
Sementara itu di sebuah restoran mewah di kota Z seorang pria paruh baya sedang duduk di salah satu ruangan VIP yang berada di restoran tersebut. Pria paruh baya itu memang sengaja memesan ruangan VIP untuk bertemu dengan seseorang. Seorang pria yang sangat tampan meskipun kini usianya sudah tidak muda lagi. Penampilannya sangat rapi dan menawan menandakan jika pria itu adalah seorang yang terpandang dan tentu saja termasuk dalam golongan ekonomi kelas atas.
Pria paruh baya yang masih terbilang sangat tampan itu adalah Hermawan Wicaksana. Seorang pengusaha sukses dan juga pernah menjabat menjadi wali kota beberapa periode sebelumnya. Pak Hermawan juga merupakan ayah dari seorang Agam Birendra Wicaksana. Dan saat ini dia sedang menunggu seseorang yang sudah diajaknya untuk bertemu dengannya di restoran Bouttier, salah satu restoran mewah yang sangat terkenal di kota Z. Sebenernya waktu yang ia janjikan untuk bertemu dengan seseorang itu masih setengah jam lagi, namun saat ini Pak Hermawan sudah berada di ruangan VIP restoran itu untuk menunggu kedatangan tamunya.
Berkali-kali pria paruh baya itu melirik arloji mahal yang melingkar kekar di pergelangan tangannya. Hingga seorang pelayan datang dan memberitahukan kepadanya bahwa seseorang yang sudah memiliki janji dengannya sudah tiba dan sedang menunggunya di luar.
''Maaf tuan, orang yang memiliki janji bertemu dengan anda saat ini sedang menunggu anda di depan.'' kata pelayan tersebut memberitahukan kepada Pak Hermawan keberadaan orang yang ditunggunya sedari tadi.
''Suruh dia masuk.'' jawab Pak Hermawan memberikan perintah dengan nada yang sopan.
Meskipun Pak Hermawan Wicaksana adalah seorang dari keluarga yang terpandang dan kaya raya, sosoknya sangatlah ramah pada siapapun. Ia tidak pernah membedakan seseorang hanya berdasarkan dari derajatnya di dunia.
Pelayan tersebut pun segera keluar dan memanggil orang yang diundang oleh Pak Hermawan. Tidak berselang lama, pintu ruangan itu kembali terbuka dan menampilkan sosok wanita muda yang berpenampilan sederhana namun nampak sangat anggun dan cantik jelita, seseorang yang sudah ia tunggu sedari tadi. Sosok itu adalah Ranum, salah seorang karyawan yang juga bekerja di perusahaannya yang kini tengah dipimpin oleh putranya sendiri, Agam.
Awalnya Ranum tidak menyangka jika siang ini ia dia diminta untuk bertemu langsung dengan Pak Hermawan yang notabene nya mereka tidak mengenal secara langsung selama ini. Hanya saja Ranum jelas mengetahui siapa sosok Pak Hermawan yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja dan juga ayah dari seorang Agam, seorang pria dari masa lalunya.
Ranum benar-benar merasa sangat terkejut dan kebingungan begitu mendapat telepon itu. Sebenernya ia ingin menolak dan mengabaikan pertemuan itu, namun tiba-tiba saja ia merasa seolah kecil dan tak punya nyali untuk mengabaikan permintaan itu. Sontak saja perasaan Ranum semakin tak tenang setelah ia mengiyakan dan kini ia sudah berdiri di tempat itu untuk bertemu dengan Pak Hermawan di tempat yang telah di janjikan.
Ranum segera masuk ke dalam ruangan VIP itu begitu pelayan restoran mempersilakannya untuk masuk ke dalam setelah sebelumnya berulang kali ia mengatur nafasnya untuk tetep tenang dan tidak panik.
Dan kini, Ranum begitu terkesima saat melihat Pak Hermawan yang langsung berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman yang sangat ramah.
