
Ranum kembali malantunkan bait-bait indah dengan diiringi irama alunan musik yang dikemas merdu dan serasi tersebut. Banyaknya pengunjung yang hadir di kafe Yuda malam itu pun tak jarang yang ikut bernyanyi bersama-sama dengan Ranum dan band pengiringnya.
''Ada lagi yang mau nyumbang lagu?'' tanya Ranum yang mulai berinteraksi pada pengunjung.
Dari arah agak kejauhan seorang lelaki berperawakan tinggi, berkulit hitam manis, dengan paras yang cukup tampan mengangkat jarinya dan berjalan mendekat ke arah panggung.
''Ya, mas berbaju navy yang di sana.'' tunjuk Ranum pada pria itu.
Setelah berhasil mendekat, pria itu pun membisikkan sesuatu di telinga Ranum. Dari arah kejauhan, Agam yang menyaksikan itu pun seketika menjadi meradang. Ia merasa terbakar dahsyat nya api cemburu.
''Papa mau kemana?'' tanya Elzein yang melihat ayahnya tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.
Lalu, Elzein pun melihat ke arah pandangan ayahnya tersebut. Kemudian ia berkata lagi,
''Papa! Papa jangan ke sana. Tenang saja, mama sangat profesional kok. Dan om-om itu temennya papa Yuda!'' seru Elzein.
''Kamu kenal?'' tanya Agam.
''Tentu saja, El kan kenal sama semua orang di tempat ini.'' jawab Elzein santai.
''Tapi itu!'' protes Agam yang merasa sangat meradang karena melihat laki-laki itu malah naik ke atas panggung dan mendekati Ranum, lelaki itu juga terlihat membisikkan sesuatu pada wanita pujaan hatinya itu.
''Om Romi udah mau menikah papa! Papa nggak usah cemburu dan aneh-aneh deh! Tuh lihat calon istrinya juga ada di sebelah sana!'' tunjuk Elzein pada seorang perempuan yang juga mengenakan dress navy selutut itu.
''Jangan bikin kerusuhan dan jangan bikin malu mama!'' nasihat Elzein pada ayahnya.
Mendengar apa yang putranya katakan membuat Agam seketika menganga dan tak percaya kenapa putranya bisa berkata layaknya seorang dewasa yang sedang menasihati anaknya sendiri.
''Haiisss! Kamu ini memang sangat genius persis seperti papa!'' ucap Agam yang merasa kesal namun juga gemas.
Lalu, Agam pun kembali mendudukkan dirinya dan dengan matanya terus mengawasi pergerakan Ranum di atas panggung.
''Awas aja besok kalau udah nikah, bakalan aku kunciin di dalam kamar terus biar nggak ada lagi laki-laki hidung belang yang berani godain kamu! Enak aja mau macem-macem!'' ucap Agam di dalam hatinya sembari terus memperhatikan Ranum dari kejauhan.
Sementata di atas panggung,
''Selamat ulang tahun ya mbak Naura, semoga dilancarkan sampai hari H.'' ucap Ranum dari atas panggung. Lalu, Ranum pun mempersilakan Romi untuk menyampaikan sepatah dua patah kata pada tunangannya tersebut.
__ADS_1
''Silahkan mas Romi...'' ucap Ranum.
''Selamat ulang tahun calon istriku. Semoga makin sukses, selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan. Dan juga selalu menjadi pribadi yang baik.'' ucap Romi.
''Aamiin....'' jawab Ranum dengan mic nya.
''Boleh minta tepuk tangannya semua.....'' ucap Ranum yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan hadirin di kafe milik Yuda.
''Baiklah, satu persembahan lagu dari mas Romi untuk mbak Naura yang sedang berulang tahun hari ini.'' ucap Ranum kembali mengawali kata-katanya.
''Satu lagu lawas milik Dewa19. Selamat menikmati....'' ucap Ranum.
Lalu, denting piano pun mulai berdentang indah, bersahut dengan ketukan dram yang mulai berdendang. Beriring dengan alunan gitar yang mendayu pertanda mulainya sebuah irama lagu.
Haruskah ku ulangi lagi kata cintaku padamu, yakinkan dirimu.
Masihkah terlintas di dada keraguanmu itu, susahkan hatimu.
Takkan ada cinta yang lain, pastikan cintaku hanya untukmu.
Ingatkah satu bait kenangan, cerita cinta kita. Tak mungkin terlupa.
