Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 38


__ADS_3

"Maaf, Ibu tidak melihatmu. Sudah berapa lama kamu disana, hm?" Refa menghampiri Gara dan mengelus pucuk kepalanya.


"Cutup lama untut melihat temuanya. Ibu cepelti olang dila, ngomel-ngomel cambil liat poncel. Memangnya ciapa yang cedang Ibu tutut?" tanya Gara mengintrogasi dengan ekspresi datar.


Namun matanya menatap Refa penasaran. Anak ini meski usianya masih terbilang masih kecil, tapi pola pikirnya hampir menyeimbangi anak usia di atasnya.


Refa menatap bingung pada anaknya, namun ia tetap menjawab,


"Ya ... Kalau bisa, Ibu memang ingin mengutuk seseorang," ucap nya sambil bertatapan dengan Gara.


Tapi tatapan Gara terlalu mengintimidasi bagi Refa, yang membuatnya bergumam tidak mengerti. "Bagaimana bisa? anak seusianya punya tatapan macam itu."


"Sudahlah, apa kamu mengerti? dan tatapan macam apa itu?" Refa tidak tahan dengan tatapan putranya, "Berhenti menatap Ibu seperti itu!" pintanya seraya beranjak dari hadapan Gara.


"Ibu. Apa hali ini Ibu tida telual?" tanya Gara ketika Refa berjalan menjauhinya. "Atu bocan!" ketusnya dan membuang pandangan, saat melihat Refa membalikkan badan dan menatapnya.


Refa berpikir sejenak setelah melihat anaknya yang merajuk, lalu ia tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan ke mall."


Gara yang tadi memalingkan mukanya, kini menolehkan nya lagi pada Refa, dengan mata yang berbinar, "Iya, iya." angguk nya cepat.


****


Sementara Arga yang berada di kantornya.


Tok tok tok...


"Siapa?" tanya Arga pada seseorang yang baru saja mengetuk pintu, dengan nada setengah teriak.


"Aku" jawab seseorang di luar pintu. "Ada dokumen yang harus kamu periksa ulang," lanjutnya berharap di persilahkan masuk.


Arga yang kenal dengan suara itu tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Masuklah!"


Pintu Pun terbuka, terlihat Mila yang berjalan masuk kedalam ruangan Arga, Menghampiri Arga yang sedang duduk menatap laptop nya.


Mila duduk di depan meja Arga dan menatap nya.


"Apa yang perlu aku periksa ulang?" tanya Arga "Kenapa kamu senyam senyum gitu?" tanya nya lagi yang melihat Mila senyum lebar sambil menatap wajahnya.


Arga pun menyunggingkan senyumnya, aneh dengan tindakan Mila.


"Sebenarnya, tidak ada dokumen apa pun" bisik Mila yang mendekatkan wajahnya pada Arga.

__ADS_1


Lagi-lagi Arga menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Lalu?"


"Ini waktunya makan siang! Apa kamu tidak ingin keluar dan makan?" tanya Mila mendudukkan kembali tubuhnya di kursi, dengan raut wajah yang cemberut.


"Oya?" Arga melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku tidak sadar, kalau sekarang ternyata sudah sesiang ini," lalu Arga berdiri berniat untuk pergi ke kantin.


"Kalau begitu, ayo kita makan" ajak Arga sambil menatap Mila.


"Mau makan dimana?" tanya mila membalas tatapan Arga.


"Mmm ... tck, kemana ya?" tanya Arga sambil berpikir.


"Ya udah, ikut aku aja yuk!" ucap Mila yang menarik pergelangan tangan Arga, keluar dari ruangan menuju tempat parkir.


Mereka tidak menghiraukan orang-orang yang menatapnya, "Ayu, naik motornya! Apa perlu satu motor aja?" tanya mila yang melihat Arga malah bengong.


"Lah, emangnya kita mau makan dimana?" tanya Arga yang kebingungan. Karena pasalnya, kerjaan Arga belum selesai.


"Ikut aja! nanti juga tau," jawab Mila yang sudah bersiap memakai helm, dan melajukan kuda besinya meninggal kan Arga.


"Tck, tau begini tadi aku jawab makan di kantin aja deh," gumam Arga sembari memakai helm. "Mana kerjaan belum selesai, cewe memang repot," gerutunya lalu melaju mengikuti ke arah Mila pergi.


