Kidung Renjana

Kidung Renjana
Ada dan Akan Selalu Ada


__ADS_3

Pada hari berikutnya, Ranum dan Maya berencana untuk membuat janji temu.


''Nggak, kamu nggak boleh pergi!'' ucap Maya dari seberang teleponnya.


''Terus?'' tanya Ranum dengan lesu.


''Biar aku dan Yuda aja yang datang ke rumahmu. Enak saja calon pengantin malah mau keluyuran.'' ucap Maya.


''Siapa yang mau keluyuran sih, orang aku cuma pengen ketemu sama kalian doang kok.''


''Dibilang nggak boleh ya nggak boleh. Udah tungguin aja di situ, anteng, diem di situ!''


''Iya-iya... Tapi cepatan ya ke sininya, aku lagi bingung banget nih..'' rengek Ranum.


''Iya-iya, bawel banget sih!'' sahut Maya yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Setelah beberapa saat berlalu, Maya dan Yuda pun telah tiba di rumah Ranum. Mereka datang dengan membawa sebuah buket bunga mawar berwarna merah muda sebagai hadiah bagi Ranum yang tak lama lagi akan segera melepas masa lajangnya.


''Wah, cantik sekali bunganya... Terimakasih.'' ucap Ranum merasa terharu atas perhatian dari kedua sahabatnya itu.


''Kalian duduk dulu, aku ambilkan minuman dulu di dapur.'' ucap Ranum mempersilakan Maya dan Yuda untuk duduk.


''Ngomong-ngomong dimana berondongku? Kok sepi amat nih rumah.'' tanya Maya yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Elzein.


''El sedang pergi bersama opanya, makanya aku bingung sendirian terus di rumah. Mana aku mau ikut pergi nggak dibolehin, eh sekarang juga nggak diizinkan pergi kemana-mana.'' jawab Ranum sambil meletakan jus mangga dan beberapa camilan di atas meja.


''Namanya juga calon pengantin, ya memang nggak boleh pergi kemana-mana, pamali. Harus nurut apa kata orang tua.'' sahut Yuda.


''Udah kaya bapak-bapak lagi nasihatin anaknya ya.'' ucap Maya dengan terkekeh.


''Iya, bener. Mana mukanya serius banget lagi!'' imbuh Ranum terkekeh.


''Mulai deh!'' ucap Yuda yang mulai kesal karena jika kedua wanita itu sudah bersama pasti ia yang akan menjadi korban dan menjadi bahan candaan bagi mereka.


''Aku nggak nyangka secepat ini kamu akan menikah.'' ucap Maya.


''Tapi aku juga sangat teramat bahagia dengan ini, akhirnya kalian bisa bersatu lagi setelah semua badai dan prahara yang pernah terjadi.'' imbuhnya.


''Hm, bener tuh.. Aku malah lebih nggak nyangka lagi!'' sahut Yuda sambil menikmati keripik pisang yang Ranum sajikan.


''Cie... Masih ada rasa nih ye ceritanya, kaya nggak rela gitu!'' goda Maya pada kekasihnya itu.


''Tuh kan mulai lagi, ntar ujung-ujungnya pasti ngambek lagi.'' ucap Yuda.


''Hahahah... kalian jangan berantem dong! Aku tuh lagi butuh support dan motivasi nih lho.'' ucap Ranum dengan terkekeh.

__ADS_1


''Oiya, Num. Kamu mau kado apa dari kita? Jujur kita bingung nih mau ngasih kado apa ke kamu.''


''Yak betul!'' sahut Yuda.


''Mau ngasih tiket honeymoon pasti Pak Agam udah nyiapin segala-galanya. Kebukti kan kamu tinggal terima beres dan santai-santai doang kaya sekarang. Mau ngasih peralatan rumah tangga, lha peralatan-peralatan di rumah Pak Agam udah pasti lebih banyak dan mewah-mewah semua. Mau ngasih amplop udah pasti nggak ada apa-apanya dibanding isi kantong calon suami kamu. Masa iya kita ngado bed cover?'' ucap Maya dengan jujurnya.


''Udah nggak usah dipikirin, dengan kalian hadir dan selalu ada buat aku aja udah bikin aku bahagia kok. Beneran deh.'' jawab Ranum.


''Ya nggak bisa gitu dong, masa kita cuma datang doang. Bisa-bisa ntar kita di usir sama security!'' ucap Yuda ikut menimpali perkataan Maya.


''Ya kan kalian tamu spesialku, kalian itu tamu VVIP! Siapa lagi coba keluargaku di sini. Nggak ada kan, ya cuma kalian berdua aja.'' ucap Ranum.


''Ah, Ranum....'' Maya pun langsung memeluk sahabatnya itu dengan begitu erat. Ia merasa iba dengan keadaan Ranum yang hidup sebatang kara. Ranum yang sudah tidak memiliki sanak saudara ataupun kerabat dekat itu.


''Aku boleh peluk juga nggak?'' ucap Yuda yang langsung ikut memeluk kedua wanita itu.


