Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 35.


__ADS_3

Arga tau kenapa Refa berhenti bicara, dia kemudian menghampiri Refa, lalu berlutut di hadapannya sambil memegangi tangannya dan berkata


"Sayang ... mungkin sulit bagimu untuk melupakan rasa sakit itu, bahkan kamu juga berat untuk menerima semua yang telah aku lakukan. Aku bersedia menerima hukuman apapun yang akan kamu berikan, selama bisa membantu kamu melupakan kesalahan ku dan membalut lukamu."


Refa hanya terdiam dengan mata yang mulai berembun. Tiba-tiba ponsel Arga berdering menandakan ada pesan masuk, Arga membukanya dan pesan itu ternyata dari Arini.


Refa mencibir,


"Sepertinya dia tidak puas, karena tidak bisa membalas pesanku, lalu membalasnya melalui dirimu. Bacalah,"


"Didik tuh mulut istrimu, kalau memang kalian tidak mau mengakui dan membiayai anakku, tidak perlu mencari alasan ini itu. Biar aku matikan saja nama mu dari daftar wali anakku!" isi pesan dari Arini.


Refa hanya tersenyum tipis dan bertanya pada Arga.


"Apakah kamu sedih? kalau nama kamu tidak terdaftar atas wali anaknya?,"


"Tidak. Kenapa aku harus sedih? malah aku berharap, Arini secepatnya menikah lagi dan memberikan ayah yang baik untuk anaknya. Dengan begitu bukankah aku akan terbebas sepenuhnya?" ucap Arga tidak terlihat pura-pura.


Sepertinya Arga memang tidak begitu menyukai anak Arini, tapi kenapa justru Refa senang?, meski kesannya seperti Arga itu orang yang berengsek. Refa menggelengkan kepalanya dan bergumam,


"Ada apa dengan pemikiranku? ya ampun, pikiran macam apa itu."


Lamunan Refa terhenti saat pesan masuk lagi di ponsel Arga.


"Kamu perlihatkan lagi pesanku sama istrimu sanah! dan bilangin juga, walau dimatanya aku murahan, tapi tidak akan ada pelakor kalau tidak ada pebinor!"


"Dan semoga tidak ada kebohongan yang lebih besar!" isi pesan Arini.


Refa dan Arga saling berpandangan.


"Apa maksud ucapannya?" tanya Arini.


Sedangkan Arga hanya menggerakkan bahunya. Kemudian Refa menyarankan agar Arga memblokir kontak Arini seperti yang ia lakukan.


"Aku sarankan untuk cepat memblokirnya, kalau kamu tidak mau menerima teror yang lebih brutal dan berkepanjangan. Karena saat ini dia pasti sedang murka,"


"Kamu benar" jawab Arga, lalu melakukan apa yang di sarankan Refa.


Sebenarnya hati Arga berdegup kencang, ia khawatir kalau memang Arini semakin brutal dan mengatakan maslah Mila.


Meski tidak di ingatkan Refa, Arga tentu akan memblokir nomor Arini.


"Semoga saja Arini tidak nekat lenih jauh, kalai tidak ... " batin Arga, ucapannya terhenti karena ia tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi.

__ADS_1


***


Sementara Arini murka dengan keadaan ini.


Jika wanita lain mungkin akan menangis secara dramatis, karena selain jejak hidup yang kelam, tapi juga harus menerima kehinaan.


Tapi Arini berbeda, dia adalah wanita kuat, mandiri dan tebal muka.


Mungkin, karena ini bukan pertama kalinya Arini mengalami kegagalan dalam rumah tangga, jadi baginya ini hanya hal biasa yang tidak perlu waktu lama intuk melupakannya.


Dibandingkan menangisi takdir, dia malah merutuki Refa dan Arga.


"Aahh! Brengsek kalian, brengsek" teriak Arini yang murka.


"Aku tidak akan melepaskan kalian!" ucap Arini pelan.


"Aku salah menilai Refa, ternyata selama ini dia hanya berpura-pura lugu, sekarang dia menunjukan perangainya. Sialan!" ucap Arini yang masih menggerutu.


Kali ini Arini kalah telak, siapa sangka kalau ternyata Refa tidak mudah ditindas, dia bahkan menyerang balik.


Tiba-tiba Putra berlari menghampiri Arini sambil merengek.


