Kidung Renjana

Kidung Renjana
Sebuah Insiden


__ADS_3

Agam menghela nafasnya dengan gusar. Berjalan menghampiri Ranum yang nampak menahan sakit karena luka di wajahnya. Ranum sempat terkejut ketika melihat sang atasan kini tengah berdiri mendekat ke arahnya.


''Duduklah..'' Agam meminta Ranum untuk duduk pada sofa yang ada di ruangannya.


Dengan hati-hati Agam segera meraih dagu Ranum dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya membawa sebuah kotak yang berisikan obat-obatan. Kemudian, ia mengamati luka di pipi Ranum yang nampak memerah dan sedikit mengeluarkan darah akibat terkena cakaran kuku milik perempuan yang tadi berkelahi dengan Ranum. Agam pun segera menuangkan obat pada kapas yang ia bawa.


''Tahan ya, mungkin ini akan sedikit perih.'' ucap Agam dengan lembut.


Ranum masih berusaha untuk mengelak dengan menjauhkan wajahnya dari Agam. Berada dengan jarak yang sedekat ini membuat Ranum merasa tidak baik-baik saja.


''Biar aku obati sendiri saja.'' ucap Ranum.


''Enggak, kamu seperti ini karena aku. Jadi aku harus mengobati luka mu ini. Udah sekarang diem dulu...'' ucap Agam.


Agam mulai menempelkan kapas yang telah diberi obat pada luka di pipi Ranum dengan sangat hati-hati. Seakan-akan dia sangat takut jika Ranum akan semakin kesakitan.


''Aw!'' ucap Ranum lirih.


''Maaf-maaf... Aku akan lebih pelan lagi.'' sahut Agam yang tak tega melihat Ranum nampak kesakitan.


Agam mengobati luka Ranum dengan sangat telaten dan penuh perasaan. Hingga tanpa mereka sadari jarak yang memisahkan mereka kini hanya sebatas sejengkal telapak tangan. Ranum bisa merasakan hembusan nafas hangat lelaki yang ada di hadapannya itu karena langsung mengenai permukaan wajahnya. Berada dengan jarak yang sedekat itu membuat wajah Ranum seketika memerah dan perasaannya mendadak menjadi tak menentu.


Ketika Ranum ingin menghentikan gerakan lelaki di hadapannya itu, terlebih dahulu Agam melakukan pergerakan yang membuat Ranum tak bisa melakukan apa-apa. Agam terus membersihkan luka di wajah Ranum dan mengobati luka tersebut dengan mengoleskan obat di atas lukanya. Ranum hanya bisa melihat wajah pria tampan itu yang nampak khusyuk mengobati lukanya. Hatinya tidak bisa bohong jika Agam adalah pria yang sangat tampan. Ranum pun segera mengalihkan pikirannya. Dengan cepat Ranum berusaha untuk melepaskan tangan Agam yang kini sedang membersihkan lukanya. Namun, usahanya malah berakhir percuma. Kini, mata mereka pun saling beradu. Saling menatap lebih dalam dan hanyut dalam buaian pandangan.


Deg! Bagaikan terhipnotis, dunia seolah-olah berhenti berputar. Dua insan yang saling larut dalam dalamnya perasaan.


''Emm, sudah selesai kan? Terima kasih sudah mengobati lukaku.'' ucap Ranum dengan salah tingkah.


''Ranum?'' ucap Agam dengan pandangan matanya yang tak lepas dari wajah cantik yang kini sedang duduk di depannya.


''Maaf...'' ucap Agam lagi dengan lirih.


''Nggak ada yang salah dan nggak ada yang harus disalahkan.'' sahut Ranum.

__ADS_1


''Maaf untuk semua yang telah terjadi.'' ucap Agam lagi.


''Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi.'' kilah Ranum.


Tanpa aba-aba Agam pun meraih tangan lentik itu dan membawanya ke dalam gengenggamnya erat.


''Beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku...'' ucap Agam dengan sungguh sungguh.


Saat Ranum hendak membuka mulutnya, tiba-tiba saja sebuah dering ponsel menggema di ponsel Ranum, sebuah panggilan dari bu Alice, guru kelas Elzein di sekolah. Ranum pun segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon itu.


''Halo?'' jawab Ranum.


''Apa! Baik bu, terima kasih. Saya segera ke sana sekarang iuga. '' jawab Ranum dengan mengakhiri panggilan itu.


