
Aku tidak bisa bersabar lagi untuk menutupi kekecewaan ini, meski begitu aku tetap berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu masih berhubungan dengan Arini ?"
pertanyaanku kelihatannya membuat dia terkejut.
.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini? bukankah aku sudah menjelaskannya dulu!" jawab Arga berusaha menutupi kecemasan nya
"Kamu tenang sekali ya, Mas. Seolah-olah yakin kalau aku akan percaya dengan alasanmu kali ini" jawab Refa belum selesai,
"Atau, kamu hanya berpura-pura tenang?" lanjut Refa.
"Aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Arini!" jawab Arga acuh.
Dia menjawab sambil berlalu tanpa mau melihat mataku, aku tahu selama ini dia selalu berbohong, aku meneteskan air mata dan berkata,
"Lalu ini apa ?"
Arga berbalik dan melihat ponsel yang berada di tanganku lalu mengambilnya, terlihat jika itu kontak Arini seketika wajah Arga pucat pasi.
"Mungkin aku harus berterima kasih atas hilang nya ponselku. Entah kenapa ,nomor Arini muncul di daftar panggilan beberapa bulan yang lalu, setelah aku ingat-ingat ,pernah saat itu ada panggilan masuk tapi tidak bersuara, aku pikir hanya panggilan iseng. Heh ... ternyata dia Arini, saat aku ketik nomornya di ponselmu keluar nama kontak itu, aku sungguh terkejut atas apa yang aku temukan, ternyata selama i-" belum selesai aku bicara, Arga memotong pembicaraan ku,
"Aku tidak pernah menghubunginya, dia yang selalu menghubungiku terlebih dahulu."
"Tapi kamu menyimpan nomornya, bahkan membalas dan menjawab pesan juga panggilannya !" teriak ku karena kecewa.
Aku hampir terisak, sesak dada ini untuk terus melanjutkan perkataan ku.
"Aku tahu salah, aku minta maaf, Ree ... " lirih Arga.
"Untuk apa ?!" nadaku masih tinggi.
Air mataku semakin deras, Arga memelukku mungkin dia berharap aku sedikit lebih tenang jika dia memelukku.
"Karena aku masih berhubungan dengan nya di belakangmu, tapi aku bersumpah, aku sudah tidak ingin berhubungan dengannya " jelas Arga menenangkan ku.
Aku melepaskan pelukan Arga, aku merasa konyol atas alasannya.
"Aku lelah, Mas. Aku bingung ... harus bagaimana menghadapi sikap mu?" ucap ku.
"Terserah kamu, aku hanya begini adanya syukur jika kamu mau terima kalau tidak, terserah kamu " ucapan Arga seolah tidak berperasaan.
"Baik ... aku akan beri satu kesempatan lagi untukmu, tapi lain kali, kamu harus bersiap untuk kehilangan aku dan Gara, jika kedepannya kamu masih berhubungan dengan arini!" ancam Refa.
__ADS_1
Mungkin saat itu aku terlalu menyayangi Arga, hingga tidak berani mengambil keputusan yang tegas.
Membuat aku semakin terlihat bodoh dimata orang lain dan bahkan dimata Arini.
"Baik !" jawaban Arga yang menggema di telingaku.
Aku runtuh dengan apa yang telah aku ucapkan, kenapa aku tidak bisa untuk meninggalkanmu Arga! meski telah banyak kau sakiti aku, kenapa aku masih mampu menerima luka yang baru.
Aku marah pada diriku sendiri, aku menangis sejadi-jadinya, sedangkan Arga sudah berlalu untuk berganti pakaian.
Mungin dia tidak akan mendengar tangisanku, tapi memang aku berharap, arga tidak tahu aku sedang menangis.
*****
Waktu pun berlalu.
Aku semakin merasa di abaikan bahkan ketika melahirkan. Arga benar-benar tidak mendampingi ku.
Sempat suatu hari aku meminta Arga untuk menemaniku ke bidan, tapi dia tidak merespon.
Aku jalani masa kehamilan tanpa ada suami yang siaga.
"Mas, aku minta anter ke bidan periksa kehamilan bisa, kan ?" pintaku.
