
Selepas melakukan fitting baju untuk pernikahan mereka, kini Agam dan Ranum telah berada di sebuah restoran untuk makan siang.
''Laper banget ya, lahap banget makannya?'' tanya Agam yang gemas melihat Ranum karena begitu lahap menyantap makanannya.
''Banget!'' sahut Ranum dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
''Pelan-pelan sayang makannya, nggak akan aku minta kok.'' ucap Agam dengan begitu gemas.
''Hm.''
Setelah menghabiskan makanannya, kini Ranum dan Agam pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.
''Sayang, setelah kita menikah nanti apa kamu masih ingin bekerja di kantor?'' tanya Agam dengan begitu hati-hati.
''Kalau menurut kamu gimana?'' tanya Ranum yang langsung meneguk kembali minumannya.
''Sebenarnya aku terserah kamu saja. Seandainya kamu masih ingin tetap bekerja, kamu hanya harus lebih ekstra lagi dalam mengatur waktu. Kamu harus bisa membagi waktumu antara keluarga dan juga pekerjaan.'' ucap Agam.
''Iya, kamu benar. Selama ini waktuku untuk El pun bisa dibilang sangat terbatas karena harus bekerja.'' jawab Ranum dengan menghembuskan nafasnya perlahan.
''Seandainya aku meminta kamu untuk berhenti bekerja apa kamu mau?'' tanya Agam kembali dengan hati-hati.
Ranum sedikit tertegun mendengar pertanyaan dari Agam itu, meskipun sebelumnya ia juga sudah menduga jika Agam pasti akan bertanya tentang hal itu.
''Apa itu akan membuatmu senang?'' tanya Ranum dan menatap lekat calon suaminya tersebut.
''Sebenarnya ini bukanlah pilihan antara senang atau tidak senang. Tapi harus ada kesepakatan diantara kita. Aku tidak ingin setelah kita menikah nanti, hal ini akan menjadi masalah nantinya.'' jawab Agam.
''Lagi pula seorang perempuan atau istri memang berhak untuk berkarir dan aku sebagai calon suami kamu, aku tidak ingin membatasi mengenai hal itu. Sebagai seorang suami, sudah menjadi tugas dan kewajiban ku untuk bekerja dan menafkahi kalian.'' ucap Agam lagi.
''Iya, kamu benar. Aku juga udah memikirkan tentang hal ini akhir-akhir ini.'' jawab Ranum.
''Ranum sayang, kodratmu sebagai seorang istri itu hanya ada tiga. Hamil, melahirkan, dan menyusui. Selain dari ketiga hal itu adalah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai seorang suami dan istri.'' ucap Agam dengan sedikit menjeda kalimatnya.
''Banyak waktu yang sudah aku buang sia-sia selama ini. Dan aku yang seharusnya menjadi pelindung dan menjadi penopang untuk kamu dan juga Elzein, malah nggak pernah ada. Aku juga tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai seorang ayah untuk Elzein selama ini.'' ucap Agam dengan menundukkan kepalanya.
Ranum pun segera meraih dan merengkuh tangan kekar itu.
''Aku minta maaf...'' ucap Agam dengan nada yang sedikit bergetar.
__ADS_1
''Agam, sudahlah. Sudah berulang kali aku katakan padamu, semua itu sudah berlalu. Jangan di ungkit-ungkit lagi ya, semua yang udah terjadi diantara kita biarlah berlalu, cukup jadikan pelajaran untuk hubungan kita ke dapan.'' ucap Ranum dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Agam.
''Terima kasih sayang, terima kasih...'' ucap Agam dengan tulus. Ia kecup dengan lembut jemari lentik itu dengan penuh kasih sayang.
''Iya, sama-sama.'' jawab Ranum dengan senyumnya yang selalu nampak menawan di mata Agam.
''Mulai hari ini, ijinkan aku untuk menjadi sayap pelindung untukmu. Ijinkan aku untuk menjadi ayah yang sesungguhnya untuk Elzein.'' mohon Agam dengan tulus.
''Iya...'' jawab Ranum dengan menitikkan air matanya, haru.
''Terima kasih, Ranum. Aku sangat mencintaimu.'' ucap Agam yang langsung membawa wanitanya itu ke dalam pelukannya.
...----------------...