Buang semua angan mulukmu itu, percaya takdir kita, aku cinta padamu.
Akankah nanti terulang lagi jalinan cinta semu. Dengar bisikku, bukalah mata hatimu.
Lagu-lagu yang dinyanyikan Ranum bersama dengan band pengiringnya semakin membuat syahdu suasana. Ditambah dengan lagu yang tadi ia nyanyikan bersama dengan salah satu pengunjung kafe tadi membuat suasana kafe milik Yuda malam itu menjadi semakin hangat dan makin menciptakan kesan yang begitu romantis.
Setelah menyelesaikan sepuluh lagu, Ranum pun segera turun dari panggung dan segera digantikan oleh penyanyi yang lain. Dari awal Ranum memang telah membuat kesepakatan dengan Yuda kalau ia hanya mampu membawakan maksimal sepuluh lagu, mengingat ia yang juga harus selalu membawa serta putranya saat bekerja atau manggung. Tentu saja sebagai seorang sahabat, Yuda pun menyetujui permintaan Ranum. Awalnya Yuda meminta Ranum untuk bernyanyi di kafenya karena memang melihat bakat terpendam Ranum dalam dunia tarik suara. Selain itu Yuda juga ingin membantu sahabatnya tersebut yang harus kerja keras dan banting tulang untuk mencari rejeki karena harus merawat dan membersarkan putranya seorang diri. Merasa iba, Yuda pun lantas menawarkan pekerjaan itu pada Ranum. Dan Yuda lah yang membawa Ranum terjun ke dunia tarik suara hingga sekarang.
Setelah menghampiri Yuda di ruangannya, lalu Ranum pun segera berjalan ke arah meja putranya berada.
''Hai... Lagi pada ngapain nih?'' sapa Ranum yang menghampiri Agam dan Elzein begitu menyelesaikan beberapa lagunya. Namun, saat ia tiba di meja itu Agam justru malah memalingkan wajahnya dari hadapan Ranum.
''Maaf ya sayang, mama lama.'' ucap Ranum dengan membelai puncak kepala putranya.
''Nggak apa-apa, mama. Mama tenang aja, papa pandai kok jagain El.'' jawab Elzein.
__ADS_1
''Syukurlah...'' jawab Ranum.
''Kenapa sih?'' tanya Ranum yang melihat Agam sejak kedatangannya malah mengabaikannya. Lalu, Ranum pun berganti bertanya pada putranya itu.
''Papa kamu kenapa sih, El?''
''Nggak tau.'' jawab Elzein yang kembali fokus pada mainan legonya.
''Kamu lapar? Atau nggak betah nungguin aku?'' tanya Ranum pada Agam yang masih tetap memalingkan wajahnya.
''Udah aku bilang kan, kamu pasti nggak betah kalau harus nungguin aku kerja. Maksa sih.'' ucap Ranum.
''Huft!'' Lagi-lagi Agam hanya memalingkan wajahnya dari hadapan Ranum, sementara kedua tangannya kini disilangkan di dadanya.
''Kamu tuh kenapa sih?'' tanya Ranum heran.
''Ngambek!'' jawab Agam.
''Masa ngambek pakai bilang-bilang segala sih papa...'' ucap Elzein dengan terkekeh.
''Iya, ada-ada aja papa kamu tuh.'' sahut Ranum dengan terkekeh pula.
''Bisa nggak sih kalau lagi nyanyi nggak usah deket-deket sama cowok! Kamu sengaja ya!'' ucap Agam pada akhirnya.
''Oh... Kamu cemburu ya?'' goda Ranum dengan tawanya yang gemas melihat lelaki dewasa di depannya itu ternyata sedang diliputi rasa cemburu.
''Ciye... Papa cemburu....'' ucap Elzein yang ikut menggoda ayahnya tersebut.
''Siapa juga yang cemburu! Papa hanya kesal saja!'' elak Agam.
''Dih, nggak mau ngaku! Mana nih yang kata orang-orang kalau Pak Agam itu ibarat manusia salju, buktinya sekarang lagi merajuk manja! Nggak ada adem-ademnya.'' goda Ranum dengan tawanya yang tak dapat ia hentikan.
''Papa lucu!'' sahut Elzein dengan terkekeh.
''Awas kamu ya!'' ucap Agam dengan gemas dan mencubit lembut pipi kenyal Ranum.
''Ampun! Ampun!''
__ADS_1