Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 8. Berbohong.


__ADS_3

Aku hanya terdiam karena jujur saja aku merasa tidak senang.


"Oya ... nanti jangan telpon kalau aku di rumah" lanjut Arga.


"Terus, kalau aku rindu sama kamu gimana, dan kapan kamu akan kesini lagi?" aku bertanya dengan nada kesal.


"Tempat kerja ku dekat rumah kamu, kenapa kamu panik begitu? " jawab arga.


"Ia sih, tapi kan tetep saja aku pasti rindu kamu!" manja Arini.


"Ya ampun, Riinnn. Kan aku kerja tiap hari dan tempat kerjaku dekat dengan rumah kamu, yang artinya kita akan selalu bertemu. Entah itu pagi atau sore setelah pulang kerja iya, kan?" jelas arga meyakinkanku.


"Ia ia" jawabku singkat..


"Jadi sepakat ya, kamu jangan hubungi aku ketika aku di rumah ,oke" pinta Arga.


Aku tidak membalas ucapan Arga dengan ucapan lagi, tapi aku membalasnya dengan kecupan ringan.


Namun lama-lama menjadi ciuman yang semakin menuntut,


ahh ... lagi-lagi aku sungguh bergairah, tapi semua berhenti ketika ponsel Arga berbunyi.


"Refa. Aku harus pergi mungkin dia sudah menunggu" ucap Arga lalu berlalu pergi.


Setelah Arga pergi, aku merasakan ada yang terasa nyeri di relung hatiku, aku tersenyum miris. Aku harus tetap tersenyum meski perih, karna ini keinginanku.


"Semua baru dimulai, Arga. Lihat saja ... kamu dan Refa akan merasakan kehancuran yang aku rasakan."


Arini tertawa namun di dalam hatinya menangis pilu atas hidup yang ia jalani.


*****


.


*sudut pandang Arga*


Di perjalanan menjemput Refa, aku beberapa kali menerima panggilan darinya, aku belum sempat menjawab karena waktu itu aku sedang dirumah Arini .


Sampai aku tiba dirumah mertuaku,


"Assalamualaikum" sapa Arga.


Lama tidak ada jawaban aku membuka pintu yang memang tidak di kunci.


"Ree, Pah, Gara? apa kalian ada di rumah ?".


Dari dalam terdengar suara langkah kaki yang cepat, ternyata pengurus rumah.


Lalu dia mengatakan bahwa Refa dan papah sedang menunggu di taman belakang.

__ADS_1


"Ree. Sudah siap? maaf aku tidak menjawab telpon kamu, karena aku sedang menyetir."


"Tidak apa-apa" jawab Refa singkat.


Aku merasa aneh ada apa ini, aku sungguh gugup apakah aku merasa bersalah atas perbuatanku ?.


"Yayaaaah!." Gara berteriak sambil menghambur ke pangkuanku.


Mengalihkan pikiranku yang sedang galau.


"Yayah gala tangeun, yayah. Tenapa yayah lama jemputnya ?" tanya Gara dengan nada yang menggemaskan.


"Ia maaf sayang. Sekarang Ayah sudah datang buat jemput Gara seneng, kan ?" ujar Arga.


"Gala cangat tida cenag" ucap Gara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa? bagaimana bisa anak Ayah tidak senang ,hmm ... coba bilang pada Ayah ,apa yang membuat anak Ayah tidak senang ?" tanya Arga.


"Talena yayah tauuuu, yayah tida pelnah eghubugi tu celama itu dan lagi tetita pulag ,tenapa yayah tidak embawa oleh-oleh buat gala dan Ibu ,hmm !"


Gara berceloteh dengan bahasanya ,bahasa anak seumurannya sambil berkacak pinggang.


Semua orang disana tertawa melihat tingkah Gara yang menggemaskan.


"Apakah anak zaman sekarang tumbuh lebih cepat dewasa ?" ucap Arga dengan pelan, tapi masih terdengar oleh Gara.


"Sudah ,sudah. Ayo kita pulang "


"Ibu ! tenapa tamu memotog pembicalaan tu? tamu tauu apa calahmu! " ucap Gara sedikit berteriak.


"Wah ,wah. Anak kecil bertingkah seolah anak dewasa kalau begitu ,Ibu tidak perlu sungkan pada anak dewasa, kan ?"


