
Selama di perjalanan pulang, Arga dan Gara hanya terdiam dengan wajah yang ketakutan.
Sementara Refa duduk tegak dengan wajah penuh amarah.
Setibanya di rumah, Refa menasehati Anak dan Suaminya, mereka berkumpul di ruang tengah.
"Gara" ujar Refa.
"Ibu?" tanya Gara.
"Apa kamu tahu kenapa kamu tadi kesakitan? dan apa kamu tahu betapa khawatir dan cemasnya Ibu?" tanya Refa.
"Atu tida tau Ibu, atu minta maaf ... " lirih Gara.
"Apa kamu juga tahu, kenapa Ibu marah?" tanya Refa lagi.
"Hm, talena Gala tida menuluti pertatan Ibu" jawab Gara sambil menundukan kepalanya.
"Baik, kali ini Ibu maafkan kamu, sekarang pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu." Perintah Refa.
Kemudian Gara berjalan, sebelum melewati pintu dia mengejek Arga.
"Blweek."
Arga yang melihat kelakuan Gara mengumpat dalam hatinya,
"Anak durhaka."
Refa menyadari itu kemudian berkata,
"Apa kamu ingin bertanya dulu, penjelasan Dokter tentang penyakit Gara?."
Kemudian Arga mendekati Refa dan bertanya dengan serius.
"Apa yang terjadi?,"
"Dia punya amandel yang harus cepat diangkat ... " ucap Refa tak berdaya.
"Apakah separah itu?" tanya Arga penasaran.
Refa menatap Arga dan berkata,
"Karena dokter sudah mengatakan seperti itu bisa di katakan sudah parah. Dokter yang baru melihat kondisi Gara, aku langsung kena sasaran amarahnya Dokter THT itu, dan sakit telinga yang di alami Gara di karenakan kotoran yang di hasilkan dari amandel itu sendiri. Karena sudah menumpuk dan terlalu lama, kotoran telinganya menjadi kering itu bisa menyakitkan" jelas Refa panjang lebar yang di akhiri helaan nafas panjang.
"Kenapa bisa begitu, Re? bukankah kamu selalu rajin membersihkan kotoran telinga Gara?" tanya Arga yang tidak mengerti keseluruhan nya.
"Hah, aku juga tidak begitu paham masalah ini" jawab Refa merasa bersalah.
Lalu Arga mengusap pundak Refa dan berkata,
"Tidak apa, kamu sudah berusaha keras menjaga Gara, itu bukan salah kamu."
Refa menatap Arga lalu memeluknya.
"Terimakasih" ucap Refa terharu dalam pelukan Arga.
Kemudian Refa melepaskan diri dan berkata,
"Tapi kamu juga jangan mengikuti semua keinginan anak itu! sudah tahu anaknya sakit kenapa kamu masih berani memberinya ice cream!"
"Hanya ice cream, kan?" jawab Arga sambil memalingkan pandangannya.
"Kamu memang tidak mengerti ... " ucap Refa tidak berdaya.
__ADS_1
Hari berikutnya.
Kali ini Arga bangun pagi karena Refa yang membangunkannya.
Hari itu terasa manis untuk Arga, apalagi dia juga mendapat pesan dari Mila.
"Aku tunggu balas budinya nanti siang."
"Tentu" balas Arga.
Setibanya di kantor, seperti biasa keadaan selalu ramai, dan Arga memilih mengabaikannya kali ini, dia langsung masuk ke ruangannya.
Hingga waktu makan siang pun tiba, Arga tidak lupa dengan janjinya, kemudian dia mengirim pesan pada Mila.
"Tunggu aku di tempat biasa."
Mila terlihat senang melihat pesan dari Arga, kemudian dia pergi ke tempat yang di pinta Arga untuk menunggunya.
Setelah mereka bertemu, lalu mereka pergi ke suatu tempat.
"Maaf ya, kemaren aku sudah merepotkan kamu dan terimakasih" ujar Arga.
"Cuma dua kata itu aja?" tanya Mila.
Arga tersenyum mendengar pertanyaan Mila lalu Arga menjawab,
"Kalau begitu, Bu Mila mau aku bagaimana?"
"Entahlah, sekarang aku belum ada permintaan, mungkin lain kali" jawab Mila.
