
"Aku merindukan mu, Mas. Apa kamu tidak merindukan aku? atau ingatkah kamu sama anakmu, Mas?"
tanyaku pada Arga lewat pesan singkat, tapi tidak di balas oleh Arga.
Entah mengapa hatiku terasa gelisah dan hampa.
"Apa yang kamu lakukan di belakangku, Mas?" tanya ku dalam hati.
Lalu tiba-tiba salah satu temanku menghubungiku.
"Hallo, Rin. Apa kabar ? kemana aja nih gak keliatan, lagi jadi Ibu yang baik ya ? Haha." Suara teman Arini dari sebrang sana.
"Ketawa aja sepuasnya ya, mumpung masih bisa ketawa" Arini berkata dengan tidak senang,
"Kamu sih, habis melahirkan asik sama dunia sendiri, lupa deh ama kita!" ejek temannya.
"Ya namanya juga habis melahirkan, kaya gak pernah punya anak aja sih! nanti kalau sudah saatnya, aku juga pasti keluar lagi"
"Keluar dari sangkar? Haha" lagi-lagi teman Arini menertawakannya.
"Ckk, berisik deh, kamu nelpon ada perlu apa? aku lagi sibuk !" tanya Arini tidak sabar.
"Ya sayang bangeut dong, tadinya aku punya kabar berita terhangat, tapi karena kamu lagi sibuk-"
belum selesai temannya bicara, Arini dengan cepat mengatakan,
"Ya sudah cepat katakan, ada berita apa?!."
"Haha katanya lagi sibuk?"
ejek temannya.
"Mau menyampaikan berita aja banyak basa basinya." Arini semakin kesal dibuatnya.
"Baik. Aku katakan, tapi ... kamu harus janji jaga emosimu ya!"
kata temannya.
Arini memutar bola matanya dan berkata,
"Baiklah. Cepat katakan, aku tidak suka bertele-tele!"
kemudian temannya mengatakan,
"Tadi siang, aku melihat Arga makan bareng sama cewek berduaan, aku gak kenal siapa ceweknya, tapi dia memakai baju seragam pegawai yang sama dengan Arga, entah rekan kerja atau bukan."
Kemudian Arini bertanya,
"Dimana?"
"Di mall teratai, tapi mereka pulang membawa kendaraan masing-masing"
jawab teman Arini.
"Baiklah, kamu sudah berusaha keras, terimakasih banyak" lalu Arini menutup telponnya.
__ADS_1
Bagus kamu Arga! mengabaikan aku bukan karena Refa saja, tapi karena ada yang baru rupanya, gumam Arini dalam hati.
"Oh, ternyata suamiku ini punya mainan baru?" pesan Arini yang dikirim kepada Arga.
"Pantas saja aku lihat status Refa, sedang merasa tidak puas, ternyata bukan cuma aku yang merasa di abaikan" tambah Arini mencemooh.
Tapi Arga tidak membalas satu pun pesan dari Arini, tentu saja mrmbuat Arini tidak suka dan mengirimkan lagi sebuah pesan singkat,
"sepertinya Refa tidak tahu tentang mainan baru kamu?"
"apa mau kamu?!" balas Arga.
"Tidak banyak, hanya perlu kamu untuk datang menemuiku!" pinta Arini.
Arga memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, kemudian membalas,
"Untuk apa? bukankah uang mingguan mu sudah aku kirim? aku sedang sibuk!."
"Oh, sibuk dengan mainan baru, kah?" tanya Arini.
"Sudahlah, akan aku usahakan" balas Arga dengan pasrah, tidak mau berdebat dengan Arini.
Di tempat lain, Refa terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil minum, tidak sengaja melihat Arga sedang fokus pada layar ponselnya.
Saking sibuknya, Arga sampai tidak menyadari keberadaan Refa yang sudah ada di hadapannya.
"Kamu belum tidur ?"
tanya Refa dengan suara seraknya, mengagetkan Arga dan langsung menoleh ke arah suara.
"Astaga ! ... Refa?" Arga mengusap wajahnya kasar dan berkata dengan kesal,
"Kamu lagi apa berdiri disitu, dengan penampilan yang berantakan?, ngagetin saja!."
sementara Refa juga ikut kaget karena teriakan Arga, malah masih harus di marahi, dia merasa tidak suka lalu berkata dengan ketus,
"Salah sendiri terlalu asik dengan ponsel, sampai aku hadir saja tidak sadar, malah aku yang di marahi, dasar!."
