
"Tidak bisa, aku tidak bisa berhenti sekarang, ahhh aku ... aku mau" ucap Arga ter engah tidak bisa menahan sesuatu yang ingin keluar .
"Arga, ber-hen-ti ... oh" kata Refa.
"Tidak, ah sebentar lagi uhh" jawab Arga mendesah.
"Ibu ... "
Ceklek.
Refa tidak bisa tinggal diam ia kemudian mendorong Arga dari tubuhnya.
Bukkk
"Ibuu, tamu cedang apa? cuala apa itu ?" tanya Gara penasaran mendengar suara Arga terjatuh.
Arga terjatuh ke bawah ranjang dengan ke adaan tidak wajar.
Sementara Refa berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut , tidak peduli Arga yang terjatuh ke lantai tanpa sehelai benang pun, mata Gara tertuju kepada Arga.
Untungnya Gara tidak mengerti apapun.
"Ayah? apa itu benal Ayah? Ayah ,Ayaaah."
Dia berlari menghampiri Arga, tapi Arga shock dengan keadaannya. Kemudian Refa melemparkan handuk kecil padanya yang berhasil di tangkap dengan tepat oleh Arga, ia menutupi miliknya segera mungkin.
"Tunggu ... tenapa Ayah ada di tamal ibu? butan nya Ayah lagi telja?" selidik Gara.
"Ayah sudah pulang boy ... "
ucapan Arga terdengar lirih.
Dia kecewa dan marah pada Gara, namun apa daya ia tidak berani berbuat apa-apa.
"Ohh, Ayah uda pulang, tapan? dan tenapa Ayah tidak patai baju ?" pertanyaan Gara yang polos dengan nada bicara khas anak seusianya .
Arga dibuat salah tingkah .
"Ayah ... mau mandi, ia ... Ayah mau mandi ,karena kaget ada Gara yang membuka pintu, jadinya Ayah terpeleset ,makanya lain kali tidak boleh masuk sembarangan ,oke !"
Arga menjelaskan dengan terbata-bata.
"Hehe, ote Ayah ,tapi ... ibu temana ?" tanya Gara.
kemudian Refa yang sedang di atas ranjang pun pura-pura tertidur, Arga melihat sikap istrinya mengerti harus bicara apa .
"Ibu mu sedang tidur, apa kamu tidak lihat ?" ucap Arga sambil menunjuk ke arah Refa, lalu Gara mengangguk mengerti.
"Oke boy, sekrang kamu keluar ya, jangan ganggu Ibu mu yang sedang tidur, Ayah mau mandi" kata Arga.
"Tapi .. Gala hauc dan lapel yaaah ... "
Gara berkata dengan nada memelas dan wajah yang menggemaskan .
" Baiklah, kamu tunggu dulu di ruang makan atau makan camilan sambil nonton tv dulu, ya. Nanti Ayah akan bangunkan Ibu mu ,oke!" seru Arga.
__ADS_1
"ote ,tapi jangan lama-lama, Gala uda lapel bangeut" pinta Gara.
"Ia ia ia ,bocah" ketus Arga.
Kemudian Gara keluar dan Arga mengacak rambutnya prustasi, sedangkan Refa menghela nafas lega, lalu melihat Arga yang sedang menatapnya dengan tatapan yang menakutkan, Refa berusaha menjelaskan,
"A-aku minta maaf, i-ini diluar kendali."
Arga tidak menjawab ,ia berpaling lalu berdiri dan hendak pergi ke kamar mandi.
"Aku akan menebusnya!" seru Refa.
Arga menoleh dan menatap Refa dengan pikiran kacau,
"Sudahlah, aku sudah tidak bernafsu, lagi pula bocah menyebalkan itu sedang menunggu mu!."
"Bagaimana dengan nanti malam ?" Kali ini Refa menghampiri Arga dengan tubuh yang tidak memakai apapun dan memeluk tubuh Arga yang hanya mengenakan handuk kecil, tapi Arga menghindarinya.
"Aku mau mandi dan beristirahat, pergilah! jangan ganggu aku!."
Kemudian Arga bergegas meninggalkan Refa dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.
"Aishh ... sepertinya dia marah ,aku kan tidak sengaja" gumam Refa.
*bersambung.....
