
Baru sampai di teras rumah itu, Elzein langsung dibuat terpukau begitu melihat rumah mewah yang kini ada di hadapannya itu. Rumah dengan desain interior modern dengan nuansa putih yang dipadukan dengan nuansa abu-abu itu nampak begitu apik dan estetik. Begitu pula dengan Ranum, ia juga begitu terpukau saat melihat rumah Agam. Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya untuk bisa menginjakkan kaki dan berada di tempat itu. Bahkan untuk membayangkannya pun ia rasa tak berhak. Bukan, bukan karena kekayaan yang Agam miliki, namun karena kisah di masa lalunya. Dan pada detik ini ia benar-benar telah menginjakkan kakinya di rumah Agam, bahkan ia akan segera diperkenalkan sebagai calon istri pada sang empunya istana.
''Agam?'' panggil Ranum sambil menarik lengan Agam.
Agam pun menghentikan kakinya lalu menoleh pada Ranum.
''Percaya padaku!'' ucap Agam kembali meyakinkan wanita di hadapannya tersebut yang nampak sedikit pucat.
''Tapi?'' ucap Ranum penuh dengan karaguan.
''Hei dengar, semua akan baik-baik saja.'' ucap Agam.
''Mama jangan takut! Kalau opa sampai jahatin mama, El yang akan maju duluan dan melindungi mama.'' sahut Elzein dengan penuh keberanian.
''Nah, denger sendiri kan apa kata anak kita? Ada aku dan juga El yang akan melindungi kamu.'' sahut Agam.
Ranum pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.
''Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam.'' ucap Agam sambil menggandeng Ranum dan juga Elzein lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Begitu memasuki rumah, lagi-lagi Elzein semakin dibuat takjub dan terpukau saat melihat interior di rumah itu.
''Wah, rumah papa bagus sekali! Seperti istana yang sangat besar!'' seru Elzein dengan penuh kekaguman.
''Apa kamu suka? Mulai sekarang ini juga akan menjadi rumah kamu. Trus juga akan jadi rumah mama kamu juga.'' ucap Agam pada Elzein.
''Benarkah?'' tanya Elzein dengan penuh semangat.
''Tentu saja! Apa El mau tinggal di sini bersama papa?'' ucap Agam.
''El mau papa! Tapi harus sama mama juga!'' sahut Elzein.
''Agam, jangan berbicara seperti itu.'' ucap Ranum.
''Kenapa? Memangnya ada yang salah? Setelah kita resmi menikah nanti aku akan segera memboyong kalian tinggal di sini. Atau kalian mau rumah baru, nanti akan aku siapkan.'' sahut Agam.
''Memangnya aku mau menikah sama kamu? Dasar narsis.'' goda Ranum.
__ADS_1
''Harus mau dong! Kalau kamu nggak mau akan tetap maksa kamu sampai mau menikah denganku!'' ucap Agam dengan terkekeh.
''Dasar!'' ucap Ranum sambil mencubit lengan Agam.
''Aw! Sakit! Kamu nih KDRT tau!'' ucap Agam.
''Apaan sih, lebay deh orang nyubitnya juga cuma pelan kok.'' kata Ranum.
''Tapi sakit!'' sahut Agam.
''KDRT itu apa pa?'' sahut Elzein.
''KDRT itu....'' ucap Agam sebelum perkataannya dipotong oleh Ranum.
''Udah! Udah! Jangan pada berisik.'' sahut Ranum yang takut kalau Agam menjelaskan yang tidak-tidak pada putranya.
Di sepanjang memasuki rumahnya, Agam memang sengaja terus menggoda dan mengajak Ranum berbicara karena ia tahu kalau saat ini Ranum pasti sedang diliputi perasaan gugup dan cemas. Sebisa mungkin Agam menciptakan suasana yang nyaman untuk anak dan calon istrinya tersebut.
''Nah, itu dia papa!'' ucap Agam sambil menunjuk ke arah ayahnya berada.
''Huft!'' Ranum menghembuskan nafasnya dengan perlahan, berharap jika semua akan baik-baik saja dan pertemuannya kali ini akan berakhir dengan baik.