Kemudian Refa melanjutkan kegiatannya untuk mengambil air minum dan kembali ke kamarnya dengan raut wajah yang kesal.
Sementara Arga membenarkan posisi dan menghela nafas lega,
"Huh ... untung saja" ujarnya sambil mengusap dada, bersyukur Refa tidak menyadarinya, kalau Arga sedang chatting dengan Mila dan juga Arini.
Keesokkan paginya, Arga pagi sekali sudah berangkat dari rumah, membuat Refa bertanya-tanya dalam hatinya,
"Mau kemana dulu Arga? masih pagi begini sudah pergi"
tetapi Refa tidak berniat untuk menguntit Arga, karena dia tidak ingin repot-repot meninggalkan Gara demi mencari tahu masalah Arga.
Setibanya Arga di rumah Arini meski masih pagi sekali, tapi Arini dan anak-anaknya sudah bangun, bahkan Putri sudah berangkat ke sekolah.
"Aku tidak bisa lama-lama, setelah ini mau langsung ke kantor, jadi ... bisakah kita bicara sekarang? Putri juga sudah pergi, kan?" tanya Arga tidak sabar ingin segera meninggalkan kediaman Arini.
"Segitu tidak inginnya kamu tinggal di rumahku, Mas? datang-datang langsung bicara begitu! jangankan menanyakan kabar anakmu, sepertinya melihat juga enggan" ucap Arini dengan kesal.
__ADS_1
"Sudah ku bilang aku sib-"
belum selesai Arga bicara, Arini dengan cepat memotongnya,
"Sibuk dengan mainan baru mu, kan?"
"Aku tidak mengerti apa maksud kamu, tapi sepertinya tidak ada yang mau di bicarakan? Kalau begitu-" lagi-lagi Arini memotong ucapan Arga.
"Bisakah kamu menunggu sebentar? Putra baru saja mau tidur, kamu juga lihat, kan ?" ucap Arini dengan santai, dia tidak mau kalau Arga cepat pergi.
Akhirnya Arga menunggu dengan terpaksa, untungnya Putra tidak terlalu susah untuk di tidurkan.
Melihat Arini keluar dari kamar, Arga langsung bertanya tanpa mau menunggu,
"Sudah bisa sekarang?"
"Kenapa terburu-buru?" ucap Arini dan menghampiri Arga, berniat ingin membelai Arga, tapi dengan cepat Arga menghindar.
"Kamu ... barusan, menghindar ?" tanya Arini tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi, karena biasanya Arga tidak pernah menolak sentuhan Arini.
"Aku tidak punya banyak waktu, maaf" jawab Arga tanpa memperdulikan pertanyaan Arini.
Kemudian Arini pun mencoba lagi untuk menyentuh Arga, meski akhirnya Arga masih tetap menghindari sentuhannya.
"Ada apa denganmu? kenapa terus menghindari aku!" ucap Arini kesal.
"Aku ... sedang, tidak nyaman di sentuh" jawab Arga terbata.
"Tidak nyaman? ... heh, bukan karena sudah cukup puas dengan yang baru, makanya tidak mau aku sentuh!"
ketus Arini .
Lalu arga menjawab dengan singkat dan acuh tak acuh,
"Terserah!."
Tentu saja membuat Arini semakin kesal dan marah.
"Kamu sudah punya Refa dan aku, apa masih belum cukup? sampai harus menghadirkan yang ke tiga!" ucap Arini dengan nada yang cukup tinggi.
Arga tidak menjawab, dia hanya melotot dan Arini kembali bicara,
"Aku sudah pernah bilang, saat kamu mau memberi uang, tidak bisakah kamu sendiri yang mengantarkannya kepadaku? anggap saja kamu sedang membeli aku! alih-alih kamu mencukupi kebutuhan batin ku, kamu malah ingin memuaskan wanita lain! kamu semakin hari semakin berengsek!" maki Arini tanpa henti.
"Jadi ... ini yang mau kamu sampaikan?" tanya Arga acuh.
Arini tidak percaya dengan sikap Arga, kemudian ia berkata dengan jahil,
"Aku penasaran, bagaimana reaksi Refa ketika tahu kalau kamu punya mainan baru ?"
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1