
"Ia, Rin. Kita hanya tidak mau kalau nanti kamu di buang seperti sampah" tukas Tika.
Cerita mereka terngiang di telinga ku, ketakutan mulai merasuk ke pikiran Arini.
Aku tidak bisa berakhir seperti itu, jangan sampai Arga membuang ku!.
"Aku harus mencari cara tapi bagaimana? bahkan ketika Refa mengetahui hubungan ku dengan Arga, dia masih bertahan " gumam Arini.
"Meski sekarang aku sudah menikah dengan Arga ,akankah Refa pergi dari sisi Arga atau akan tetap bertahan ?"
"Aargggh, kalau Refa masih bertahan juga ,berarti posisi aku yang akan berakhir. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" geram Arini.
Aku merasa kalau Arga adalah ayah yang baik bagi anaknya,
ia pernah berkata, kalau ia tidak punya Gara, mungkin dia sudah bercerai dengan Refa.
Bisa di artikan, kalau Arga mempertahankan Refa demi Gara.
Mungkinkah ,jika aku juga memberikan seorang anak pada Arga,
dia tidak akan meninggalkan ku ?.
"Yaa. Mungkin Arga tidak akan meninggalkanku jika aku memiliki anak darinya " ucap Arini
Aku mulai merencanakan untuk mengandung anak dari Arga, meski dia sudah jarang menghubungi ku ,terkadang ia akan mengunjungi aku.
Mungkin ketika Refa tidak bisa memberikan jatah untuknya ,jadi dia datang menemui ku.
Menyakitkan memang, tapi ini kenyataan dan hal yang sudah aku pilih.
Aku sengaja tidak memakai pengaman saat melakukan kuda-kudaan dengan Arga saat itu.
Sesuai dengan rencana, aku terlambat datang bulan,
"Sayang ,kamu dimana ?" tanya Arini dalam pesannya.
Lama Arga tidak membalas, lalu ku kirimkan lagi pesan singkat.
"Aku terlambat datang bulan" pesan Arini.
Tapi Arga masih tidak membalas, sampai hari ketiga Arga tidak kunjung mengunjungi dan membalas pesan dariku.
Aku prustasi, seolah Arga mengabaikan dan ingin membuang ku.
"Kamu jangan harap bisa mengabaikan ataupun membuang ku, kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya!" Pesan yang ku kirim pada arga.
*bersambung......
*****
*sudut pandang Arga*
Meski aku menikahi Arini, bukan berarti aku ingin menghabiskan sisa hidup ku bersamanya.
__ADS_1
Aku memang menyukainya sebab itu aku mau menikahinya,
tapi bukan berarti aku juga mencintainya.
Mungkin aku memang laki-laki berengsek, aku mencintai Refa tapi aku juga menginginkan Arini.
Dan pernikahan ku dengan Arini tidak seperti saat aku menikahi Refa.
Ketika menikah dengan Arini, Aku bangga tapi tidak bahagia, senang tapi tidak tenang.
Setelah bertemu Arini hidupku berubah, tanpa sadar aku sering mengabaikan Refa dan ketika tahu Refa sangat tersakiti, hatiku ikut sakit.
Arini mulai menuntut ingin diakui bahkan mulai mengganggu Refa dan mengancam diriku.
Itu membuat aku marah pada Arini, awalnya aku merasa seperti bintang yang di perebutkan oleh dua wanita.
"Sayang ,kamu cerita apa tentang aku sama Refa ?" tanya Arini.
"Cerita apa ?" aku balik nanya sama Arini.
"Kamu suka sama aku karena apa, kecantikanku atau tubuhku ?" tanya Arini.
"Kamu ngomong apa sih ?" lagi-lagi aku bertanya bukannya menjawab.
"Mau sampai kapan pernikahan kita kamu sembunyikan dari Refa ?" ketus Arini, karena aku terus berbalik bertanya bukannya menjawab.
"Bukannya kita sudah sepakat untuk merahasiakannya dari Refa? kenapa sekarang kamu ingin aku memberi tahunya ?" jawabku sedikit kesal.
"Sebelumnya aku sudah bilang, jika kamu mau aku menikahi kamu maka kamu harus mau jadi simpananku. Karena aku tidak akan pernah meninggalkan Refa !" jelas Arga dengan nada tinggi.
