sebuah kertas berwarna merah muda dari genggaman Ranum.
''Dengerin nih, aku bacain!'' ucap Maya.
''E'hem!'' Maya bersiap-siap sebelum memulai membaca sebuah surat yang terselip diantara bunga-bunga itu.
Teruntuk Ranum Renjana
Engkau adalah gambaran untuk hari yang cerah.
Engkau adalah kesejatian.
Kesejatian dalam untaian kata.
Kesejatian dalam sebuah rasa.
Ranum, engkau indah lebih dari segala keindahan.
''Uh, so sweet banget sih....'' ucap Maya begitu mengakhiri pesan yang terselip diantara bunga-bunga itu.
__ADS_1
''Huft!'' Ranum pun hanya menghembuskan nafasnya kasar.
''Lumer nggak tuh! Aku aja yang baca mleyot gini.'' imbuh Maya.
''Kalau kamu mau, ambil dah itu semua bunganya!'' sahut Ranum.
''Lihat sendiri kan, kalau meja kerjaku penuh bunga kaya gini, trus aku harus gimana coba?'' ucap Ranum.
Di sisi ruangan lain masih dalam gedung yang sama, Hardy sedang mempersiapkan laporan yang akan diberikan pada atasannya itu. Hardy pun segera masuk ke dalam ruangan Agam.
''Bos, kenapa tadi pagi kalian tidak masuk ke kantor bersama-sama? Apa bos belum siap untuk go public? Atau jangan-jangan.....'' tanya Hardy.
''Diam kamu!''
''Sini mana yang harus aku tanda tangani?'' ucap Agam.
''Ini, bos.'' Hardy menyerahkan sebuah berkas pada atasannya itu.
''Emm, bos. Ada satu lagi yang harus saya sampaikan.'' ucap Hardy.
''Katakan!''
''Bunga tadi sudah diterima oleh mbak Ranum, sesuai dengan perintah bos.''
''Apa dia senang?'' tanya Agam tak sabaran.
''Sepertinya begitu, bos.'' jawab Hardy menduga-duga.
''Dan juga ada satu hal lagi, bos. Tuan besar meminta bos untuk makan malam dengan putri rekan bisnisnya Sabtu malam besok di restoran X.''
''Sampai kapan papa akan terus memaksa untuk melakukan makan malam konyol seperti itu.'' kesal Agam.
''Sampai bos berhasil menunjukkan calon istri pada tuan besar.'' jawab Hardy.
''Sabar, bos... Jangan marah-marah.'' ucap Hardy berusaha meredakan kemarahan atasannya itu.
''Katakan pada papa, kalau aku tidak mau datang.''
''Bos, mungkin jika tuan besar tahu kalau beliau sudah mempunyai cucu, mungkin tuan besar akan menghentikan kencan buta itu.'' usul Hardy.
''Tentu saja aku akan menunjukkan anakku pada tuan besar mu itu. Tapi tidak sekarang.'' jawab Agam.
...----------------...
...#FLASHBACK#...
Setiap siang hari begitu tiba saat jam istirahat sekolah Elzein, Agam dan Hardy tak pernah absen untuk selalu mengunjungi sekolah Elzein. Seperti siang ini, mereka bertiga nampak sedang duduk pada sebuah taman yang tak jauh dari halaman sekolah Elzein. Mereka bertiga nampak sedang berada dalam topik obrolan yang sangat serius.
''Sudah papa!'' Elzein menyerahkan sebuah buku kecil pada Agam.
''Kamu mengisi ini dengan benar, kan El?'' tanya Agam sambil membaca ulang buku kecil itu.
''Tentu saja!'' jawab Elzein.
''Apa papa meremehkan kemampuanku?'' tanya Elzein tak terima.
''Tidak-tidak. Papa sangat percaya pada kamu.'' jawab Agam dengan cepat.
