Kidung Renjana

Kidung Renjana
Pertemuan


__ADS_3

Minggu pagi ini terasa sangat berbeda bagi Ranum. Entah mengapa sejak semalam ia kesulitan untuk terlelap dan memejamkan kedua matanya hingga sang fajar terbit. Ia hanya terlelap sebentar sebelum kembali terbangun ketika mendengar suara adzan subuh. Dan pada pagi ini, ia telah selesai menyipakan sarapan untuk putranya. Setelah semua makanan siap, Ranum segera bergegas ke kamar Elzein untuk membangunkan putranya tersebut.


''El sayang, bangun yuk nak...'' ucap Ranum lembut.


''Eeemmm...'' Elzein hanya menggeliat lalu tertidur lagi.


''Anak mama yang ganteng, ayo bangun udah siang.'' ucap Ranum dengan menepuk lembut tangan putranya.


''Kok nggak mau bangun sih? Mentang-mentang hari libur ya?''


''Katanya ada yang nggak sabar mau ketemu sama kakek.'' ucap Ranum lagi.


Begitu mendengar kata kakek disebut oleh mamanya, Elzein pun langsung membuka kedua matanya dan bangun dari tidurnya.


''Iya, mama! El mau ketemu sama kakeknya El!'' seru Elzein dengan penuh semangat.


''Kalau begitu, ayo mandi dulu trus kita sarapan bersama-sama. Setelah itu kita bersiap-siap sebelum papa datang kemari untuk menjemput kita.'' terang Ranum.


''Oke mama!'' jawab Elzein yang langsung mengambil handuknya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai membantu Elzein merapikan pakaiannya, mereka berdua pun kini telah berada di meja makan. Pagi ini Ranum hanya memasak ayam goreng dan juga sambal terasi.


''El makan sama ayam goreng dulu ya, mama belum sempet berbelanja sayur dan bahan makanan yang lain. Nanti setelah pulang dari rumah papa, kita mampir ke supermarket untuk berbelanja ya.'' terang Ranum.


''Iya, mama. El mau makan ayam goreng yang banyak sekali!'' jawab Elzein dengan penuh antusias.


''Anak pinter!'' ucap Ranum dengan membelai lembut puncak kepala putranya tersebut.


''Apa El senang mau bertemu dengan kakek?'' tanya Ranum hati-hati.


''Tentu saja! El seneng banget mama!'' sahut Elzein.


''Mama?'' tanya Elzein.


''Ya sayang...''


''Memangnya selama ini kakeknya El kemana sih, ma? Apa kakek sedang bersembunyi? Kok El nggak pernah melihat atau bertemu dengan kakek?'' tanya Elzein dengan polosnya.


''Bukan bersembunyi sayang, tapi kakeknya El sedang kerja ditempat yang jauh. Jadi baru bisa bertemu dengan kamu sekarang.'' ucap Ranum berusaha menjelaskan.


''Oh gitu ya, ma...''


''Iya, kalau begitu segera habiskan sarapannya, nanti keburu papa sampai lho!'' perintah Ranum.


''Siap, bos!'' jawab Elzein patuh.


Elzein pun segera menghabiskan sarapannya pagi itu dengan begitu lahap dan penuh semangat.

__ADS_1


''Oh, ya mama? Apa mama dan papa akan menikah?'' tanya Elzein tiba-tiba.


''Kok El tiba-tiba tanya kaya gitu?'' tanya Ranum.


''Kata temen El di sekolah kalau El mau punya adik, harus punya papa dulu. Tapi kan El udah punya papa sekarang.''


''Terus sebelum itu harus menikah dulu. Tapi mama bilang, mama belum menikah sama papa. El jadi bingung.'' ucap Elzein.


''Udah jangan dipikirkan. Yang penting El udah punya papa sekarang.'' ucap Ranum dengan berusaha mencari jawaban yang paling aman.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, kini Ranum dan juga Elzein telah duduk di ruang tengah di rumahnya untuk menunggu kedatangan Agam.


''Mama kenapa dari tadi mama mondar-mandir sih? El pusing tau lihatnya.'' gerutu Elzein sambil menikmati susu kotak rasa coklat kesukaannya.


''Emm, maaf sayang. Mama cuma lagi nungguin papa aja kok.'' jawab Ranum sekenanya.


''Emangnya mama udah kangen sama papa? Semalam kan kita baru saja bertemu masa sekarang mama udah kangen lagi.'' ucap Elzein.


