
Pagi-pagi sekali Agam sudah berada di depan rumah Ranum. Ia datang dengan membawa sebuah lunch bag yang berisikan beberapa kotak makanan. Setelah memarkirkan mobilnya, Agam segera turun dan berjalan menuju arah pintu rumah Ranum.
Tok.. tok.. tok...
''Permisi!'' seru Agam sambil mengetuk pintu dengan sebelah tangannya yang menenteng sebuah lunch bag berwarna kuning muda yang sudah ia siapkan dari rumahnya.
Pintu pun mulai terbuka, menampilkan seorang anak kecil tampan yang sudah rapi dengan setelan kemejanya yang berdiri di sana.
''Papa!'' seru anak kecil itu yang tak lain adalah Elzein.
''Selamat pagi anak papa.'' ucap Agam.
''Ayo, papa silahkan masuk.'' Elzein mempersilakan Agam untuk masuk ke dalam rumahnya.
''Mama kamu dimana?'' tanya Agam yang mengamati sekitar namun tidak menemukan keberadaan Ranum.
''Mama sedang di kamarnya, sepertinya mama sedang bersiap-siap untuk bekerja, papa.'' jawab Elzein.
''Oh begitu..''
''El, bener kan mama kamu menyukai makanan yang kamu katakan semalam?'' tanya Agam pada Elzein dengan memperlihatkan lunch bag yang ia bawa.
''Iya, papa. Mama sangat menyukai makanan itu.'' jawab Elzein.
''Memangnya papa nggak tau makanan kesukaan mama?'' tanya Elzein.
''Dengar ya papa, hal pertama yang harus dilakukan untuk menaklukan hati seorang perempuan itu adalah dengan memberinya perhatian, jadi papa harus mulai memperhatikan hal-hal kecil, apapun itu!'' ucap Elzein dengan penuh semangat.
Agam pun hanya bisa ternganga mendengar apa yang keluar dari mulut putranya itu.
''El, usiamu sekarang belum genap lima tahun kan? Dari mana kamu belajar hal-hal seperti itu!'' ucap Agam terheran-heran.
''Jangan panggil aku anak kecil papa! Aku ini tau segala hal!'' seru Elzein dengan bangganya.
''Astaga!'' ucap Agam dengan sedikit kesal dan terheran-heran melihat putranya yang begitu luar biasa.
Dari dalam kamar, Ranum seperti mendengar suara dari dalam rumahnya. Maka ia pun segera menaruh parfum yang baru saja ia semprotkan pada tubuhnya dan meletakkannya kembali di atas meja riasnya.
''Sepertinya aku mendengar suara seseorang?'' gumam Ranum.
''Masa Yuda udah dateng jam segini?'' ucap Ranum sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
''Baru pukul tujuh, mana mungkin dia sudah bangun jam segini.''
Ranum pun segera bergegas keluar dari kamarnya untuk memastikan siapa yang sedang berkunjung ke rumahnya pagi ini.
''El, kamu lagi ngomong sama siapa, nak?'' tanya Ranum dari dalam kamarnya.
Ranum begitu terkejut saat melihat keberadaan Agam yang sudah duduk di ruang tamunya.
__ADS_1
''Ngapain lagi kamu ke sini!'' seru Ranum begitu melihat Agam yang sedang duduk pada sebuah sofa di ruang tamunya.
''Selamat pagi, Ranum.'' sapa Agam tanpa menghiraukan ucapan Ranum.
''Siapa yang mengijinkan kamu untuk datang kemari?'' ucap Ranum.
''Aku hanya ingin minta maaf sama kamu. Dan juga aku membawakan sarapan untuk kalian.'' jawab Agam.
''Mama, mama jangan marah-marah dulu. Papa bilang papa mau minta maaf sama mama. Kata bu guru, orang tua tidak boleh marah-marah di depan anaknya.'' ucap Elzein mencoba menengahi.
''Hah!'' ucap Ranum tertegun.
Di sisi lain, Agam pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Elzein.
''Oh, jadi kamu sekarang memanfaatkan kepolosan El untuk mendapatkan maaf dari ku!''
''Enggak! Enggak! Tidak seperti itu.''
''Aku datang ke sini benar-benar untuk minta maaf, dan ini aku bawakan sarapan untuk kalian.'' ucap Agam lagi.
''Sudah aku katakan kalau aku sudah memaafkan kamu. Tapi jangan ganggu kami lagi. Lagi pula kami tidak butuh makanan itu, kami tidak terbiasa untuk sarapan.'' jawab Ranum.