Refa merasa jengkel dengan ucapan anaknya ,dia berkata sambil mengangkat lengan bajunya bersiap untuk bertindak, seketika Gara pun langsung menutup mulutnya dan bertingkah imut kembali.


Sedangkan Arga dan Adisatya menahan tawa .


***


Mereka sudah sampai di kediaman Arga .


"Apa kamu tidak pernah membersihkan rumah, selama aku tidak di rumah ?"


Hal pertama yang Refa tanyakan sepulang kerumah ,bukan menanyakan kabarku ,bagaimana aku melalui hari sendirian ?.


Ahh sudahlah. Lebih baik aku mengalah, lagi pula selama ini aku selalu di rumah Arini.


"Aku sibuk, sayang. Saat pulag kerumah aku sudah lelah untuk melakukan pekerjaan rumah" jelas Arga .


"Ayah belbohog, atau memag ayah lemah ?" tanya Gara dengan nada mengejek .

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan bocah so pintar" kesal Arga.


"Atu celalu melihat ibu cibut megulus dilimu ,temudian cibut megulus atu. Tapi macih bica engeljatan cemua peteljaan lumah, lalu bagaimana bica ceolang plia dewaca cepeltimu bilag ,cetelah sibut telja tamu tida canggup melatutan peteljaan lumah. Tamu telnyata tida lebih hebat dali ibu ckckckck."


Gara mendecak dan menggelengkan kepala di akhir kalimat.


Membuat refa menahan tawa.


Arga terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Tidak mengerti dengan ucapan anaknya.


Perbincangan mereka berakhir setelah Gara terlihat kelelahan. Bagaimana tidak, setelah perjalanan yang cukup jauh ,lalu masih berdebat dengan Ayahnya.


Membuat bocah itu kelelahan, dan tanpa sadar dia terlelap di atas sofa, Aku menghampiri Refa setelah memindahkan Gara ke kamarnya.


Kemudian aku memeluk Refa,


"Aku merindukanmu" dengan suara berbisik.


"Kupikir tidak, karena selama kita tidak bersama ,kamu tidak menghubungiku" jawab Refa tanpa menoleh maupun bergerak,


perlahan Arga melepaskan pelukannya.


"Bukannya kamu yang sengaja menghindari aku?"


"Menghindar untuk apa?." Refa balik bertanya.


"Aku tahu salah dan aku sudah minta maaf, tapi kamu masih mengabaikan aku ,apa namanya kalau bukan menghindar ?."


"Lalu selama kamu bersama Arini ,apa kamu tidak sadar kalau kamu selalu menghindar sama aku ?" jawab arini dengan sedikit menekan.


Aku terkejut ketika Refa mengatakan hal itu, apakah aku mengabaikan dan juga melukainya? kalau dia tahu apa yang sudah terjadi padaku dan Arini, akan seperti apa perasaannya ?.


"Aku hanya ingin kamu tahu, Mas. Jika kamu berani mengulang kesalahan mu lagi, maka bukan cuma mengabaikan mu saja ,tapi aku bisa meninggalkan kamu tanpa sepatah kata pun!" ancam Refa .


Seketika jantungku serasa berhenti berdetak, bagaimana kalau Refa tau kenyataan tentang aku dan Arini? aku merasa dunia ku berhenti.


"Apa kamu tidak bisa memaafkan aku, Ree? ... " lirih Arga, merasa tertekan dengan ancaman Refa.


"Aku sudah memaafkan mu, Mas. Tapi sayang nya luka ini yang sulit di sembuhkan ,ingatan ini yang sulit dilupakan" jelas Refa dengan tatapan yang tajam.


"Aku bukannya tidak bisa melakukan apa yang kamu lakukan, hanya saja aku tidak ingin ... tidak ingin jadi wanita murahan, tidak ingin menyakiti kamu, tidak ingin mengecewakan Gara dan orang-orang yang menyayangiku " ucap Refa .


Aku merasa ucapan Refa menamparku, bagaimana bisa aku tidak bisa memahami wanita sebaik Refa. Wanita yang amat mencintaiku dan anakku.


Perasaan bersalahku terhadap Refa semakin besar, begitu juga perasaan takut yang menyelimuti diriku.


"Selama aku tidak ada di rumah, kamu kemana saja ?" tiba-tiba Refa bertanya.


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰

__ADS_1


__ADS_2