''Papa?'' sapa Agam begitu tiba di ruang santai di taman belakang rumahnya.
Sontak saja, Pak Hermawan yang sedang duduk sembari membaca surat kabar itu pun segera menurunkan kedua tangannya dan menengok ke arah sumber suara.
''Selamat siang, pak.'' sapa Ranum dengan hormat.
Begitu pula dengan Elzein, anak lelaki kecil itu juga ikut memberikan salam dan senyumnya pada Pak Hermawan.
''Hm.'' jawab Pak Hermawan dengan singkat.
Untuk beberapa saat suasana mendadak hening dan tak ada satupun yang bersuara.
''Kenapa diam saja di situ? Ayo duduk!'' perintah Pak Hermawan.
''Iya pa.''
__ADS_1
''Terima kasih, pak.'' jawab Ranum dengan hormat.
''Pa, perkenalkan ini adalah Ranum dan juga Elzein, putraku.'' ucap Agam begitu mereka telah duduk pada sebuah sofa panjang itu.
''Hm.'' jawab Pak Hermawan singkat.
''Opa!'' sapa Elzein.
Sontak saja, semua orang yang berada di tempat itu pun langsung menoleh pada Elzein.
''El!'' bisik Ranum memperingatkan putranya untuk diam dan tidak membuat kegaduhan.
Agam dan Ranum pun saling tatap. Mereka berdua pun menunggu reaksi seperti apa yang akan Pak Hermawan lakukan.
''Kemarilah!'' ucap Pak Hermawan pada Elzein.
Elzein pun langsung menghampiri dan berjalan mendekat ke arah duduk Pak Hermawan.
''Siapa nama kamu tadi?'' tanya Pak Hermawan.
''Nama saya Elzein Japa, opa!'' jawab Elzein dengan penuh percaya diri.
''Nama yang bagus. Siapa yang memberi mu nama seperti itu?'' tanya Pak Hermawan lagi.
''Mama yang memberikan nama itu untuk El, opa!'' jawab Elzein.
Pak Hermawan pun hanya menganggukan kepalanya begitu mendengar jawaban dari anak lelaki kecil itu.
Saat ini raut wajah Ranum masih sama tegangnya seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Pak Hermawan beberapa waktu lalu. Namun kali ini rasa takutnya semakin menjadi, ia takut jika ayah dari lelaki yang telah merebut hatinya itu tidak bisa menerima kehadiran Elzein. Karena biar bagaimana pun apa yang pernah ia lakukan dengan Agam beberapa tahun silam adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Ia juga tahu jika perbuatannya itu merupakan sebuah aib keluarga, terutama bagi keluarga Hermawan Wicaksana yang begitu tersohor dan terpandang.
''El, sini nak!'' panggil Agam pada Elzein untuk memintanya duduk di pangkuannya.
Elzein pun menurut dan kini ia telah berada di tengah-tengah kedua orang tuanya tersebut. Diam-diam ia memperhatikan kedua orang tuanya yang nampak sedikit canggung dan cemas. Ikut merasakan kecemasan itu, kedua tangan kecilnya pun terulur dan segera meraih kedua tangan orang tuanya. Ia menggenggam tangan-tangan itu dengan penuh kasih sayang. Terang saja, merasakan genggaman itu, Ranum dan Agam pun langsung menoleh dan menatap Elzein. Dan kejadian itu tentu tak luput dari pengawasan Pak Hermawan yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara mereka bertiga.
''Pa, ada yang ingin aku katakan.'' ucap Agam pada akhirnya.
Pak Hermawan pun masih terdiam dan hanya menatap Agam saja.
__ADS_1
''Hari ini aku telah membawa Ranum dan juga Elzein, putra kandungku untuk bertemu dengan papa.'' ucap Agam dengan menjeda kalimatnya.
''Dan pada detik ini juga aku ingin meminta restu dari papa. Aku akan segera menikahi Ranum, perempuan yang sangat aku cintai.'' ucap Agam dengan mantap dan penuh percaya diri.