Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 26.


__ADS_3

Karena terlalu terharu melihat Anak dan suaminya, Refa hanya terdiam melihat interaksi antara anak dan Ayah itu.


Refa tersadar ketika Gara memanggilnya dan dia menghampiri Gara.


"Iya ia. Selamat malam sayangku, semoga mimpi indah" ucap Refa.


Tidak lupa ia mencium kening Gara.


Esok paginya.


Mila sudah menunggu Arga, ia ingin bertanya kenapa pesannya tidak di balas.


Begitu Arga datang Mila langsung menghampiiri Arga dan mengajaknya ke kantin.


"Ada apa?" tanya Arga yang kebingungan dengan tindakan Mila.


"Sengaja. Biar kamu tidak kabur lagi kaya kemaren" ucap Mila ketus.


"Lah. Kemaren? aku kabur? Maksudnya?" tanya Arga tidak mengerti.


Mila menepuk jidatnya, dan berkata,


"Kemarin aku mencarimu, tapi pas ketemu kamu malah pergi ngilang gitu aja. Terus aku kirim pesan gak di bales juga cuman di baca doang!" celoteh Mila yang kesal dengan sikap Arga.


"Ohh. Aku gak tahu kalau kamu nyariin aku. Emang ada perlu apa? kangen ya?" tanya Arga.


Mila menghela nafas. Tidak tertarik dengan gurauan Arga dan berkata,


"Terserah deh apa tanggapan kamu."


"Oke deh. Sekarang aku serius nanya ada apa?" tanya Arga mulai serius.


"Sebenarnya sih bukan masalah serius ... cuma pas liat kamu terburu-buru aku penasaran, pas aku chating cuma di baca doang" jawab Mila terjeda.


"Ia sorry. Kemarin aku mau bales pesan kamu cuma mendadak istri aku telpon. Jadi aku kelupaan" jelas Arga apa adanya.


"Ohh, gitu" jawab Mila dengan nada kecewa.


Dalam hati Mila bepikir,


"Ia juga sih, dia kan uda punya istri. Siapa aku? cuman temen ngobrol yang deket, malah persis seperti teman tapi mesra."


"Hais ...."


Mila menghela nafasnya setelah memikirkan hubungan dirinya dan Arga, yang terdengar oleh Arga dan kemudian Arga bertanya,


"Kenapa? ada masalah? sampai membuang nafas memelas begitu."


"Bukan, hanya saja ... " jawab Mila menggantung.


Ia berpikir sejenak, memikirkan kata apa yang harus ia sampaikan pada Arga, agar dia bisa mengerti keluh kesahnya.


Semakin dipikirkan semakin membuat Mila pusing dan akhirnya berkata,


"Sudahlah tidak usah di pikirkan."


"Its oke. Aku gak akan maksa kamu dan terus bertanya. Namun, jika kamu ingin bercerita, aku bisa jadi pendengar yang baik" ucap Arga menawarkan diri.

__ADS_1


Mila merasa sikap Arga pengertian, dia lebih pengertian dari usianya. Pengertian dan perhatian yang lama Mila rindukan.


Kini Mila dapatkan lagi dari Arga, meski ia sadar kalau perbuatannya akan melanggar atika pekerjaan dan adab rumahtangga.


Tapi apa mau dikata, Mila memilih jalannya sendiri.


"Makasih Ga" ucap Mila yang menatap wajah Arga dengan rasa penuh kasih.


Jelas saja Arga bisa melihat perasaan Mila, yang terpancar dari tatapannya.


Arga awalanya merasa kaget, tapi dengan cepat ia bisa menyesuaikan diri dengan situasi. Lalu berkata,


"Dengan senang hati."


Arga membalas tatapan Mila dan mereka akhirnya saling pandang, perlahan perasaan Mila tumbuh untuk Arga.


Tapi kali ini Mila dengan cepat menyadarkan dirinya, karena takut seperti waktu lalu yang membuat mereka lupa waktu.


"Eh, ini uda jam berapa ya?" tanya Mila yang kemudian melihat jam tangannya.


"Wah sudah waktunya masuk kantor. Yuk kita cabut" ucap Mila.


