
"Lepas arga !" teriak Refa.
"Tidak mau, tidak mau "
"Aku tidak akan lepas, sebelum kamu setuju untuk tidak pergi" rengek Arga pada Refa.
"Enak saja. Kamu buat aku kecewa dengan menghadirkan wanita lain dalam hidup kita, lalu aku tidak boleh pergi? minggir sana !" bentak Refa dan ingin mendorong Arga. Tapi,
"Aaahhh Arga! apa kamu gila? aku hampir terjatuh. Bagaiman kalo Gara juga ikut jatuh !"
Refa berteriak kaena Arga menarik Refa sehingga dirinya hampir terjatuh.
"Makanya jangan pergi, jangan tinggalkan aku ... " lirih Arga.
"baiklah. Aku tidak akan pergi, tapi dengan satu syarat " kata Refa dengan keadaan yang sangat menjengkelkan.
Karena Arga tidak mau melepaskan kaki Refa.
Arga mendongak tanpa mau melepas pelukannya di kaki Refa,
"Apapun Refa. Asal kamu tidak tinggalkan aku ... " lirih Arga.
"Kamu harus berhenti menghubungi wanita itu !" ketus Refa.
"Baik ,baik ,baik" jawab Arga dengan cepat dan mengangguk-angguk.
"Janji ya ?!" ucap Refa sambil menunjuk wajah Arga.
Arga mengangguk dengan cepat seperti anak kecil.
"Kalau masih berhubungan dengannya, mau tidak mau kamu harus melepaskan kami !" ancam Refa.
"Tidak akan Refa. Tidak akan, aku sungguh menyesal ... " lirih Arga semakin mengencangkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya ke betis Refa,
ohh yaa ampun Arga.
"Ya udah lepas dong, berat tahu!" maki Refa.
Lalu Arga melepaskan rangkulan nya, tapi Arga masih merasa sedih.
Karena Refa hanya berjanji tidak meninggalkan nya, tidak berjanji untuk tidak mengabaikannya.
Semenjak pertengkaran itu Refa jadi lebih banyak terdiam tanpa mau berkomunikasi dengan Arga.
Bahkan dia lebih sering mengabaikan Arga. Sampai jatah biologisnya pun tidak ada respon,
"Kamu benar-benar mengabaikan aku Refa ... padahal aku sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi ... "
lirih Arga.
****
Satu minggu berlalu, setelah pertengkaran itu Arga dan Refa seperti orang asing. Sesekali Arga mencari masalah karena kesal dengan sikap istrinya yang terus mengabaikan dirinya.
"Yang, ko sepatu aku gak di cuci ?" tanya Arga dengan sangat hati-hati dan nada yang lembut.
"Kenapa nyuruh aku? suruh aja tuh si Arini !" ketus Refa.
Arga menghela nafas kasar, lagi-lagi begini.
__ADS_1
"Kenapa sih Re? ... kamu begini terus sama aku, bukan nya aku udah bilang maaf dan janji tidak akan mengulanginya !" tanya Arga tidak terima.
"Kenapa? kamu gak terima?" ejek Refa.
"Aku tahu aku salah Re ... " lirih Arga dengan wajah lesu,
"Ya sudah, kenapa harus marah. Aku begini juga karena kamu! " balas Refa.
"Ya tapi gak begini juga dong Ree ... " pinta Arga memelas.
"Terus kamu mau gimana? mau aku tetap baik-baik saja? seperti tidak pernah terjadi apa-apa? ... kamu pikir mudah jadi aku? setelah kamu khianati aku, apa kamu pikir mudah untuk membangun sebuah kepercayaan lagi?"
pertanyaan Refa beruntun membuat Arga tidak bisa berkata apa-apa.
"........" Arga terdiam.
"Harusnya kamu pikirin dari awal, sebelum kamu melakukan sesuatu harusnya kamu tau apa konsekuensinya !" bentak Refa sambil berlalu.
Aarrgggh Arga sungguh depresi, kenapa harus begini? sesal Arga dalam hatinya.
Akhirnya Arga pergi bekerja dengan sepatunya yang kotor.
Arga terus berusaha sabar selama satu minggu ini. Tapi apa daya, perlakuan Refa terhadap Arga membuat ia dilema.