''Kenapa?'' tanya Agam dengan khawatir karena melihat wajah Ranum yang nampak terkejut dan panik.


''El berkelahi dengan temannya di sekolah.'' jawab Ranum sambil beranjak dari duduknya dan hendak berjalan.


''Aku ikut!'' sahut Agam.


''Tenanglah... Semua pasti akan baik-baik saja.'' ucap Agam dari balik kemudinya untuk menenangkan Ranum yang nampak cemas.


''Elzein tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pasti ada alasan lain kenapa dia bisa sampai memukul temannya.'' ucap Ranum.


''Iya, aku tahu. Sekarang kamu tenang dulu ya...'' ucap Agam.


Kini, Ranum dan Agam telah sampai di sekolah Elzein. Karena saat mereka tiba tadi Agam mendapat telepon yang sangat penting dari rekan bisnisnya, maka Ranum pun berjalan terlebih dulu ke ruangan kepala sekolah.


''Selamat siang.'' sapa Ranum begitu memasuki ruang kepala sekolah.


''Silahkan masuk bu Ranum. '' ucap ibu kepala sekolah.


''El, kamu nggak apa-apa kan, nak?'' tanya Ranum yang langsung menghampiri putranya.

__ADS_1


''El nggak apa-apa, mama.'' jawab Elzein.


''Maaf bu, saya sedikit terlambat.'' ucap Ranum dengan sopan dan langsung duduk sambil memeluk putranya itu. Ia pun melihat seseorang lagi di dalam ruangan itu selain bu Alice dan juga ibu kepala sekolah. Perempuan yang juga sedang memeluk anak laki-laki seusia Elzein itu nampak memasang wajah amarah dan menatapnya dengan penuh dengki, seolah-olah ingin menghabisinya saat itu juga.


''Tidak apa-apa bu Ranum, silahkan duduk terlebih dulu.'' ucap ibu kepala sekolah.


''Terima kasih. Sebenarnya apa yang terjadi bu?'' tanya Ranum.


''Tolong ya, anaknya diajarin tata krama! Sembarangan aja mukul anak saya. Lihat nih, anak saya sampai terluka begini!'' maki seseorang pada Ranum.


''Ibu Desi tenang dulu ya, kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik supaya masalahnya bisa kita selesaikan dengan bijak.'' ucap ibu kepala sekolah dengan nada yang tenang.


''Tapi bu, lihat sendiri kan anak saya sampai terluka seperti ini. Pokoknya saya nggak terima!'' ucap bu Desi dengan amarahnya.


''Kami mengerti bu Desi, untuk itu saya juga meminta bu Ranum untuk datang ke sini supaya masalahnya segera dapat kita selesaikan dengan baik.'' ucap ibu kepala sekolah.


''Begini bu Ranum, saat akan pulang sekolah tadi tiba-tiba saja putra ibu dan putra bu Desi terlibat perkelahian hingga Erik terluka di wajah dan lengannya.'' jelas ibu kepala sekolah.


''Maaf kan saya bu Ranum dan bu Desi, saya lalai tidak bisa menjaga anak-anak karena tadi saya sedang mengambil spidol di ruang guru. Begitu saya kembali ke kelas, Erik sudah terjatuh di lantai.'' sahut bu Alice.


Ranum pun menganggukan kepalanya tanda mengerti. Ia ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi tanpa menghakimi putra semata wayangnya itu.


''Elzein, boleh ibu bertanya?'' tanya bu Alice pada Elzein dan mendapat sebuah anggukan kepala dari Elzein.


''Kalau bu Alice boleh tahu, kenapa tadi Elzein memukul Erik?'' tanya bu Alice dengan lembut.


Hening, tidak ada jawaban. Elzein pun nampak mengunci mulutnya rapat-rapat.


''El, katakan saja. Mama tidak akan marah kok.'' sahut Ranum dengan lembut karena Elzein tidak mau menjawab pertanyaan dari bu Alice.


''Makanya anaknya diajarin sopan santun dong! Udah tau anak nggak ada bapaknya, masih aja dimanjain! Ya gitu deh jadinya!'' ucap perempuan itu dengan mulutnya yang pedas.


''Jaga bicara ibu!'' ucap Ranum tak terima.

__ADS_1


''Memang benar kan? Anak ini nggak ada bapaknya! Pokoknya saya nggak terima ya, sebentar lagi suami saya akan datang kemari dan saya akan tuntut kalian semua, terutama anda!'' tunjuk bu Desi di depan wajah Ranum.


__ADS_2