Belum sempat Ranum menjawab, tiba-tiba saja pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari arah luar.


''Nah, itu pasti papa!'' seru Ranum sambil berjalan menuju arah pintu dan meninggalkan putranya sendirian.


''Dasar, mama nih!'' ucap Elzein yang keheranan melihat sikap ibunya pagi ini.


Ranum pun berjalan menuju ke ruang depan untuk segera membukakan pintu untuk tamunya siang ini.


''Selamat pagi calon istriku...'' sapa Agam begitu melihat Ranum yang membukakan pintu.


''Cantik banget sih kamu hari ini.'' ucap Agam begitu melihat penampilan Ranum yang nampak sederhana namun begitu anggun dan bersahaja.


''Emang biasanya nggak cantik?'' protes Ranum.


''Cantik! Cantik banget malah. Tapi hari ini kaya beda aja dari biasanya.'' goda Elzein.


''Halah, dasar gombal!''


''Beneran sayang, masa ngomong jujur dibilang gombal.'' sahut Agam dengan terkekeh.


''Buruan masuk gih atau aku tutup lagi nih pintunya!'' ucap Ranum.


''Jangan dong, galak banget sih calon istri.'' ucap Agam.


''Buruan!''


''Iya.. iya...'' jawab Agam.


Begitu dipersilakan masuk, Agam pun segera menghampiri putra kesayangannya yang ternyata sedang asyik menonton televisi di ruang tengah.

__ADS_1


''Papa, kok baru dateng sih? Mama udah nungguin dari tadi lho. Mama udah nggak sabar mau ketemu papa katanya.'' ucap Elzein.


''El!'' protes Ranum dengan memberi intruksi pada Elzein untuk diam.


''Kan El nggak bohong, ma!'' sahut Elzein.


''Oh... Jadi ada yang udah kangen ya? Kok nggak bilang sih?'' goda Agam pada Ranum.


''Apaan sih, nggak usah ikut-ikutan deh kamu!'' kesal Ranum.


''Hahahah kamu lucu tau kalau lagi ngambek!'' ucap Agam yang begitu senang.


''Tau ah!'' kesal Ranum.


''Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya?'' ajak Agam.


''Ayo papa! El udah nggak sabar ingin segera bertemu dengan kakek!'' seru Elzein.


''Iya sayang, opa Hermawan juga udah nungguin kalian di rumah.'' ucap Agam.


''Yey! Akhirnya El akan bertemu dengan opa!'' seru Elzein.


''Sebentar ya, aku ambil tas dulu.'' sahut Ranum.


Setelah semua siap, kini mereka bertiga pun telah berada di dalam mobil Agam. Di sepanjang perjalanan, hanya Agam dan Elzein yang lebih mendominasi obralan, sementara Ranum lebih banyak diam.


''Kamu kenapa? Apa kamu gugup?'' tanya Agam pada Ranum ketika melihat Ranum yang sedang meremas jemari tangannya sendiri untuk membantu menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyeruak di hatinya. Padahal ini bukanlah pertama kalinya Ranum bertemu dengan Pak Hermawan. Namun, kali ini suasana menjadi sedekit berbeda karena perubahan status yang akan ia bawa nanti.


''Kamu udah siap kan bertemu dengan papa?'' tanya Agam yang melihat kecemasan di wajah wanitanya tersebut.


''Sejujurnya aku sedikit nervous.'' ucap Ranum jujur.


''Kamu tenang saja, papa orangnya baik kok. Dia pasti akan senang bertemu dengan kalian.'' ucap Agam berusaha menenangkan.


''Hm. Semoga saja.'' jawab Ranum.


Di sepanjang perjalanan, Agam tak henti-hentinya menggenggam tangan Ranum. Ia sengaja menyalakan mode menyetir otomatis pada mobil mewahnya.


''Apa rumah opa masih jauh, pa?'' tanya Elzein yang sudah tak sabar.


''Sebentar lagi kita akan segera sampai sayang.'' jawab Agam.


''Ini beneran lewat sini?'' tanya Ranum saat mobil Agam memasuki kompleks perumahan elit di kotanya.


''Hm.'' jawab Agam singkat.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, kini mereka pun sudah sampai di pelataran rumah mewah dengan nuansa putih itu.

__ADS_1


''Sudah sampai!'' seru Agam.


Agam pun segera memarkirkan kendaraannya dan mematikan mesin mobilnya.


__ADS_2