
"Lalu kamu menikahi Arini untuk apa jika kamu tidak serius padanya? dan jika memang tidak ada rasa cinta bagaimana bisa sampai memiliki anak? kalau kamu merasa anak itu bukan anak kamu, kenapa kamu mengatas namakan aku untuk bertanya padanya dan kenapa tidak tes DNA saja?" tanya Refa menyelidik.
"Iya, awalnya aku memang suka sama Arini, tapi semakin lama aku sadar perasaanku pada Arini hanya nafsu sesaat. Aku menyesal, Refa. Mungkin ini hukuman dari Tuhan, kalau saja waktu itu aku menerima takdir, jika hubunganku dengan Arini harus berakhir saat kamu mengetahuinya, mungkin semua ini tidak akan serumit seperti sekarang,"
"Untuk anaknya. Aku tidak pernah terpikirkan untuk memiliki anak darinya, ketika berhubungan badan ia bilang meminum pil KB. Makanya aku merasa ditipu bahkan merasa di hianati olehnya, karena itu juga aku berpikir anak siapa itu?,"
"Entah kenapa aku merasa tidak memiliki ikatan batin dengan anak itu. Apa kamu tidak mendengar apa kata ayahnya Arini? kenyataannya memang seperti itu. Aku tidak pernah menggendong anaknya, rasa sayang di hatiku tidak pernah tumbuh untuknya,"
"Dan untuk tes DNA. Aku pernah menyarankannya pada Arini, tapi dia malah marah, apalagi kalau menyarankan pada keluarganya? Mungkin mereka akan lebih tersinggung."
Arga bicara panjang lebar untuk menjelaskan dan Refa hanya mendengarkan, Refa membiarkan Arga menyelesaikan ucapannya.
Setelah Arga selesai bicara, kemudian Refa bertanya,
"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Mas? diantara kamu dan Arini tidak akan berakhir samapi disini meski kalian sudah bercerai, karena diantara kalian ada anak yang sampai kapan pun akan terus terjalin, meski kamu tidak mau mengakuinya."
"Entah benar kamu tidak punya rasa ikatan batin, atau hanya karena kamu malu mengakuinya di hadapanku, Mas" lanjut Refa dalam hatinya.
"Aku janji, mulai dari sekarang akan terbuka sama kamu, Re. Aku akan menunggu kesiapan kamu untuk menerima anak itu"
"Entahlah, untuk saat ini aku belum bisa menerimanya" jawab Refa malas.
"Jika kamu bersedia, pemberian nafkah pada anak itu akan aku serahkan sama kamu, apapun mengenai tentang anak itu semua akan melalui prosedur kamu. Jadi, tidak akan ada sangkutan denganku, agar tidak ada kesalahpahaman antara aku dan Arini kedepannya."
Refa hanya terdiam mendengar ucapan Arga, ia belum memikirkan starategi apa yang harus di lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini.
"Aku tidak pernah berpikir hidup ku akan berwarna seperti ini, jadi mana aku tahu, kalau akan ada saat aku harus memiliki rencana untuk melakukan suatu hal besar. Ohh ya Tuhan, aku masih belum percaya dengan yang terjadi pada diriku" gerutu Refa dalam hatinya.
Refa hanya menghela nafas kasar dengan memutar bola mata ke atas.
Arga menyadari gerakan istrinya, ia berpikir apakah Refa lelah atau malas mendengarkannya?
Kemudian Arga berkata,
__ADS_1
"Terimakasih ... dan maaf, Re."
"Maaf telah menyakitimu, mengecewakan kepercayaanmu, menyia-nyiakan kesempatan yang pernah kamu beri,"
"Kamu sudah mau memaafkan aku lagi, memberi ku kesempatan lagi, juga mau membantuku menyelesaikan masalah dengan Arini,"
"Aku merasa telah terlepas dari sebuah tumpukan batu besar yang menindih tubuhku, aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku jujur, mungkin akan lebih cepat untuk berakhir. Sungguh aku bersyukur akhirnya bisa terbebas hidup dalam ancaman."
