
"Tapi Bu ... Arini sudah menerimanya , Arini sanggup menjadi yang ke dua" tolak Arini.
"Kamu benar-benar lupa diri, Arini!" Ibu Arini marah.
"Maafkan Arini, Bu. Tapi Arini sudah bertekad ingin menikah dengan Arga" jelas Arini.
Ibu Arini sungguh tidak menyangka dengan keinginan putrinya,
sementara Arga hanya mematung tanpa bersuara.
"Silahkan pulang, kamu tidak di harapkan disini!"
usir Ibu Arini kepada Arga.
"Ibu, aku mohon ... aku hanya tidak ingin terus berdosa dengan melakukan hubungan yang tidak sah secara agama, aku dan Arga saling mencintai dan kami sudah sering melakukannya" jelas Arini secara lugas membuat Ibunya ternganga.
"Kamu benar-benar ... tidak bisa menjaga dirimu dengan baik. Kamu mengecewakan Ibu!."
Ibu arini terjatuh hingga pingsan, suasana disana menjadi panik. Ayah arini mencoba membangunkan istrinya supaya siuman,
Tidak lama kemudian Ibu nya Arini sadar , lalu Ayah Arini mengatur pernikahan sederhana untuk Arini dan Arga.
Pernikahan yang dilaksanakan setelah sholat magrib dan hanya di hadiri penghulu serta Jon, adik nya Arini sebagai saksi.
Setelah pernikahan selesai, entah mengapa Arga merasa gelisah ia teringat istrinya, bagaimana kalau Refa tau masalah ini, bagaimana aku menghadapinya?.
Banyak pertanyaan yang melintas di pikiran Arga, sementara Arini merasa bahagia.
Tapi, dengan sekejap kebahagiaannya sirna. Ketika melihat Arga sedari tadi hanya termangu sambil menyesap rokok di tangannya, tidak terlihat raut bahagia sedikitpun di wajah Arga,
"Kenapa, kamu menyesal menikahi aku ?" tanya Arini yang membuyarkan lamunan Arga.
" ... Entahlah. Aku merasa resah" ucap Arga sedikit ragu.
*******
Waktu itu aku bertekad untuk membalas Refa dan Arga.
Refa sudah menghina aku dengan kata-katanya.
"Jelas Suaminya yang brengsek, kenapa harus aku yang di salahkan!" kesal Arini.
"Arga memang brengsek, datang padaku ketika ingin berhubungan, setelah dia puas dan bosan, lalu pergi menghilang."
Arini merasa semua tidak adil baginya. Suatu hari Arini mendengar kabar bahwa Refa pergi keluar kota bersama anaknya, tapi tidak dengan Arga.
__ADS_1
Sebuah rencana jahat muncul di pikiran Arini .
"Jangan salahkan aku, Refa. Jika aku jahat padamu ini semua salah suamimu yang bermain api denganku."
Wajah Arini terlihat menjijikan dengan perangainya, lalu ia mengatur rencananya.
Dia berpura-pura salah kirim pesan pada Arga, rencananya berjalan lebih dari yang di harapkan.
"Aku tidak menyangka akan semudah ini" gumam Arini.
Hingga Arga datang kerumah, pada saat itu aku merasa apa yang aku rencanakan berhasil. Meski kenyataannya yang menyakitkan karena keberhasilan yang aku raih harus melalui jalan kehinaan.
"Aku tidak peduli lagi akan kehinaan, selama aku bisa menjadi seperti yang aku mau dan mendapatkan apa yang aku inginkan" ucap Arini antusias.
Di hari kedua. Arga datang lagi sesuai permintaan ku dan aku sudah mempersiapkan semua nya dengan sangat sempurna .
"Aku akan membuatmu tidak bisa lepas dariku, Arga" gumam Arini.
Sesuai rencana. Arga terpesona oleh penampilanku, aku sengaja berdandan lebih cantik.
Dengan cuaca yang mendukung semua berjalan dengan sangat lancar .
Ketika penggempuran itu, aku sangat menikmatinya.
Arini menikmati permainan itu dan dia lebih agresif, bahkan ia lebih sering mengambil inisiatif.