Dan mereka sampai di tujuan.


"Kamu sendiri pesan apa?" Arga balik bertanya sambil melihat-lihat menu.


"Aku tahu gejrot dan bakso lava, minumnya teh botol," jelas Mila sambil memanggil pelayan.


"Ya udah, samain aja," jawab Arga yang menutup buku menu dan menyimpannya.


"Kamu suka makan ya?" tanya Arga setelah Mila memesankan pesanan mereka.


"Pesan makanan sekaligus dua menu, tahu gejrot ama bakso," ucap Arga sambil terkekeh.


"Ini namanya pecinta makanan," jawab Mila.


"Iya deh ia," Senyum Arga seraya menggelengkan kepalanya, "Aku hanya heran saja, biasanya kalau cewe itu lebih ke memperhatikan pola makan, untuk menjaga berat badan seimbang. Tapi melihat kamu, makan beberapa porsi dalam satu waktu, apa gak takut gemuk?" cerocos Agra.


Mila menatap Arga dan berkata, "Gendut itu tidak terpengaruh dari makanan, tapi dari pikiran!" kemudian ia melihat tubuhnya, "Kamu lihat? Meski aku bnyak makan, tapi badan ku tetap saja sebesar ini," sambungnya sambil menunjuk dirinya sendiri.


Arga hanya tersenyum.


"Berarti, kamu mirip dengan istriku. Meski makan banyak, tapi tidak mempengaruhi penampilannya. Kalian adalah wanita yang beruntung dari sekian banyak wanita," ucap Arga terkekeh.

__ADS_1


Mila menatap Arga dengan lekat dan bertanya, "Apa saja makanan pavorit istrimu?"


Arga menoleh menatap Mila, "Tidak ada yang pavorit, dia suka semua makanan," ucapnya terkekeh mengingat sang istri.


"Bahkan makanan yang dia tidak pernah makan, dia bisa suka hanya karena aku suka. Lucu kan?" Arga bercerita masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Mila yang mendengarkan dan menatap Arga tersenyum, "Sepertinya istrimu sangat peduli sama kamu, kalau tidak dia tidak mungkin suka begitu saja sama makanan yang belum pernah ia makan."


"Ya, dia istriku. Mana mungkin tidak peduli," jawab Arga.


Kemudian makanan pun datang, dan di siapkan di meja mereka.


"Terimakasih, mbak." Mila mengambil makanan miliknya, dan mulai mengaduk-ngaduk makanannya.


"Disini tempat pavorit aku, menurutku disini masakan nya nikmat dan makanan yang paling aku suka-" ucap Mila sambil mengaduk baksonya, tapi terpotong oleh Arga.


"Bakso lava dan tahu gejrot." Arga menimpali dengan cepat dan tersenyum.


"Kamu ini, kebetulan tau atau sok tau?" sahut Mila yang terkejut dengan ucapan Arga.


Arga hanya terkekeh tanpa mau menjawab, ia pun mulai menyantap makanannya.


"Gimana, enak 'kan?" tanya Mila di sela-sela kunyahannya.


Arga pun yang sedang mengunyah, berusaha menjawab dengan mulut masih penuh,


"Emm, lumayan."


Setelah selesai makan, mereka kembali ke kantor.


Arga menyelesaikan pekerjaannya,


Drrrtt


Drrrtt


Ponsel Arga berdering lalu mati kembali, Arga menggapai ponselnya dan membuka isi pesan dari nomor yang tidak di kenal.


Arga terkejut dengan isi pesannya, bagaimana tidak jika isi pesannya, adalah foto dirinya dengan Mila yang sedang makan siang tadi.


Juga ada pesan singkatnya, "Kamu sangat kejam terhadapku! Ketika denganku, mana mau kamu makan di luar bersama. Setiap kali aku mengajak, kamu selalu menolak dengan banyak alasan. Tapi kini, kamu malah santai makan bersama wanita selain Refa, cih menjijikan, munafik!"


Arga geram setelah membaca pesannya, "Sepertinya ini Arini ... tapi bagaimana dia bisa mendapatkan fotoku dan Mila?" gumam Arga.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca karya ku


__ADS_2