''Ranum?'' sahut Agam.
''Mama, kata bu guru anak kecil seperti El harus selalu makan pagi, mama. Supaya El bisa tumbuh tinggi dan sehat.'' sahut Elzein.
''Astaga!'' seru Ranum yang merasa kesal melihat putranya itu lebih membela orang lain dibandingkan memihak ibunya sendiri.
''Ayo dimakan dulu, sudah jam segini nanti kita bisa terlambat.'' ucap Agam yang kini sudah berhasil membawa Ranum dan Elzein duduk pada sebuah meja makan yang terletak di rumah Ranum.
''Makanlah..'' Agam mulai menaruh daging rendang di piring Ranum.
''Aku bisa mengambilnya sendiri!'' ucap Ranum ketus.
''Tidak perlu sungkan, ayo cepat kita makan!''
''El, kamu juga harus makan yang banyak ya nak.'' ucap Agam.
''Iya, papa!'' jawab Elzein senang.
Mereka pun mulai makan dengan begitu lahap, kecuali Ranum yang masih terdiam sambil memandangi makanan di piringnya.
''Kenapa tidak di makan? Bukankah kamu menyukainya?'' ucap Agam memperhatikan piring milik Ranum.
''Nggak usah gengsi, sini aku suapi.'' ucap Agam sambil memotong daging untuk Ranum.
''Nggak usah! Aku bisa makan sendiri.'' sahut Ranum dengan menyuapkan sepotong daging sapi itu ke dalam mulutnya.
''Bagaiman? Enak kan?'' tanya Agam.
__ADS_1
Agam dan Elzein pun memperhatikan ekspresi Ranum ketika menikmati makanan itu.
''Ayo mama, katakan. Enak tidak masakan papa? Papa yang membuat ini sendiri khusus untuk mama, lho!'' sahut Elzein.
''Biasa saja.'' jawab Ranum acuh.
Sontak saja, ekspresi Agam dan Elzein langsung berubah menjadi sedikit keruh saat mendengar jawaban Ranum. Melihat hal itu, Ranum pun mendadak menjadi tak enak hati. Sebenarnya makanan yang dibawa Agam sangatlah lezat dan benar-benar sesuai dengan selera lidahnya.
''Ayo, cepat habiskan makanan kalian!'' ucap Ranum berusaha mengalihkan pembicaraan.
Setelah menghabiskan sarapan mereka, Ranum segera membawa putranya untuk bersiap dan masuk ke dalam mobil.
''Ngapain kamu masih di sini?'' tanya Ranum pada Agam yang sedari tadi selalu mengikuti langkahnya.
''Aku antar kalian, ya.'' jawab Elzein.
''Nggak usah!'' jawab Ranum ketus.
''Mama, ayo kita naik mobil papa saja. El ingin diantar oleh papa, mama.'' sahut Elzein.
''Ayolah, lagi pula kan kita satu kantor. Akan lebih menghemat waktu nantinya.'' kata Agam.
''Ayo, mama. El mau diantar papa. El mohon, mama...'' rengek Elzein lagi.
Ranum merasa begitu tersudut.
''Baiklah!'' jawab Ranum pada akhirnya.
Ranum pun segera memindahkan ransel Elzein dari mobilnya dan memasukannya ke dalam mobil Agam.
''Buka pintunya!'' perintah Ranum.
''Horeeee!'' seru Elzein dan Agam sambil melakukan high five.
''Sudah. Sekarang kalian masuklah!''
Agam pun segera menggendong putranya dan menaruhnya pada sebuah seat car yang sengaja ia siapkan jauh-jauh hari. Lalu, Agam membukakan pintu depan mobilnya untuk mempersilakan Ranum masuk ke dalam mobil.
''Siapa bilang aku akan ikut bersamamu.'' ucap Ranum.
''Hah?'' ucap Agam dan Elzein bersamaan.
''Antar kan anakku dengan selamat sampai di sekolahnya!'' seru Ranum.
Ranum segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan meninggalkan Agam dan putranya yang masih terdiam di mobil Agam.
''El, kenapa kamu membiarkan mama mu pergi!'' ucap Agam.
''Harusnya papa bisa meyakinkan mama!'' ucap Elzein.
__ADS_1
''Urusan orang dewasa memang sangatlah rumit!'' ucap Elzein dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.