''Silakan duduk nona.'' ucap Pak Hermawan mempersilakan Ranum untuk duduk dan juga mengulurkan tangannya untuk mengajak Ranum berjabat tangan begitu Ranum sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
''Terima kasih, Pak Hermawan.'' jawab Ranum dengan sedikit terbata karena ia benar-benar marasa sangat gugup saat itu. Ia pun segera meraih tangan Pak Hermawan untuk membalas jabat tangan itu.
''Silahkan duduk.'' ucap Pak Hermawan mengajak Ranum untuk duduk pada sebuah sofa mewah yang duduknya saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh sebuah meja marmer kecil di antara mereka.
Mereka berdua pun kini langsung duduk saling berhadapan. Sementara pelayan tadi memberikan sebuah buku menu pada Pak Hermawan dan juga kepada Ranum.
Setelah selesai memesan makanan, pelayan tadi pun meninggalkan Ranum dan juga Pak Hermawan di ruangan VIP tersebut.
''Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menyita waktu istirahat nona Ranum untuk bertemu dengan saya.''
''Terima kasih nona Ranum karena sudah bersedia memenuhi undangan makan siang saya ini.'' ucap Pak Hermawan mengawali pembicaraan mereka.
''Tidak Pak Hermawan, saya malah merasa sangat senang. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung bahkan bisa mengahbiskan waktu makan siang bersama dengan bapak.'' sahut Ranum sembari menerka-nerka maksud dari Pak Hermawan mengajaknya untuk bertemu siang itu.
Ranum pun hanya mampu memberikan senyumnya yang nampak kikuk dan sedikit dipaksakan itu.
''Tenang saja, saya tidak ada maksud lain selain makan siang ini.'' ucap Pak Hermawan seoalah mampu membaca jalan pikiran Ranum.
Mendengar Pak Hermawan berbicara seperti itu membuat Ranum langsung tersenyum karena jalan pikirannya berhasil dibaca oleh Pak Hermawan.
''Untuk sesekali menghabiskan waktu makan siang bersama dengan salah satu karyawan yang cukup komperten seperti kamu ini sepertinya patut diagendakan juga. Suatu kehormatan bagi saya bisa menghabiskan makan siang kali ini dengan anda, nona Ranum.'' ucap Pak Hermawan.
''Terima kasih pak Hermawan, anda terlalu memuji.'' jawab Ranum dengan sedikit kikuk.
__ADS_1
Tok...tok.. tok..
Sebuah ketukan pintu berhasil memotong pembicaraan yang terjadi diantara Ranum dan juga Pak Hermawan.
''Masuk!'' ucap Pak Hermawan dengan sedikit keras agar pelayan tadi bisa mendengar suaranya.
''Maaf tuan dan nona kami mengganggu waktu anda sebentar.'' ucap salah seorang pelayan sembari meletakkan pesanan mereka di atas meja.
''Kami permisi tuan dan nona, selamat menikmati hidangan kami.'' ucap pelayan tadi berpamitan setelah selesai menghidangkan makanan itu di atas meja mereka.
''Terima kasih.'' jawab Ranum dan juga Pak Hermawan bersamaan.
''Mari silahkan dimakan dulu makanannya.'' ucap Pak Hermawan mempersilakan Ranum untuk segera menghabiskan makanannya.
''Terima kasih, pak.''
Mereka berdua mulai menikmati makan siang bersama dalam suasana yang tenang dan diam tanpa obrolan sedikit pun. Hingga setengah jam kemudian mereka telah selesai menghabiskan makanan yang tersaji di atas meja.
Sejak keberangkatan Ranum ke restoran itu, sebenarnya dalam hatinya ia merasa sangat penasaran dan masih menduga-duga ingin mengetahui maksud dan tujuan seorang Hermawan Wicaksana sampai mengajaknya untuk bertemu bahkan memintanya untuk makan siang bersama.
Berada dalam ruangan seperti ini bersama dengan Pak Hermawan semakin membuat Ranum merasa yakin akan ada obrolan yang cukup serius yang sepertinya tidak ingin diketahui atau di dengar oleh orang lain mengenai pembicaraan mereka.
''Nona Ranum, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada anda.'' ucap Pak Hermawan dengan nada yang cukup serius begitu mereka menghabiskan makanan itu.
__ADS_1