
Apalagi Arini memiliki libido yang tinggi, setelah membaca pesan dari Arini, Arga mencibir.
"Ckk ck ck ... ternyata kamu merindukan belaian ku? memang kalau dipikir-pikir, sudah lama juga aku tidak pernah menyentuhnya"
Lalu Arga membalas pesan Arini. "Baiklah."
****
Hari selanjutnya, Refa tidak sengaja melihat ponsel Arga tergelatak sembarangan.
Maksud hati ingin mengambil untuk di rapihkan, namun rasa penasaran itu lebih kuat dan Refa membuka ponsel Arga.
Dia melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak asing baginya, mungkin Arga lalay kurang rapih dalam menghapus bukti secara detail.
Dia masih menyisakan sedikit bukti namun berhasil memicu api yang akan berkobar.
Lalu Refa meletakan ponsel Arga dengan kasar, kemudian mengirimkan pesan pada nomor yang ada dalam daftar panggilan Arga.
Dan ternyata memang nomor Arini.
"Jadi kamu masih berhubungan dengan suamiku!" pesan Refa pada Arini.
Arini terkejut saat membuka ponsel ,ketika mendapat pesan dari nomor Refa.
"Heh ... kamu sangat bodoh Refa ,mau saja di bodohi ,aku tidak akan melepaskan Arga ,dia sumber mata pencaharianku."
Arini berkata dengan senyum miring di wajahnya, yang terlihat jelek.
"Tidak. Aku sudah tidak pernah menghubungi suamimu" balas Arini.
Dia berpura-pura pada Refa, karena tidak mau kehilangan atm berjalannya.
"Ini belum saatnya untuk kamu tahu segalanya Refa, tenang saja , nanti akan aku ledakan bom waktu nya untuk mu" gumam Arini .
Kemudian pesan masuk balasan dari Refa.
"Apa kamu anggap aku bodoh? kamu menghubungi suamiku tapi berlagak tidak ada apa-apa, apa karena demi uang ?!" sindir Refa.
"Wajar saja kalau memberi uang jajan anak" balas Arini sengaja menabur garam pada Refa.
Refa menganga setelah membaca pesan Arini .
"Apa dia gila atau aku yang bodoh? aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bagaimana bisa dia bicara seperti itu?! heuh ... anak? uang jajan? kenapa juga Arga harus memberi uang jajan anaknya? ya Tuhaan, aku bisa gila" racau Refa yang kebingungan ,belum bisa mencerna pesan Arini,
kemudian arini mengirim kembali pesan .
"Maaf, jangankan nafkah lahir, nafkah batin juga tidak!."
"Hah ... ha haha ... apa dia bilang?! nafkah? lahir? batin? apa ini semua ?!."
Di akhir kalimat Refa hampir setengah berteriak, semua yang di katakan Arini ,sungguh tidak bisa di cerna oleh Refa.
Sementara Arini sedang merasa puas atas apa yang dia katakan .
__ADS_1
"Pasti sekarang Refa sedang kebingungan, kan? hehe, ini baru permulaan Refa, aku akan membuat kamu lebih menderita ! hahaha haha ."
Arini terlihat menyeramkan dan jelek. Lalu dia berkata kembali,
"Sekarang belum waktunya kamu tahu tentang anakku, biar kuberi petunjuk kecil dulu, kedepannya pasti kamu akan lebih penasaran pada anakku!."
Setelah itu Refa tidak membalas lagi pesan Arini, karena kata-kata Arini berhasil membingungkan Refa, tapi kali ini , Refa tidak menanyakan atau memberi tahu Arga masalah ini.
Karena saat itu, Refa menghindari perselisihan antara dirinya dan Arga, dia merasa semua ini tidak masuk akal, ingin menanyakan ,namun takut malah menjadi masalah besar.
Selain tidak ingin bertengkar, tapi juga karena Refa tidak sanggup untuk kenyataan yang menyakitkan, pikiran Refa kacau, tapi ia berusaha menutupinya.
Ia berusaha untuk tetap tersenyum ,seolah tidak ada apa-apa, yang membuat Arini semakin puas, karena itu yang di harapkan Arini, dengan begitu Arini tidak harus susah payah bertengkar dengan Arga.
Waktu terus berlalu.