Arga terus berkicau tanpa tau kalau Refa merasa ucapannya hanya bualan, mungkin karena Refa telah kecewa karena terlalu percaya, yang akhirnya malah di kecewakan.
Dalam diam Refa berkata di hatinya,
"Maaf, Mas. Kali ini aku sudah tidak bisa percaya padamu, hatiku tidak bisa menerima ucapanmu. Tapi aku masih ada harapan bahwa yang kamu katakan sesuai dengan apa yang kamu lakukan."
"Kamu kenapa sayang, kenapa melamun, apakah kamu meragukan ucapanku?" tanya Arga yang menyadari kalau Refa tidak merespon.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang mencerna yang baru saja terjadi, apakah aku bisa menghadapi Arini di kemudian hari, jika ia benar-benar datang mengantarkan anaknya?."
"Kamu pasti bisa, kamu harus yakin. Lihat, sekarang saja kamu sudah membuktikan kalau kamu sanggup dan berani menghadapi Arini, bahkan kamu membuatnya diam" ucap Arga memuji Refa sekaligus menyemangatinya.
"Kenapa? aku bicara sebenarnya" Arga pun ikut tersenyum.
....
Kemudian mereka menjemput Gara dan kembali kerumah mereka.
Arini tidak berhenti menghubungi Arga dan Refa.
Pada malam harinya dia mengirimkan pesan,
"Putra marah, dia merajuk karena tidak bertemu dengan kamu. Tapi tidak apa-apa, tidak usah di hiraukan."
Arga benar-benar tidak menghiraukannya, begitu juga Refa, kali ini Arga merasa tenang dan berani karena didampingi istrinya untuk melawan Arini.
__ADS_1
"Dengar! karena sekarang aku di pihakmu, jadi kamu tidak perlu takut lagi dengan ancaman Arini, Mas. Maka dari itu, kamu harus jujur tentang semua apa saja yang pernah kamu lakukan dan sembunyikan dariku, tanpa terkecuali" ucap Refa mengingatkan Arga dan meminta untuk mengatakan semua rahasianya selama ini.
Namun Arga juga adalah laki-laki yang memiliki ego tinggi, mana mau dia mengakui kesalahannya.
"Bisa hancur image ku di matamu, Re. Kalau aku jujur tentang semuanya, aku tidak ingin kamu menganggap aku rendah seperti binatang" ucap Arga dalam hatinya.
Dan teror arini berlanjut hingga hari ketiga setelah Arga menceraikan Arini, mulai dari meminta identitas untuk anaknya hingga kasih sayang.
Kali ini Arini benar-benar bentindak kelewatan, hingga Arga dan Refa mulai jengkel di buatnya.
"Kalian memang pasangan yang cocok, satunya penipu dan satunya bermulut kejam dan tidak berperasaan" pesan yang di kirim Arini pada Arga.
Tak cukup mengirim pesan pada Arga, Arini pun mengirim pesan pada Refa.
"Mau saja di bohongin, pertama percaya, kedua percaya lagi, sampai yang ke tiga masih percaya. Haha."
Refa dan Arga tidak membalas awalnya, tapi Arini tidak berhenti dan tentu saja Refa tidak bisa menahan untuk terus diam.
"Biarin. Yang di bohongin dan di tipu bukan cuma aku, tapi hanya kamu yang terhina. Memang sih, kerikil tetap saja kerikil, mana bisa naik kelas jadi berlian. Meskipun benar saat ini aku masih di bohongi, setidaknya aku masih di posisi tertinggi jauh di atas kamu!" Refa mengejek Arini dalam balasan pesannya.
"Dia pikir bisa menindas ku, hah. Jangan harap!" Lalu Refa menggerutu.
Dan Arini membalas pesan Refa,
""Cih, wajahmu saja yang terlihat lugu, ternyata kelakuanmu dibelakang Arga lebih bejat dariku. Mengatai ku murahan, tapi nyatanya kamu lebih murahan!."
"Hah. Coba kamu lihat, Mas. Arini bilang kelakuan ku lebih bejat di belakangmu.
Refa berhenti saat dirasa ucapannya aneh, lalu ia menyadari sesuatu dan berkata,
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰Â
Â
__ADS_1
Â