Semua rencana Arini sesuai dengan perhitungan, hanya saja permainan kuda-kudaan nya lebih cepat dari yang ia perkirakan.
"Sial, kenapa secepat ini? tadinya aku berencana percintaan ini ketahuan orang tua ku. Supaya Arga di paksa untuk menikahi aku!" geram Arini dalam hati.
Karena rencananya yang satu ini tidak sesuai, orangtuanya datang setelah percintaan mereka selesai.
"Aku harus mengganti rencana, tidak boleh membiarkan Arga lolos lagi kali ini!" batin Arini.
Ketika orangtua Arini tiba Arini memaksa ingin menikah dengan Arga .
"Arga sialan, ternyata benar saja dia hanya ingin melampiaskan hasratnya, semua perkataannya omong kosong! tapi kamu jangan harap bisa mempermainkan aku, justru sebaliknya aku yang akan mempermainkan hidupmu!" dalam hati Arini.
"Kalau mereka tidak melihat Arga yang sedang menggagahi ku maka aku yang akan mengatakannya."
Idenya selalu saja muncul di pikiran Arini, meski ia harus mengorbankan kesehatan ibunya sendiri.
Akhirnya aku dan Arga pun menikah. Meski hanya menikah siri yang sangat sederhana dan hanya di saksikan beberapa orang dari keluarga saja.
Aku tersenyum puas penuh dengan rasa kemenangan, tujuan ku tercapai tapi entah mengapa dadaku berdenyut, ketika melihat Arga seolah tidak merasa bahagia sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa ... kamu menyesal menikahi aku?" tanyaku pada arga yang sedang terlihat gelisah.
" ... Entahlah. Aku merasa gelisah."
"Kamu takut kalau Refa mengetahui pernikahan ini, kan?" tanya Arini.
"Refa tidak akan tahu, kalau kamu tidak memberitahunya !" ketus Arga.
Aku menatap Arga dengan rasa yang sulit di artikan.
"Sampai kapan, Mas. Kamu berencana untuk menyembunyikan hubungan kita ?" tanyaku pada Arga dengan nada yang sengaja ku buat manja.
Aku dekati Arga dan duduk di pangkuannya, aku berusaha merayu Arga supaya dia mau mengakui hubungan nya dengan ku, sesegera mungkin kepada Refa .
"Hmm ... aku sudah berhasil mendapatkan suamimu, Refa. Aku ingin lihat apakah kamu masih bisa sombong setelah mengetahui semuanya?" batinku.
"Entahlah ... kurasa tidak untuk saat ini, aku akan mengaturnya nanti " jawab Arga malas.
Kemudian Arga bergegas untuk pergi tapi aku menahan nya.
"Mau kemana?"
"ini sudah malam, aku harus pulang" jelas Arga.
"Kenapa harus pulang? masa baru nikah kamu langsung ninggalin aku sih, apa kamu akan menyia-nyiakan kesempatan ini? kita sudah menikah dan Refa tidak ada ,kita bisa melakukannya sampai pagi."
Di akhir kalimat ku ucapkan kata-kata itu dengan hembusan nafas berat, tepat d telinga Arga dan dia mulai terangsang.
Aku tau dia tidak akan bisa menolak pesonaku dan malam itu terasa malam yang panjang, kami saling menikmati satu sama lain tanpa merasa lelah.
Tiga hari sudah berlalu, selama itu Arga berada di kediamanku. Hari ini adalah hari Refa pulang .
Malam ini aku tidak akan pulang kesini, karena hari ini Refa akan pulang dan sekarang aku akan pergi untuk menjemputnya" ucap Arga.
Aku hanya terdiam karena jujur saja aku merasa tidak senang..
Quote #
Sebenarnya hidup itu selalu ada pilihan.
Hanya saja, pilihan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjalaninya.
Tapi percayalah, jika kita mampu untuk bersabar dan bertahan dalam jalan kebenaran, meski perih dan terjal semua tidak akan sia-sia.
Apa yang kita tuai adalah hasil dari apa yang kita tanam dan yakinlah keadilan itu ada, dia hanya datang terlambat.
__ADS_1