"Kamu benar-benar tega ya, Mas. Kalau kamu sayang sama aku ,harusnya kamu tidak keberatan untuk mengakui hubungan kita. Atau jangan-jangan kamu hanya mempermainkan aku?!" tuduh Arini.
"Kamu kenapa sih, Rin? bukankah waktu itu aku juga tidak maksa kamu, kan? kamu yang setuju, kenapa sekarang kamu jadi keberatan ?" tanyaku emosi.
"Karena aku ingin di akui, Mas! aku juga ingin seperti orang-orang lainnya yang bisa jalan-jalan bareng ,makan bareng ,aku lelah terus bersembunyi ,tidak bisa bareng kamu di tempat u-" sebelum Arini selesai bicara ,aku memotong ucapan Arini.
"Jika kamu tidak terima kamu boleh meminta pisah, aku tidak akan memaksa kamu dari awal sampai akhir. Jika kamu merasa lelah ,lebih baik kamu berhenti " .
Arini ternganga mendengar ucapan diriku, ia tidak percaya aku setega itu.
"Mas! aku tidak minta kamu ninggalin Refa, aku hanya ingin diakui Aku sakit hati, Mas. Ketika Refa menghina aku,dia terus mengatakan kalau aku tidak tahu diri menginginkan suami orang, apa kamu tidak memikirkan perasaan aku, Mas!" teriak Arini tidak terima sikap Arga.
"Aku ingin kamu memberitahu Refa tentang kita ,aku hanya ingin Refa bisa menerima aku" tambah Arini.
"Entahlah, Rin. Aku takut aku tidak bisa memenuhi keinginanmu" jawab ku acuh.
Lalu aku pergi untuk meninggalkan Arini, namun dia mencegahku dengan cara mencium bibir ku.
Aku yang sedang emosi tapi tubuhku tidak menolak ciuman dan sentuhannya yang berakhir di ranjang .
"Sayang ..." Arini bertanya dengan posisi memeluk dan mengelus dadaku.
"Kenapa ?" tanyaku.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mencintaiku ... ? " rajuk Arini.
"Kalau tidak untuk apa aku menikahi mu,"
"Benarkah, bukan karena hanya ingin menikmati tubuhku saja ?" tanya Arini manja.
"Aku sudah menikmati tubuhmu sebelum menikah !" .
"Kenapa kamu tidak mau mengakui hubungan kita? aku hanya ingin Refa bisa menerimaku ,kamu bisa membujuknya untuk menerimaku dan aku janji tidak akan berebut dengan dia. Aku yakin kamu pasti bisa menjelaskan lalu membujuknya ya, sayang?" pinta arini manja.
Aku terdiam tanpa bisa menjawab, di sisi lain aku juga lelah dengan keadaan ini, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Refa tau ,aku takut dia tidak bisa menerimanya.
Sesekali aku menyisipkan sedikit obrolan tentang berpoligami pada Refa ketika sedang berbicara dengannya.
"Yang, kamu tahu gak ,tentang poligami itu boleh? asalkan bisa adil " ucapku membujuk Refa.
"...."
Refa sepertinya enggan menjawab.
"Poligami itu yang penting bisa adil. Misalkan, dalam satu minggu tinggal di tempat yang tua lima hari, di tempat yang muda dua hari" jelas Arga terus berusaha meyakinkan Refa .
Refa masih saja bungkam, aku jadi salah tingkah dibuatnya, tidak tahu harus berkata apa lagi.
Sampai setiap ada kesempatan berbicara dengan Refa, aku selalu membahas tentang poligami .
Tapi entah mengapa Refa selalu bungkam, sampai suatu saat akhirnya Refa menjawab ucapanku .
"Gimana sayang ... ia, kan? poligami itu boleh asalkan bisa adil " pertanyaan Arga untuk kesekian kalinya .
Refa menjawab, "Boleh."
Aku terkejut dengan jawaban Refa antara senang dan heran,
tidak ku sangka ternyata Refa semudah itu mengizinkannya.
"Tapi ceraikan dulu aku!" lanjut Refa ketus.
Senyumku yang terukir perlahan menghilang.
"Sudah kuduga" gumam ku.
terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
jangan lupa like dan komentar yaaaa 😘
__ADS_1