"Mama ... Ayah, mama ... " Isak Putra yang sudah menangis sejak kepulangan Arga.


Arini menghampiri Putra dan memeluknya.


"Maafkan Mama, sayang." Refa menahan pilu di hatinya.


"Maaf, semua salah Mama. Kamu harus menanggung penderitaan ini karena kesalahan Mama" batin Arini.


"Sini. sama Abah saja gendongnya, biasanya juga sma Abah, kan?* ucap Ayah Arini yang baru saja masuk, karena mendengar Putra masih merengek.


Tapi Putra menggelengkan kepalanya dan merengek,


"Auu, auu ... Ayah, Ayaaaahh."


Di susul Ibu nya Arini juga masuk dan berkata,


"Apa kamu sudah menyadari salah mu, Rin?,"


"Apa kamu tau, kenapa dulu ibu bilang sama kamu jangan berkeinginan untuk memiliki anak? ... lihatlah sekarang. Anakmu yang menjadi korbannya ..." lirih Ibu Arini, yang tidak tega melihat cucunya tersiksa karena tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Arini tidak menjawab, ia berlalu pergi ke kamar Putri untuk menidurkan Putra disana.

__ADS_1


"Kenapa Ibu bilang begitu?" tanya Ayah Arini menatap istrinya.


"Karena aku sayang sama Anak dan cucuku. Pak. Sampai kapan Arini menuruti terus keinginan nafsu dunianya? apa Bapak akan terus membiarkannya tanpa mau menasihatinya?" ucap Ibu Arini yang kini mengalihkan pandangannya ke arah suaminya, setelah menatap putrinya berlalu.


"Tapi waktunya tidak tepat, Bu" ucap Ayah Arga lembut.


Ibu Arini tidak menghiraukan ucapan suaminya. ia berlalu menyusul Arini tanpa menjawab ucapan suaminya.


Dikamar Putri, Arini membaringkan Putra sambil memberikan susu yang sudah ia buatkan sebelum masuk ke kamar.


Ia berkata menatap Putra,


"Semoga kelak, kamu mau memaafkan Mama, Nak. Tidur yang nyenyak ya, sayang. Ibu sayang kamu, Ibu akan berusaha membahagiakan kalian meski tanpa tanpa seorang Ayah."


Kemudian Putra pun yang sedari tadi menangis merasa lelah dan tertidur, dengan suara sesegukan yang masih tersisa dari isakan nya.


Arini teringat pesan Refa yang memperingatkan, kalau jangan sampai kesalahan yang di perbuat kita , malah harus d tanggung oleh anak kita.


.


"Kami senang, kan? sudah membuat anakku menerima balasan dari perbuatanku? sementara orang yang membuat aku jadi begini, dia tidak di hukum sama sekali?" ucap Arini.


Setelah Putra tertidur, dia bukanya ikut beristirahat, tapi malah berargumen sendiri.


"Aku dan anakku menderita, sementara kalian bisa merasa lega? itu tidak pantas kalian dapatkan. Lihat saja. aku akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan!" ucapan Arini penuh dengan benci dan amarah.


"Sudah lah, Nak. Kamu ikhlaskan saja, lepaskan. Dari awal semuanya bukan milikmu, kamu mendapatkan ini dengan memaksakan diri sendiri dan aoa yang kamu dapat? jangan kamu ulangi kesalahan yang sama" ucap Ibu Arini, yang ternyata sudah mendengarkan pemikiran Arini yang tadi ia ucapkan.


Arini kaget dan kemudian menoleh, "Ibu?."


."Ya, ini Ibu"


"Putra sudah tidur?"


"Sudah Bu. Ibu ada perlu apa?" Arini sebenarnya sudah tahu apa kedatangannya kali ini .


"Ibu hanya ingin kamu hidup bahagia, Nak. Tapi tidak dengan cara yang salah, jangan kamu ulangi berbahagia di atas penderitaan orang. Kamu harus sadar apa yang kamu terima ini juga karena kesalahan kamu. Bagaimana mungkin sebagai sesama wanita, kamu tidak peduli hati sesama? jangan kamu bandingkan dengan Refa, coba lah lihat Ibu mu ini dan anakmu, kami adalah wanita. meski Arga juga ikut andil dalam menyakiti Refa, tapi Ibu yakin, Refa lebih membencimu dibanding Arga."


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰


 

__ADS_1


__ADS_2