Kidung Renjana

Kidung Renjana
Tujuh Hari Lagi


__ADS_3

Agam segera mencari keberadaan Ranum di kafe milik Yuda. Setelah bertanya pada salah satu pelayan di sana, Agam pun segera menuju lantai atas untuk menunggu Ranum yang ternyata sedang berada di ruangan Yuda.


Ceklek! Terdengar suara pintu terbuka dari arah dalam.


Mendengar suara itu, Agam pun langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan melihat ke arah pintu itu.


''Ngapain kamu di sini?'' tanya Ranum yang nampak terkejut karena melihat Agam telah berada di sana.


''Nungguin kamu.'' jawab Agam.


Mendengar jawaban Agam, Ranum pun kembali melangkahkan kakinya dan berjalan menuruni tangga.


''Hei, kok malah ditinggalin!'' seru Agam sambil mengikuti langkah Ranum yang berjalan menuju mobilnya.


''Kamu mau kemana?'' ucap Agam sambil menahan pintu mobil wanitanya itu.


''Balik ke kantor lah, kemana lagi.'' jawab Ranum ketus.


''Ikut aku!'' ajak Agam yang mengambil alih kunci mobil Ranum.


''Kamu apa-apaan, sih!'' protes Ranum dengan berusaha meraih kunci mobilnya kembali.


''Udah, ayo ikut aja...''ajak Agam dengan setengah memaksa.


''Tapi mobilnya?'' sahut Ranum.


''Biar nanti anak buahku yang mengurusnya.'' jawab Agam sambil terus menggandeng tangan Ranum untuk menuju mobilnya.


Mau tak mau akhirnya Ranum pun mengikuti perintah dan pasrah saja kemana lelaki itu akan membawanya.


''Kenapa diam saja?'' tanya Agam.


''Kesel!'' jawab Ranum dengan memanyunkan bibirnya.


''Gemesin tau kalau lagi ngambek gitu.'' ucap Agam dengan terkekeh.


''Bodo!'' jawab Ranum acuh.


''Tenang aja, aku nggak bakalan nyulik kamu kok palingan cuma aku bawa ke KUA aja.'' ucap Agam lagi.


''Terserah!''


Agam pun semakin dibuat terkekeh melihat tingkah calon istrinya yang sedang merajuk itu.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat yang akan mereka kunjungi, Agam telah menceritakan semua yang terjadi kepada Ranum.


''Kasihan ya Frisca, dia pasti sangat sedih dan terluka dengan semua cobaan yang ia alami.'' ucap Ranum ikut merasa iba begitu mendengar cerita dari Agam tentang Frisca.


''Kamu nggak marah lagi kan?'' tanya Agam dengan sebelah tangannya yang terus menggenggam erat jemari Ranum.


''Enggak kok.'' jawab Ranum.

__ADS_1


''Syukurlah...'' ucap Agam merasa lega.


''Jika aku berniat untuk membantunya, kamu jangan salah paham lagi ya. Aku tidak ingin kamu berpikir yang bukan-bukan dan malah menjadi salah paham.'' ucap Agam.


''Iya, aku mengerti kok.'' jawab Ranum.


''Benar-benar calon istri idaman.'' ucap Agam dengan senyumnya yang menawan.


''Ini kita mau kemana sih?'' tanya Ranum sambil melihat keadaan di luar.


''Nanti kamu juga akan tau.'' jawab Agam sambil tersenyum.


''Nyebelinnya kumat!'' kesal Ranum karena Agam selalu membuatnya penasaran.


''Sabar dong sayang, nanti kamu juga akan tau kok.'' ucap Agam dengan terkekeh.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, kini mereka telah sampai di sebuah butik yang cukup terkenal di kota itu.


''Lho, kok kita kesini?'' tanya Ranum begitu Agam membelokkan mobilnya menuju sebuah butik yang kental dengan ornamen eropa tersebut.


''Fitting baju.'' jawab Agam.


''Oh....'' jawab Ranum sambil mengamati desain butik itu yang begitu menawan.


''Ayo kita masuk ke dalam.'' ajak Agam sambil menggenggam erat jemari tangan calon istrinya tersebut.


Begitu mereka sampai di dalam, Agam dan Ranum langsung disambut hangat oleh sang empunya butik.


''Mari nona Ranum, silahkan masuk ke dalam.'' ucap sang asisten yang membantu Ranum untuk mencoba gaunnya.