''Kok jadi melow gini sih? Sebel deh!'' ucap Maya sambil menghapus air matanya yang terjatuh.


''Udah guys, i'm okey...'' ucap Ranum meyakinkan teman-temannya jika ia benar-benar baik-baik saja.


''Sebentar lagi kamu akan menemukan dan memiliki keluarga baru, Num. Aku harap kamu nggak akan melupakan kami.'' ucap Yuda dengan sungguh-sungguh.


''Nggak akan! Kalian adalah sahabat sekaligus orang yang paling berjasa dalam hidupku dan juga hidup Elzein. Tanpa kalian aku nggak akan bisa sampai di detik ini. Berkat kalian juga aku bisa survive dan bertahan. Makasih banget ya kalian udah selalu ada buat aku...'' ucap Ranum dengan sudut matanya yang mulai memerah.


''Peluk lagi!!!'' seru Maya yang ikut terharu mendengar apa yang Ranum katakan.


''Iya! Capek aku nangis mulu dari tadi.'' sahut Maya dengan terkekeh sambil menghapus sisa-sisa air matanya.


''Dari pada galau-galauan terus, mending kita makan aja. Kalian belum makan, kan?'' tanya Yuda.


Dan kedua gadis itu pun kompak menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari Yuda.


''Kebetulan aku baru nemu resep baru, kalian cobain ya sebelum aku rilis di kafe!''


''Wah, mau!'' seru mereka dengan kompak.


''Tunggu sebentar, aku panasin dulu makanannya.'' ucap Yuda yang langsung mengambil dua buah kotak makan dari dalam paper bag yang ia bawa lalu ia pun segera memasukkannya ke dalam microwave.


Sembari menunggu Yuda yang sedang menghangatkan makanan yang ia bawa, Maya pun bertanya lagi pada Ranum.


''Coba deh Num, kamu sebutin mau kado apa dari aku sama Yuda? Tapi jangan yang over budget ya, ya kamu tau sendiri kan isi kantong kami.'' ucapnya dengan terkekeh.


''Nggak ada! Aku nggak mau hadiah apa-apa dari kalian. Aku cuma minta kita bisa tetep kaya gini terus apapun yang terjadi.'' jawab Ranum.


''Deal!'' sahut Maya yang langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


''Deal!'' jawab Ranum dengan senyumnya.


''Taraaaa! Makanan udah siap!'' seru Yuda dari arah dapur.


''Wah, kayaknya enak banget nih!''


''Ini apa sih, beb?'' tanya Maya penasaran.


''Kalian cobain dulu deh, terus kasih nilai dan komentar jujur kalian!'' ucap Yuda.


''Emangnya selama ini kami kurang jujur?'' ucap Ranum dengan terkekeh.


''Sory, aku lupa. Kalian adalah juri yang terlalu jujur dan komentar kalian itu selalu menyakitkan siapapun yang mendengarnya.''


''Hahahaha....'' Kedua gadis itu pun tak dapat menahan tawanya mendengar ucapan Yuda.


''Buruan di makan!''


''Oke, kita cobain ya...''


Ranum dan Maya pun mulai mencoba mencicipi masakan Yuda. Untuk beberapa saat Ranum dan Maya mulai mmeraba-raba rasa dari makanan itu di dalam mulutnya. Lalu, untuk beberapa detik berikutnya kedua gadis itu pun saling berpandangan satu sama lain.


''Gimana?'' tanya Yuda penasaran.


Deg.. deg.. deg....


''Kenapa kalian diam saja!''


''Dijawab, woi! Enak atau enggak! Atau kurang apa dan gimana!'' seru Yuda tak sabaran.


''Perfect!!!'' jawab kedua gadis itu bersamaan.


''Beneran?'' tanya Yuda antusias.


''Serius, ini enak banget!'' jawab Maya.


''Ini apaan sih, Yud kok bisa enak gini?'' tanya Ranum.


''Aku juga masih bingung mau ngasih menu ini dengan nama apa, yang pasti ini cuma dari sayur-sayuran, beef, jamur, dan juga daging ayam.'' jawab Yuda.


''Gimana kalau kita kasih nama makanan ini dengan nama Roller Roll?'' sahut Maya.


''Kok Roller Roll?'' tanya Ranum tak mengerti.


''Ya kita ibarat kan aja ini kaya hubungan kamu sama Pak Agam. Biar bagaimanapun dan apapun yang udah terjadi akhirnya kalian tetep bertemu lagi dan pada akhirnya kembali bersama, kan? Lihat deh makanan ini bentuknya juga kaya roll gitu.'' terang Maya.

__ADS_1


''Setuju! Anggap aja ini sebagai hadiah pernikahan dari kami dengan merilis dan mematenkan menu baru ini di kafe tepat dihari pernikahan kalian besok.'' imbuh Yuda.


''Uh, manisnya.. Aku jadi terharu.'' jawab Ranum.


__ADS_2