*****
Di tempat lain dimana Arini berada .
"Dari kemarin dia tidak membalas pesan ku ,panggilan pun di tolak, kenapa lama-lama dia semakin menyebalkan!" gerutu Arini.
"Kamu kenapa, Rin ?" tanya Ibunya yang menyadari kekesalan Arini,
"Eh Ibu ... tidak kenapa-napa Bu" jawab Arini canggung.
"Kemana Bapak nya si Putra? Ibu lihat sudah lama sekali dia tidak datang kemari ?" selidik Ibu Arini.
Arini terdiam.
"Ibu juga dengar ,katanya dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Terus sekarang bagaimana dia bisa menafkahi kamu, Nak ?" tanya Ibu Arini.
"Katanya dia sedang melamar pekerjaan lagi Bu. Dan kemarin sedang seleksi, jadi dia sibuk akhir-akhir ini" bela Arini.
"Ya, semoga saja dia lebih bertanggung jawab sama kamu dan Putra, Ibu hanya tidak tega melihat anakmu yang masih kecil ,sudah kekurangan kasih sayang bapaknya" jelas Ibu Arini.
Lalu pergi meninggalkan Arini yang diam terpaku, bukan nya menyadari kesalahan sendiri, tapi ia malah semakin membenci Refa, ia menyalahkan Refa dan Arga untuk apa yang ia alami.
"Jika anak aku menderita, maka anak kamu juga harus menderita Arga!" gumam Arini kesal.
Lalu Arini mengirim pesan singkat pada Arga,
"Kapan kamu akan memberikan uang susu dan diaper untuk anakmu !."
__ADS_1
"ckk."
Arga berdecak saat melihat isi pesan dari Arini.
"Kalau sudah ada, pasti aku kirimkan!" balasan pesan untuk Arini. Tidak lama kemudian Arini membalas,
"Kalau? memangnya kamu tidak bisa mengusahakan?! hanya untuk susu anakmu saja kamu tidak bisa mengusahakannya?! tapi untuk bersenang-senang bisa!."
"Apa-apaan sih si Arini ini? semakin lama semakin terlihat jelas belangnya, kalau tidak takut dia nekat menemui Refa, sudah aku tinggalkan dia dari dulu" gerutu Arga yang jengkel pada Arini.
Karena Arga tidak membalas pesan Arini, lalu Arini mengirimkan lagi pesan.
"Aku beri kamu waktu tiga hari, kalau masih tidak bisa mengusahakan untuk membeli susu, maka aku akan meminta pada Refa !."
Ia tahu kelemahan Arga adalah Refa ia yakin kalau Arga akan mengusahakannya, kalau sudah menyangkut Refa.
"Aarrgggh!."
Prangggg !!!
Arga marah dengan ucapan Arini Yang selalu menggunakan ancaman pada Refa.
"Sial ... dia semakin berani saja!" ucap Arga sambil meremas kepalanya yang terasa berdenyut.
Tiga hari kemudian, setelah Arga pergi kesana kemari akhirnya dia mendapatkan uang ,lalu memberikannya pada Arini melalui perantara.
Ting ...
Pesan masuk dari Arini di ponsel Arga yang kemudian di baca,
"Apa kamu tidak bisa mengirimkan uang itu sendiri ke sini? ke rumah ku?"
Arga mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Arini.
"Dia maunya apa sih? kemarin minta uang, sekarang sudah di kasih uang masih saja mengganggu!."
Lagi-lagi Arga hanya bisa memaki Arini di belakang.
"Bukan kah yang penting uang nya? dan uangnya sudah di terima, kan?" balas Arga .
"Setidaknya, kamu antar uangnya kerumah langsung, apa kamu tidak mau melihat anak dan istrimu disini ?" tanya Arini tidak mau kalah.
Arga menghela napas panjang, merasa pusing dibuat Arini.
"Kalau memang di hatimu tidak ada aku, minimal anakmu ada, kan?, dia darah daging mu !."
"Aku harap kedepanya kamu bisa mengantarkan uang ke rumah secara langsung, anggap saja kamu membeli tubuhku!."
Pesan Arini bertubi, tidak bisa di pungkiri kalau Arini masih muda dan masih memiliki hasrat yang membara.
Terimakasih telah membaca karya ku 🥰
__ADS_1