"Tapi kalau lain kali, aku tidak bisa janji menepatinya, loh" goda Arga.
Kemudian Mila menjawab dengan mengibaskan tangannya.
"Asal kamu senang" ujar Arga sambil terus mentap Mila.
Mila yang sadar di perhatikan terus oleh Arga, dia jadi merasa malu sendiri.
"Emang kemarin kamu kemana? Kenapa tiba-tiba izin?" tanya Mila mencairkan suasana yang canggung.
"Kemarin aku ke Rumah Sakit dan sangat mendadak" jelas Arga.
"Siapa yang sakit?" tanya Mila.
"Anak ku" jawab Arga singkat.
Dan mereka pun berbincang lumayan lama sampai lupa waktu.
Karena akhirnya mereka baru tersadar saat waktu mulai sore, mereka pun memutuskan untuk pulang.
***
Hingga suatu hari, Arini mendapatkan lagi kabar tentang hubungan Arga dan Mila, kali ini lengkap dengan sebuah foto.
Setelah menerima laporan dari teman-temannya tentang Arga dan Mila.
Perasaan Arini kacau, ia menatap langit-langit rumahnya, lalu menoleh dan menatap wajah anaknya yang sedang terlelap.
Air matanya perlahan menetes. Kini ia benar-benar hancur, ia merasa takdir tidak adil baginya.
"Kenapa, kenapa aku merasa sakit? kenapa memangnya kalau Arga selingkuh? aku ini hanya simpanannya" gumam Arini.
Lalu ia mengirim pesan pada Arga,
__ADS_1
"Di mana?,"
"Kerja" jawab Arga singkat.
"Ngomong-ngomong, sekarang kamu kerja dimana? boleh jika aku berkunjung ke tempat kerja mu?" tanya Arini sengaja.
"Tidak!" lagi-lagi jawaban nya singkat.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Arini mengintrogasi.
"Jika kamu ingin bertemu, biar nanti sore saja aku yang ke rumahmu" balas Arga.
"Baiklah. Aku tunggu loh!" katak Arini .
Sore pun tiba dan Arga menepati janjinya pada Arini, dia pergi kerumah Arini .
"Gimana kabarmu, Mas?" tanya Arini memulai percakapan.
Karena sejak Arga datang, dia hanya diam membisu dengan terus berkutat dengan ponselnya.
"Baik. Kamu?" jawab Arga dan bertanya balik.
Arini merasa sudah tidak bisa terus menunggu, dan sekarang adalah saatnya dia untuk bicara.
"Sebenarnya ... aku sedang tidak baik, perasaanku kacau."
"Kenapa?" tanya Arga kali ini sambil menatap Arini.
"Boleh aku bertanya, Mas? dan tentu aku ingin kamu menjawab jujur" kata Arini.
"Apa?" tanya Arga singkat dan cepat.
"Apa kamu masih mencintai dan masih menginginkan ku, Mas?" tanya Arini serius.
Gerakan Arga yang sedang berkutat pada ponsel terhenti, lalu ia menoleh pada Arini. Tapi ia kembali menatap ponselnya dan berkata,
"Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu, tolong katakan dengan jelas singkat dan padat."
Arini tersenyum ketir atas ucapan Arga lalu menjawab,
"Aku tidak pernah meminta atau menginginkan untuk jadi satu-satunya wanita di hatimu, aku mau jadi simpananmu, bukan berarti aku juga mau kamu hianati. Refa pengecualian untuk ku, tapi jika yang lain, aku tidak bisa sesabar dan sebaik Refa" ucap Arini panjang lebar.
Ku lihat Arga masih fokus pada ponselnya, tapi ia tetap menjawab,
"Aku hanya meniru cara mu."
Aku tidak mengerti dengan jawaban Arga lalu bertanya,
"Maksud kamu?,"
"Tidak usah berpura-pura, dan melemparkan kesalahanmu padaku. Kamu tidak ingin bercerai dengan ku, tapi kamu malah bermain di belakangku. Aku rasa apa yang aku lakukan sekarang, belum seimbang!" jawab Arga dengan menggebrak meja.
Aku kaget dibuatnya, dan tidak mengerti kenapa Arga tahu tentang masalah ini. Aku mencari cara untuk menutupi masalah ini, dan mengalihkan topik pembicaraan.
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
.
.
__ADS_1