Kemudian mereka kembali ke tempat kerja.


****


Di tempat lain.


Arini sedang mencari tahu tentang informasi Mila. Ia berusaha keras kali ini, ia harus meminta bantuan pada Jun sang adik.


Dan ternyata Jun memang mahir dalam hal ini, dia tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dengan waktu dua hari saja dia sudah mendapatkan banyak informasi.


"Apa?" pekik Arini tidak percaya.


"Ya. Sekarang suamimu bukan hanya sekedar berengsek, tapi juga bajingan. Bukan cuma berhianat pada janda, tapi juga pada istri orang" jawab Jon dengan tawa mengejek.


"Diam!" bentak Arini tidak terima ejekan dari Jon.


"Cih, aku menyesal membantumu, bukannya berterimakasih malah membentak. Kakak macam apa kau" ucap Jon sambil berlalu meninggalkan Arini sendirian.


Arini termenung cukup lama, pikiranya traveling jauh.


Kemudian ia tertawa dan berkata sendiri,


"Dia lebih gila dari mantan suamiku, keinginan macam apa yang ada di pikirannya? apakah dia ingin mencicipi semua rasa? perawan, janda dan istri orang? hah, ha ha ha ha."


Arini seperti orang gila yang berbicara sendiri lalu tertawa.


"Aku sudah kalah sama Refa dan sekarang aku masih kalah sama istri orang ... " lirih Arini.


Kamudian ia menghubungi Arga melalui panggilan.


Lama panggilan Arini tidak di angkat oleh Arga, sapai panggilan yang ke tiga kalinya barulah Arga menerimanya dan berkata dengan acuh.


"Ya."


"Dimana?" tanya Arini tidak bertele-tele.

__ADS_1


"Kerja" jawab Arga masih acuh.


"Aku ingin bicara!" ucap Arini dengan tegas.


Arga mendengus dan mengusap wajahnya kasar.


Ia malas untuk bertemu Arini, karena pembahasan nya pasti menyangut Mila.


Kemudian ia menolak Arini dan berkata,


"Tidak bisa. Aku sedang bekerja."


"Oke. Kalau kamu tidak mau bertemu denganku, aku akan menemui Refa dan mengatakan tentang hubunganmu dengan Mila" ancam Arini.


"Kamu berani? silahkan saja, aku tidak akan memberikan biaya sepeser pun jika itu terjadi!" ucap Arga menekan Arini.


Kemudian Arga memutuskan panggilannya, tanpa memberi kesempatan pada Arini untuk bicara.


Arini merasa kesal dan tidak puas dengan apa yang terjadi, lalu ia mengirimkan pesan,


"Kamu pikir aku tidak berani? lihat saja. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, aku pastikan hidupmu hancur!" ancam Arini dalam pesannya.


Kemudian Arga membalas,


"Kalau sampai aku dan Refa bercerai, aku juga tidak akan bertahan denganmu dan akan aku pastikan hidupmu juga hancur!."


"Tidak maslah. Jika biar kita hancur semua!" balas Arini.


Arga tidak mau meladeni Arini lagi, ia tidak membalasnya. Kemudian ia memblokir kontak Arini.


Arini murka dibuatnya, ia merutuki dirinya juga menyumpah serapah pada Arga.


Tida lupa ia juga memaki Refa, meski hanya diri sendiri yang mendengar. Setidaknya membuat Arini lebih merasa rileks.


Dia butuh sesuatu yang bisa membuatnya lebih tenang lagi, agar ia bisa merencanakan sesuatu untuk menghadapi Arga.


Kemudian ia teringat pada seseorang, yang mungkin bisa membuatnya melupakan kekacauan situasi saat ini untuk sejenak.


Sesuatu yang bisa menyalurkan emosinya.


****


Sementara itu di tempat kerja Arga.


"Sudah gila dia" gerutu Arga.


"Lihat saja kalau berani! emangnya aku takut apa! dasar sudah gila" ucap Arga sambil bergidik.


Arga tidak tahu kalau Arini sudah nekat sangat jauh.


 


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰


 

__ADS_1


 


__ADS_2