''Selama ini El yang paling dekat dengan mama. El sangat tahu apa yang paling mama suka dan apa yang tidak mama sukai. Jadi, tidak akan ada yang salah di situ. Papa harus percaya dan menuruti semua perintah El!'' ucap Elzein.
''Hm.'' Agam pun menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Melihat atasannya yang saat ini sedang takluk pada anaknya sendiri, membuat Hardy menahan tawanya.
__ADS_1
''Biasanya suka semuanya sendiri, eh sekarang tunduk juga. Takluk sama bocah kecil hahaha.'' ucap Hardy di dalam hatinya.
''Apa kamu!'' ucap Agam sambil melototi asistennya itu.
''Enggak bos!'' jawab Hardy.
''Bos, saya juga punya ini.'' Hardy menunjukkan sebuah novel yang sudah ia siapkan sejak semalam.
''CEO Kejam Penakluk Hati Wanita Tangguh.'' eja Agam membaca judul buku yang diberikan oleh Hardy.
''Apa ini?'' ucap Agam tak mengerti.
''Novel ini sangat cocok untuk bos. Di dalam novel ini banyak trik-trik jitu untuk menaklukan hati seorang perempuan.'' jawab Hardy.
''Kamu pikir aku ini CEO kejam, apa!'' ucap Agam tak terima.
''Lah... nggak nyadar dia.'' gumam Hardy lirih dan berhasil mendapatkan balasan tatapan sengit dari Agam.
''Apa sudah ada bukti jika ini akan berhasil?'' tanya Agam.
''Tentu saja. Saya sudah membuktikannya sendiri!'' jawab Hardy.
''Memangnya kamu punya pacar?'' tanya Agam penasaran.
''Dulu banyak bos. Sebelum saya bekerja dengan bos, banyak wanita yang takluk pada saya berkat buku ini. Kalau sekarang mana ada waktu untuk mengencani wanita. Yang ada mah kencan sama berkas-berkas dong.'' ucap Hardy sambil menunjuk novel yamg tadi ia berikan pada Agam.
''Kamu ini lagi curhat atau apa!'' kesal Agam.
''Sedikit.'' jawab Hardy.
''Coba ceritakan isinya!'' perintah Agam.
Hardy pun mulai membacakan trik-trik dari novel yang ia rekomendasikan tadi.
''Aduh om Hardy, itu adalah cara kuno!'' sahut Elzein begitu Hardy selesai membacakan isi novel tersebut.
''Astaga! Benar-benar bos junior ini mah, pedes amat ngomongnya!'' ucap Hardy tak habis pikir.
''Hardy!'' seru Agam.
''Maaf-maaf bos, ayo kita lanjutkan lagi pembahasan yang tadi.'' jawab Hardy mengalihkan kekesalan Agam.
''Sampai mana kita tadi?'' ucap Agam sambil membenarkan posisi duduknya.
''Mulai beraksi, bos.'' jawab Hardy.
''Papa ini ganteng-ganteng tapi sudah pikun.'' sambung Elzein dengan terkekeh.
''Elzein, dasar bocah!'' gemas Agam dengan mengacak-acak rambut putranya itu.
''Ampun, papa!'' mohon Elzein.
Mereka kembali larut dalam obrolan panjang yang telah mereka siapkan.
''Bos, jangan lupa. Setelah dari sini, bos harus belajar memasak untuk menyiapkan makanan kesukaan mbak Ranum, bos.'' ucap Hardy.
''Benar kata om Hardy. Mulai besok papa harus memulai semua rencana kita. Jangan sampai papa terlambat dan papa harus memasak makanan itu sendiri supaya mama bisa terkesan.'' kata Elzein.
Ketiga orang pria itu pun terus saja larut dalam berbagai obrolan yang panjang sampai tiba waktunya jam istirahat Elzein berakhir.
''Papa pulang dulu ya. Jangan nakal.'' ucap Agam setelah mengantarkan Elzein ke depan kelasnya.
''Hm.'' jawab Elzein.
__ADS_1