"Mas, kamu jangan keterlaluan ya! mana rasa tanggung jawab kamu ?! ingat, kita belum bercerai !" ku kirim lagi pesan pada Arga.
"Aku sibuk, tidak bisa mengantarmu !" jawab Arga akhirnya membalas pesan ku.
"Baiklah, kalau tidak bisa mengantar tapi apa kamu juga tidak akan memberikan aku biaya untuk pemeriksaan anak mu? atau aku harus meminta pada Refa!" tanya ku mengancam.
"Baik. Akan aku transfer!" balas Arga cepat.
Setidaknya dia masih bisa memberikan aku biaya hidup, meski dengan cara seperti ini.
"Rin, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Rina.
"Tentu, karena dengan begini aku lebih mudah mengendalikannya" jawab Arini percaya diri.
"Aku hanya khawatir sama kamu, Rin. Lebih baik kamu harus berhati hati!" kata Rina memperingati Arini.
"Kamu tidak usah khawatir, ini sudah pilihan ku apapun yang terjadi ,aku akan terima dan akan aku jalani" jawab Arini tenang.
"Ya sudah, kamu jangan stress, HPL mu beberapa hari lagi semoga lancar ya" ucap Rina menyemangati Arini.
Dan ketika di hari aku merasakan mulas seperti ingin melahirkan, aku mencoba menghubungi Arga.
__ADS_1
"Mas, sepertinya aku kontraksi" pesan ku pada Arga.
"Aku sedang ke luar kota" jawab Arga.
"Kamu berengsek, Arga! sampai detik ini kamu tidak menepati janji mu untuk bertanggung jawab!" balas Arini.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata, kenapa kamu jadi begini, Mas ...
Dulu kamu baik ,perhatian ,bahkan kamu seorang suami dan ayah yang siaga.
Tapi kenapa hanya untuk Refa, kamu jahat sama aku, kenapa sekarang kamu perlakukan aku seperti ini?!.
Rasa sakit akibat kontraksi terlupakan dengan rasa sakit di hatiku, kenapa hidup ku seperti ini? dulu di hianati sekarang jadi simpanan dan di abaikan.
Entah mengapa proses persalinan ku sangat lama, seperti anak ini tidak ingin lahir ke dunia, setelah lama aku berusaha, tapi janin nya tidak bisa keluar, sampai bidan menyarankan untuk operasi Cesar.
Sementara di luar ruang persalinan, Adikku Jon dan Kakak ku terus berusaha menghubungi Arga, namun dia tidak merespon.
Semua keluarga ku merasa kasihan padaku dan merasa kecewa atas sikap Arga.
Aku berjuang sendiri untuk melahirkan, keringat dan air mata sudah tidak bisa di bedakan, mereka membasahi wajahku, seluruh tenaga sudah ku kerahkan aku bersikeras untuk melahirkan secara normal.
Semua panik atas kondisi dan situasi ku setelah lima jam aku berusaha, namun tidak ada perubahan, kemudian Ibu ku meyakin kan aku untuk tetap kuat.
"Kamu harus bisa, Nak! meski tanpa di dampingi ayahmu ,kamu masih punya kami yang menyayangi mu dan kamu juga, Rin. Harus berjuang atas pilihan mu, Ibu akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi" ucap Ibu Arini menyemangati Anak nya .
Dan akhirnya buah hati ku mau keluar, seketika susana terasa haru dan bahagia.
Ketika anakku lahir ke dunia, suara tangis bayi memenuhi ruangan itu.
"Alhamdulillah, anaknya laki-laki dan sehat " ujar Bu Bidan.
"Alhamdulillah, terimakasih Bu Bidan" ucapan terimakasih dari Ibu Arini.
Lalu Ibu memberikn anak itu ke pelukan ku dan berkata,
"Lihat ... Anakmu mirip dengan kamu."
Aku terharu menatapnya.
"Aku harap kamu akan membawa keberuntungan dalam hubungan ku dengan Arga" ucapku dalam hati.
"Apakah Arga sudah bisa di hubungi ?" tanyaku pada Adik ku Jun yang baru saja masuk untuk melihat keponakannya.
terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1