Setelah mencoba beberapa gaun, Ranum merasa jika semua yang ia kenakan terlalu mewah dan kurang sesuai dengan keinginannya.


Lalu, kali ini sang desainer pun memilihkan sebuah gaun dengan potongan mermaid yang cukup simple.


''Kalau yang ini bagaimana?'' tanya sang desainer tersebut.


''Jangan, itu terlalu terbuka!'' sahut Agam dengan mode posesifnya.


''Terus aku harus pakai yang mana?'' tanya Ranum.


''Bagaiamna kalau yang ini?'' tunjuk mbak Dina, sang desainer pada sebuah gaun yang berwarna hijau mint itu.


''Oke, aku akan mencobanya. Kamu tunggu di situ!'' ucap Ranum pada Agam yang akan mengikutinya masuk ke dalam ruang ganti.


''Iya.. Iya!'' jawab Agam pasrah dan kembali duduk di kursinya.


Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga sepuluh menit berlalu namun Ranum belum juga keluar dari ruang ganti itu.


''Ranum!'' panggil Agam yang mulai tak sabaran.


''Sebentar!'' jawab Ranum dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


''Kenapa dia lama sekali? Jangan-jangan dia kenapa-kenapa?'' gumam Agam dengan cemas.


Lalu, dengan cepat Agam pun segera masuk ke dalam ruang ganti itu tanpa permisi.


''Aw!'' teriak Ranum.


''Ngapain kami ke sini, aku belum selesai berganti baju!'' protes Ranum yang terkejut melihat keberadaan Agam yang tiba-tiba saja nyelenong masuk ke dalam ruang ganti itu.


''Sory... Sory... Aku pikir kamu kenapa-kenapa, makanya aku susul ke sini.'' jawab Agam dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia benar-benar dibuat terpukau dengan penampilan Ranum kali ini.


Sang asisten yang membantu Ranum pun tak dapat menyembunyikan tawanya melihat tingkah posesif yang Agam tunjukkan.


''Keluar sana!'' usir Ranum.


''Kenapa harus ditutupi, bukankah aku sudah pernah melihatnya?'' ucap Agam yang otomatis langsung mendapatkan sebuah lemparan sepatu dari Ranum.


''Dasar mesum!'' kesal Ranum yang langsung menutupi tubuhnya dengan kain berwarna hijau mint itu.


Agam pun hanya tertawa melihat Ranum yang nampak kesal sementara sebelah tangannya berhasil menangkap lemparan sepatu itu.


''Ganti! Ganti!'' perintah Agam setelah melihat gaun yang Ranum kenakan.


''Kenapa lagi sih?'' protes Ranum yang sudah tiga kali mengganti gaun karena tidak sesuai dengan keinginan Agam.


''Itu terlalu seksi, aku tidak ingin ada orang lain yang melihatnya!'' ucap Agam.


''Dasar!'' jawab Ranum.


''Mbak, ada nggak gaun yang nggak terlalu seksi di sini?'' tanya Agam pada Mbak Dina, sang desainer.


''Ada sih, tapi udah sold semua.'' jawab Mbak Dina.


''Bagaimana kalau aku buatkan saja? Masih ada waktu sekitar tiga minggu sebelum hari H, kan?'' tanya mbak Dina.


''Setuju. Tolong buatkan gaun yang sesuai untuk calon istriku ini, mbak. Ingat ya jangan buat gaun yang terlalu seksi dan terbuka!'' perintah Agam.


''Oke, aku mengerti.'' jawab mbak Dina.


''Oiya, untuk waktunya tinggal satu minggu lagi.'' ucap Agam mengoreksi ucapan dari Mbak Dina.


''Apa? Satu minggu lagi?'' tanya Ranum dengan terkejut.


''Iya, sayang. Satu minggu lagi kita akan resmi menikah.'' jawab Agam dengan senyumnya yang tak pernah pudar dari wajah tampannya.


''Kok kamu nggak bilang sih kalau dimajuin tanggalnya?'' protes Ranum.


''Kenapa memangnya? Terlalu lama ya? Atau kamu mau besok pagi aja kita nikahnya?'' goda Agam.


''Kamu, ih... Nggak gitu juga dong konsepnya!'' ucap Ranum dengan mencubit lengan kekar lelakinya itu.


''Aw, sakit sayang!'' ucap Agam dengan terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2