Kidung Renjana

Kidung Renjana
Mengabadikan Peristiwa


__ADS_3

Jalanan kota siang ini nampak lebih sedikit ramai dari biasanya meskipun hari ini bukan merupakan akhir pekan. Agam bersama dengan Ranum dan juga Elzein baru saja menyelesaikan makan siang mereka di sebuah restoran favorit Elzein.


''Kita mau kemana lagi papa?'' tanya Elzein yang masih nampak bersemangat untuk berkeliling kota.


''Emm.. Kita akan pergi ke suatu tempat.'' jawab Agam sambil terus fokus pada laju kendaraannya.


''Mau kemana lagi? Kamu nggak balik ke kantor? Sekarang udah jam dua lho.'' sahut Ranum sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


''Enggak sayang, hari ini aku ingin menghabiskan waktuku bersama kalian. Di kantor pekerjaan juga sedang tidak terlalu banyak dan udah ada Hardy yang mampu menangani semuanya.'' jawab Agam.


''Kasian juga ya jadi Hardy.'' celetuk Ranum.


''Kok kasian? Kan memang sudah menjadi tugasnya.'' sahut Agam.


''Iya.. Iya.. Nggak usah ngegas gituh juga dong jawabnya.'' ucap Ranum dengan terkekeh.


''Tuh lihat, kita udah sampai.'' ucap Agam begitu mereka tiba di sebuah studio foto yang cukup terkenal di kota itu.


''Kita mau ngapain lagi ke sini? Foto untuk pernikahannya kan udah kemarin.'' ucap Ranum.


''Hari ini kita mau foto prewedding, sayang. Kita kan belum punya foto bersama.'' ucap Agam.


''Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Tau gitu kan aku bisa bersiap-siap dulu.'' protes Ranum.


''Kamu tenang aja, semua sudah aku siapkan. Kita tinggal masuk saja ke dalam.'' ucap Agam dengan senyumnya yang khas dan menawan.


Begitu tiba di studio foto itu, mereka pun segera bersiap-siap untuk melakukan pemotretan untuk sesi foto prewedding. Diam-diam tanpa sepengetahuan Ranum, Agam telah mempersiapkan segalanya termasuk sesi foto kali ini. Agam sengaja memilih konsep yang simpel namun tetap menonjolkan kesan mahal dan kasual sesuai dengan karakter mereka bertiga.


''Anak mama ganteng banget sih...'' ucap Ranum yang begitu gemas melihat putranya yang kini telah berganti baju dengan setelan jas berwarna khaki itu.


''Iya dong, mama. Mama juga cantik sekali pakai gaun ini.'' puji Elzein.


''Sini dong sayang, peluk mama.'' ucap Ranum dengan merengangkan kedua tangannya.


Elzein pun segera menghampiri mamanya itu dan memeluknya dengan begitu erat.


''Anaknya ganteng banget ya mbak, lucu..'' ucap MUA yang bertugas merias wajah Ranum.


''Bibit unggul sih ya, mama dan papanya aja cakep gini.'' imbuhnya lagi.


Ranum pun hanya membalas dengan sebuah senyuman atas pujian dari sang MUA tersebut.


''Aku nggak nyangka lho mbak, kalau mbak ini udah punya anak. Soalnya body nya masih kaya ABG gitu lho, masih aduhai..'' ucap MUA itu dengan terkekeh.


''Masa sih?'' ucap Ranum.


''Iya mbak, semuanya pas dibagian yang perlu.'' ucap MUA itu lagi dengan terkekeh.

__ADS_1


''Bisa aja deh kamu.'' ucap Ranum yang ikut tertawa mendengar ucapan sang juru rias.


''Ceritanya dulu nabung dulu sebelum nikah ya mbak?'' tanyanya lagi.


''Kesalahan yang berbuah manis.'' ucap Ranum dengan terkekeh.


''Tapi anak mbak Ranum emang ganteng dan gemesin banget sih. Nggak rugi lah..'' ucapnya.


''Hahaha.. Iya. Tapi tidak untuk ditiru ya.'' ucap Ranum dengan terkekeh.


''Si mbak bisa aja.'' sahut sang MUA.


Setelah beberapa saat, akhirnya Ranum telah selesai dirias. Ia pun segera berganti dengan sebuah gaun berwarna broken white yang menjuntai panjang dibagian belakangnya.


''Papa dimana sayang? Belum selesai ya?'' tanya Ranum pada putranya.


''Papa masih telfonan sama om Hardy, ma.'' jawab Elzein.


Bak memiliki ikatan telepati yang kuat, pintu ruang rias itu pun langsung terbuka dan menampilkan sosok Agam yang juga sudah berganti pakaian lengkap dengan setelan jas berwarna khaki senada dengan setelan jas yang dipakai oleh Elzein.


''Nah itu dia papa!'' seru Elzein begitu melihat kedatangan Agam di ruangan itu.