Kesempatan untuk mengulang kesalahan selalu ada. Hanya saja Arga takut kalo Refa mengetahuinya akan melukai kembali hati Refa.
Tapi kini karena Refa selalu mengabaikan Arga, perasaan ingin menjaga hati Refa perlahan memudar. Arga merasa sudah terlalu lama untuk bersabar.
"Kamu yang membuat aku begini, Ree. Sadarkah kamu? sikap mu seolah mengantarkan aku kepadanya, jika kamu beranggapan aku masih berhubungan dengan Arini dan mengabaikan aku karena itu ... maka aku akan membuat nya nyata"
Pernyataan Arga pada dirinya sendiri karena putus asa, dia berkata sambil menatap foto Refa dalam ponsel nya dengan tatapan nanar.
bukannya introspeksi dan berubah, dia malah kembali ke jalan menuju jurang.
Tentu saja kehadiran Arga di sambut dengan antusias oleh Arini.
Arga mencoba menghubungi Arini dengan ragu ia menekan nomor ponsel Arini .
Tanpa diduga Arini menerima panggilan dari Arga,
"halo?" tanya Arini.
"Halo ???"
Arini heran dan bertanya kembali karena Arga tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"....."
Arga masih membisu ,dia tidak tau harus berkata apa.
"Kalo tidak mau bicara tidak usah menelpon, kurang kerjaan!" kesal Arini.
"Hai. Rin ... apa kabar ?" akhirnya Arga buka suara.
"Baik ,ada apa ?" ketus Arini.
"Ohh, syukur lah kalau baik ... bagaimana kabar putri?" tanya Arga lagi.
"Dia juga baik, kamu telpon ada perlu apa? kalo tidak ada perlu aku matikan dulu. Aku sedang di sekolah putri!" nadanya masih ketus.
__ADS_1
"Kenapa gitu sih rin ngomongnya? ga suka ya aku telpon ?" tanya Arga dengan rasa sedih.
"Ya terus aku harus gimana? bagaimana kalau nanti ada yang marah lagi!" jawab Arini dengan nada yang kesal dan sedikit mengejek Arga.
"Ia aku minta maaf Rin, aku-"
tut,,tut,,tut,,
Arga belum selesai bicara panggilannya sudah terputus.
Ting ...
Notif pesan menyala di ponselnya Arga, ternyata dari Arini.
"Maaf, aku sedang sibuk. Tidak ada waktu untuk mengobrol dengan suami orang !" ketusnya.
Akhh ... Arini juga ingin mengabaikan ku. Kamu sungguh ironis Arga, gumam Arga.
Hari sudah sore pukul 17.27pm. Arga pulang kerumah, masih ada sedikit harapan, berharap Refa mau menerima dan menyambutnya dengan hangat. Tapi sayang itu hanya harapan sia-sia.
"Aku masih di abaikan ... " lirih Arga.
Lagi-lagi Rafa penasaran dengan ponsel Arga yang tidak sengaja Refa lihat di meja samping tempat tidur.
Arga meninggalkan ponselnya karena akan membersihkan diri,
Refa membuka ponselnya dan mengotak-atik ponsel Arga,
Hingga menemukan riwayat panggilan keluar dengan nomor yang tidak di beri nama.
"Ini kan nomor si wanita itu? heh ... ngapain Mas Arga nelpon si Arini, menyebalkan !" ucap Refa dengan kesal.
Lalu Refa meletakan kembali ponsel Arga, tidak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi dan tiba-tiba Refa berkata,
"Bagus ya! katanya janji tidak akan berhubungan lagi !" bentak Refa.
"Kamu ngomong apa sih ?" tanya Arga tidak mengerti.
"Ngapain kamu telpon si Arini?!" tuduh Refa.
Arga terkejut.
"Maksud kamu apa sih? sekarang kamu yang mau cari masalah!"
bentak Arga.
Emosinya yang dia tahan dari kemarin kini meluap hampir tidak bisa di tahan.
"Kamu selalu anggap aku ini bodoh ya? atau di mata kamu aku ini memang bodoh?" tanya Refa.
"...."
Arga bingung harus menjawab apa, kenapa Refa tau kalau dirinya menghubungi Arini.
"Kamu pikir aku tidak ingat nomor wanita itu, hah ?"
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1