Detik jarum jam terus berputar mengitari porosnya. Tanpa terasa, hanya tinggal hitungan hari saja sebelum menuju hari dimana pernikahan antara Agam dan Ranum akan dilangsungkan.
Dan pada malam hari ini, Ranum dan Elzein sedang berada di rumah Pak Hermawan untuk makan malam bersama.
''Bagaimana persiapan pernikahan kalian?'' tanya Pak Hermawan setelah sesi makan malam keluarga itu berakhir.
''Sudah sembilan puluh lima persen, pa. Tinggal menunggu prosesi hari H saja.'' jawab Agam.
''Papa tenang saja, serahkan semua padaku. Sebenarnya ijab kabulnya ingin ku majukan saja biar bisa segera seratus persen.'' ucap Agam dengan santainya.
''Kamu, ih bercanda mulu...'' protes Ranum.
''Lebih cepat lebih baik, sayang.'' ucap Agam dengan menggoda calon istrinya itu.
''Dasar kamu ini, sabar sedikit!'' sahut Pak Hermawan.
''Kan aku hanya berandai-andai.'' jawab Agam dengan terkekeh.
''Seharusnya kalian ini di pingit, malah pacaran terus!'' ucap Pak Hermawan.
''Udah nggak jaman pingit-pingitan, pa!'' protes Agam.
''Siapa bilang nggak jaman!'' ucap Pak Hermawan.
''Memangnya dipingit itu apa opa?'' sahut Elzein ikut menimpali pembicaraan antara orang dewasa itu.
__ADS_1
''Anak kecil jangan kepo ya.'' ucap Agam menggoda putranya tersebut.
''Papa diem dulu, El lagi tanya sama opa bukan bertanya sama papa.'' kesal Elzein.
''Kamu nih, orang anaknya pengen tau kok malah gitu sih.'' ucap Ranum pada Agam.
''Iya.. iya, maaf sayang...'' ucap Agam dengan terkekeh.
''Opa, pingit itu apa?'' tanya Elzein lagi pada kakeknya.
''Pingit itu merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan oleh calon pengantin berdarah Jawa menjelang hari pernikahannya, sayang. Pingitan ini menjadi sebuah proses di mana calon pengantin wanita tidak diperkenankan untuk bepergian ke luar rumah, termasuk menemui calon suaminya sendiri dalam kurun waktu tertentu.'' jawab Pak Hermawan berusaha menjelaskan.
''Jadi mama nggak boleh pergi-pergi ya opa? Tapi sekarang mama lagi di rumah opa. Oh, El tahu!'' seru Elzein.
''Tahu apa?'' sahut Agam.
''Kalau mama nggak boleh pergi-pergi, berarti maksud opa adalah opa nyuruh mama dan Elzein pulang dari sini ya? Opa ngusir mama?'' tanya Agam dengan polosnya.
''Hah?'' ucap Agam terkejut.
''Bukan! Bukan begitu maksud opa. Maksud opa itu seharusnya papa kamu nggak boleh nemuin mama kamu dulu sebelum mereka berdua resmi menikah.'' ucap Pak Hermawan.
''Opa gimana sih? Tadi katanya dipingit itu nggak boleh keluar dadi rumah. Mama kan sekarang lagi ada di luar rumah, jadi mama harus segera pulang dong sekarang.'' ucap Elzein dengan mempertahankan pendapatnya.
''Iya, benar. Tapi, opa nggak ngusir mama kamu, nak.'' sahut Pak Hermawan.
''Opa gimana sih? Nggak konsisten deh ngomongnya!'' ucap Elzein.
''Nah, kan jadi bingung sendiri.'' ucap Agam kembali terkekeh melihat perdebatan antara dua lelaki berbeda generasi di depannya itu.
''Udah... udah..'' potong Ranum berusaha menengahi.
''El, segera habiskan susunya, sayang.'' imbuh Ranum.
''Tapi, ma? Opa belum jawab pertanyaan El.'' ucap Elzein yang masih terus berusaha mempertahankan pendapatnya.
''Sssttt... Habiskan dulu susunya, baru boleh bertanya lagi.'' ucap Ranum.
''Iya, mama...'' jawab Elzein dengan patuh.
__ADS_1
''Benar-benar cucu opa ternyata!'' sahut Pak Hermawan dengan bangganya.