Untuk sepersekian detik, Agam dibuat tercengang melihat kecantikan calon istrinya tersebut. Pandangannya tidak bisa terlepas saat melihat sosok wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya itu. Ranum tampil cantik dan begitu menawan mengenakan gaun yang sangat pas dengan tubuh indahnya. Riasan yang ia kenakan pun nampak natural dan tidak berlebihan. Sempurna.


''Ya Tuhan, cantik sekali calon istriku. Jadi makin nggak sabar.'' ucap Agam dalam hatinya.


''Papa! Kenapa papa diam saja!'' seru Elzein sambil menarik-narik tangan papanya itu.


''Kamu kenapa sih ngeliatin akunya kaya gitu?'' tanya Ranum.


''Ada yang aneh ya? Aku jelek ya? Aku ganti baju yang lain aja deh kalau gitu.''


''Eh, jangan!'' sergah Agam.


''Kamu cantik... Sangat cantik!'' puji Agam dengan pandangannya yang terus menatap lekat wanitanya itu.


''Benarkah?'' senyum di wajah Ranum pun langsung mengembang mendengar pujian dari calon suaminya.


''Iya! Kamu benar-benar cantik.'' ucap Agam lagi.


''Makasih.'' jawab Ranum dengan wajahnya yang nampak memerah karena merasa malu.


Setelah beberapa saat, Agam menarik sedikit sudut bibirnya, lalu berkata,


''Kamu kenapa diam begitu?''


''Apa aku sebegitu menariknya sampai kamu terpana dan tidak berkedip saat melihatku?'' ucap Agam yang menyadari jika wanita yang ada di hadapannya itu juga tengah mengagumi dirinya.

__ADS_1


''Mulai deh narsisnya!'' jawab Ranum.


''Apa susahnya sih ngakuin kalau aku ini ganteng!'' ucap Agam dengan terkekeh.


''Ehem!''


''Kenapa papa dan mama berkata seperti itu terus? Apa mama dan papa lupa kalau ada aku, ada anak kalian di sini?'' ucap Elzein dengan cemberut karena merasa diabaikan.


''Hahahah... Maaf sayang.'' ucap Ranum.


''Wah... anak papa sangat tampan sekali, persis seperti papanya!'' ucap Agam yang langsung membawa putranya ke dalam gendongannya.


''Nah gitu dong, jangan mama terus yang dipuji.'' ucap Elzein.


''Kamu ini.'' sahut Ranum dengan gemas.


Tiba-tiba saja sang fotografer datang menghampiri, sehingga memecah perdebatan kecil diantara mereka bertiga.


''Maaf tuan dan nyonya, apa semua sudah siap?'' tanya fotografer itu.


''Sudah!'' jawab Agam dengan antusias.


''Kalau begitu, mari ikuti saya.'' pinta sang fotografer tersebut.


Agam pun segera meriah telapak tangan Ranum dan menggandengnya, sementara Elzein masih tetap berada di dalam gendongannya. Mereka berjalan mengikuti langkah sang fotografer memasuki salah satu studio tempat mereka akan melangsungkan pemotretan bertema kasual dan modern itu.


Sang juru kamera mulai melakukan tugasnya dengan baik dibantu oleh para pengarah gaya yang mulai membimbing mereka untuk melakukan berbagai gaya di depan kamera. Sehingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukan sesi pemotretan itu.


''Wah, hasil fotonya bagus-bagus semua nih padahal belum diedit.'' ucap sang fotografer saat menunjukkan beberapa hasil fotonya pada Agam dan juga Ranum.


''Itu semua karena memang modelnya yang fotogenik jadi setiap gaya apapun selalu nampak bagus hasil fotonya.'' sahut sang pengarah gaya.


''Wah, terima kasih.'' jawab Ranum dengan senyumnya yang memang menawan.


Setelah beberapa saat, sesi pemotretan pun berakhir. Mereka bertiga segera mengganti kembali pakaiannya dengan baju yang sebelumnya mereka kenakan.


''Apa kalian lelah?'' tanya Agam.


''Enggak papa, tadi itu sangat seru!'' jawab Elzein.


''Apa kalian bahagia?'' tanya Agam lagi.


''Iya papa!'' jawab Ranum dan juga Elzein secara bersamaan.


''Syukurlah... Untuk saat ini, kita fotonya di dalam studio dulu ya karena waktunya mepet. Setelah kita menikah nanti, kalian bebas mau pilih di negara mana saja kita akan melalukan pemotretan.'' ucap Agam.


''Iya, dimana pun itu asalkan kita selalu bersama-sama pasti hasilnya akan tetap bagus.'' jawab Ranum dengan memeluk lengan calon suaminya tersebut.

__ADS_1


Ada bonus nih untuk kalian semua, secuil pemotretan dari keluarga kecil Wicaksana 😊



__ADS_2