Hingga hari dimana Arga diterima oleh sebuah perusahaan, ternyata Arga berhasil lolos seleksi.
"Ree ... aku lulus seleksi Ree, dan minggu depan aku mulai pelatihan."
Arga bercerita dengan antusias pada Refa, dan Refa menanggapi dengan gembira.
"Alhamdulillah, kamu di tempatkan dimana mas ?."
"Aku masih belum tahu soal itu, Ree. Baru dapet kabar aja katanya untuk tempat akan di bahas saat pelatihan, makanya besok aku harus pergi ke pelatihan" jelas Arga.
"Ya udah Mas, kalau gitu selamat yaa, sukses terus "
Refa menggoda Arga ,dengan berbisik di akhir kalimat ,sambil mengelus dada bidang Arga.
suara Arga terdengar berat dan parau, menandakan kalau ia telah terangsang.
Refa semakin menantang ,dengan menempelkan bukit kembar nya ke dada bidang Arga, menggesekkan nya sambil berkata,
"Anggap saja hadiah atau perayaan ,sebagai penyemangat di awal kesuksesan."
Tapi Arga teringat hal yang terjadi terakhir kali mereka melakukan kuda-kudaan, lalu bertanya,
"Gara di mana ?,"
"Gara di bawa bermain sama tante nya tadi pagi, katanya pulang sore " jawab Refa.
Arga tersenyum puas, dan langsung menggendong Refa menuju kamarnya.
Kemudian mereka pun melakukan jungkat-jungkit, sampai beberapa ronde
*****
Satu bulan berlalu, pelatihan Arga berjalan dengan lancar, dan sekarang Arga sudah memulai pekerjaan barunya .
Kehidupan Arga bisa di bilang mulai menemukan keseimbangan nya kembali, pekerjaan yang terbilang ringan dan juga simpel.
Memperkenalkan banyak teman, orang-orang, lingkungan dan pengalaman baru .
__ADS_1
Begitu juga pertemuan dengan orang ketiga yang baru .
"Ini anak baru ya, dari mana ?" tanya Mila, senior di tempat kerja Arga yang baru .
"Ia Bu. Saya dari kota xx dan nama saya Arga, mohon bimbingannya."
"Aish, gak usah sungkan, panggil aja aku Mila" ucap Mila memperkenalkan diri.
"Ohh ... Baik Bu, ehh ... maaf, aku belum terbiasa" jawab arga canggung,
" Hahahaha ... tidak apa-apa" ucap Mila.
Hari demi hari berlalu, Arga jalani dengan kesibukan yang penuh semangat.
Hubungan arga dan Mila semakin dekat dan akrab, entah mereka lupa atau mengabaikan etika dalam hubungan sosialisasi bersama rekan kerja.
Kedekatan mereka tidak seperti rekan kerja biasanya, bisa dikatakan terlalu dekat. Hingga suatu hari, Arga mendapat pesan dari Mila.
"Arga, kamu lagi dimana? aku butuh tandatangan mu, bisa ke kantor hari ini?" pesan dari Mila.
"Oh baiklah, aku segera kesana." jawab Arga.
Tanpa basa basi Arga pergi menuju kantor, padahal hari itu Arga sedang di lapangan.
"Oke Bu, apa yang perlu saya tandatangani?" ucap Arga sampainya di kantor.
"Ini Beb, tandatangan sebelah sini. Maaf ya, ngerepotin dan mengganggu aktivitas nya." ucap Mila.
"Oke ... sudah selesai. Ini aja?" tanya Arga.
"Ia sih udah ini aja, tapi kalau mau traktir aku makan siang juga boleh" pinta Mila
"Boleh, ayo!" ajak Arga.
"Yu !" sahut Mila.
Mereka pergi makan siang diluar.
"Bu Mila, uda berapa lama kerja disini ?" tanya Arga mencairkan suasana.
"Sudah lama sih, ada lah lima tahun" jawab Mila.
"Mm, lama juga ya? uda senior." Puji Arga sambil tersenyum.
"Tck, biasa aja" decakan Mila terdengar, mukanya menjadi merah karena gerogi .
Mereka berbincang seperti sesi tanya jawab, semakin hari hubungan mereka semakin jauh.
Suatu ketika, Refa pernah menemukan percakapan dalam group,
Terimakasih telah membaca karya ku 🥰
__ADS_1