
"Kamu pikir aku tidak ingat nomor wanita itu, hah?"
"Jangankan nomor ponselnya, namanya ,kampung rumahnya ,wajahnya ,kejahatannya ,aku tidak akan pernah lupa !" sambung Refa dengan nada tinggi dan menekankan kata-katanya.
Sementara Arga mengacak rambutnya yang tidak gatal. Malam hari nya Refa masih gelisah atas apa yang sudah terjadi.
"Brengsek emang si Arga ... si cewe nya juga kegatelan bangeut sih, mau saja menerima panggilan dari laki gue !" racau Refa kesal.
Refa merasa tidak bisa diam saja lalu Refa mengirim pesan singkat pada Arini.
"Kenapa kamu masih berhubungan dengan suamiku? memangnya kamu tidak bisa mencari laki-laki lain yang masih single !"
pesan Refa mengejek karena kesal.
Tidak lama kemudian Arini membalasnya.
"Maaf, saya tidak menghubungi suami anda !"
"Ya. Suami saya yang menghubungi kamu! tapi kenapa kamu menjawabnya?" tanya Refa.
Arini tidak membalas lalu Refa mengirimkan lagi pesan,
"Apa kamu benar-benar kesepian? sehingga mau menerima panggilan dari semua pria !"
Kemudian Arini membalas.
"Apa kamu bisanya hanya menghina? pantas saja suamimu mencari yang baru di luar !"
"Tckk, kamu bicara seolah kamu pandai menjaga suami !" balas Refa mengejek.
Arini terdiam tidak ada jawaban. Refa kembali mengirimkan pesan pada Arini,
"Aku hanya mau bangunin kamu dari mimpi semu, jangan buang waktu untuk melayani suami ku, karena sampai kapanpun dia tidak akan menikahi kamu !"
Refa berusaha menekan Arini dengan tujuan supaya Arini berhenti menerima Arga .
Di Sebrang sana, muka Arini merah padam ia merasa di hina dan di remehkan oleh Refa .
"Beraninya kamu menghina aku, Refa! semua karena Arga, dia hadir dalam kehidupan ku lalu pergi dan mengirim bencana, lihat saja nanti, aku akan membalas kalian !"
Arini bertekad akan mengembalikan luka yang ia terima kepada mereka.
Dia lupa kesalahannya menyakiti tapi merasa disakiti, lalu ingin menyakiti balik.
*****
Dua bulan sudah berlalu.
Refa masih saja ketus pada Arga tanpa memikirkan perasaannya, Refa berencana untuk menginap beberapa hari ke rumah ayahnya.
"Kamu mau kemana, Ree? sudah berkemas"
tanya Arga penasaran melihat Refa yang sedang berkemas.
"Aku mau menginap di rumah papah, Mas. Sekalian nengok papah, udah lama juga aku gak kesana " jelas Refa.
"Berapa hari ?" tanya Arga.
"Yaa seminggu lah boleh, kan? Mas" bujuk Refa pada Arga.
Ahh ... begini kah cara mu membalas ku Ree? tidak cukupkah kamu dengan hanya mengabaikan ku? kini kamu juga masih harus meninggalkan ku selama seminggu ... batin Arga
__ADS_1
"Mas ... Mas, kenapa diam ?" tanya Refa yang melihat Arga tidak menjawab.
Arga tersenyum paksa dan berkata, "boleh kok, mau aku antar ?"
"Tentu " sambut Refa antusias.
Mereka pun berangkat ke rumah dimana Refa di besarkan.
Di perjalanan Arga berkata,
"Aku gak ikut nginep yaa, Ree. Soalnya aku gak bisa cuti, gak apa-apa, kan?" tanya Arga dan melirik Refa sekilas lalu pokus lagi ke jalanan.
"Ia Mas. Engga apa-apa, makasih sudah mengizinkan aku dan Gara untuk menginap dirumah papah dan kamu sudah bersedia mengantar kami, itu sudah lebih dari cukup buat aku Mas."
Refa membalas ucapan Arga dengan senyum lembut .
Tckk. Kenapa aku merasa sikap mu ini seolah berbalik dari kenyataan, Re. Gumam Arga.
Tidak terasa waktu berlalu sudah tiga hari Refa pergi, hari ini Arga merindukan anak dan istrinya .
Entah apa yang Refa lakukan, sudah tiga hari tidak ada kabar. Kemudian Arga menghubungi Refa untuk melepas rindu.
"Sayang. Gimana kabar kalian ?" tanya Arga dalam panggilan suara.
" Baik Mas. Kamu gimana ?" jawab Refa dari sebrang sana.
Ahh syukurlah Refa mulai baik kembali, batin arga.
"Aku tidak baik-baik saja, aku merindukan kalian ... " lirih Arga.
"Benarkah ?" tanya Refa tidak percaya.
"...." Arga sedih karena ucapan Refa, hingga ia tidak bisa menjawabnya.
Tut tut tut.
Arga diam membatu.
"Sampai kapan kamu harus begini, Ree ..." lirih Arga dalam hatinya .
Arga prustasi tidak tahan dengan sikap Refa, ketika hatinya kosong dengan perlakuan Refa, kesempatan datang.
Notif di ponsel Arga berbunyi dan di layar terlihat pesan dari nomor yang tidak di beri nama.
Arga terkejut karena tahu itu adalah nomor Arini.
"Udah siap belum ?" pesan dari Arini.
Arga bingung dibuatnya, apa maksud dari pesan Arini? belum sempat Arga membalas, masuk lagi pesan dari Arini.
"Ehh maaf, salah kirim " jelas Arini.
Arga tersenyum ketir ternyata hanya salah kirim, baru saja dia merasa senang mendapat pesan dari Arini .
"Ohh, tidak masalah " jawab Arga.
"Terimakasih" balas Arini.
"Untuk apa ?" tanya Arga dengan dahi mengkerut.
"Untuk semuanya "
__ADS_1
Arga bingung tidak mengerti maksud Arini.
"Semua laki-laki sama saja, kalau sudah bosan menghilang dan tidak ada kabar" lanjut Arini.
"Bukankah kamu juga tidak ingin saya menghubungi kamu lagi ?" tanya Arga .
"Tentu saja ,untuk apa menghubungi kalau hanya memberi masalah !"
"Istri kamu menghubungi saya setelah paginya kamu menelpon saya, dia bilang kamu tidak akan pernah menikahi saya !" lanjut Arini
"Bisakah kita bicara? aku kerumah kamu ya sekarang ?" pinta Arga.
"Tidak usah, nanti istri kamu nyusul, terus aku di maki-maki " balas Arini.
Tanpa basa basi lagi Arga pergi ke rumah Arini dan setiba nya di rumah Arini.
"Assalamualaikum" sapa Arga.
Tidak ada jawaban, sampai berkali-kali Arga mengucap salam masih tidak ada jawaban.
Arga tidak menyerah, dia masih menunggu sambil sesekali mengirimi Arini pesan singkat.
"Arini, kita harus bicara, kumohon keluarlah " pinta Arga .
Akhirnya Arini membuka pintu dan berkata,
"Masuklah !"
Tanpa ragu Arga pun masuk dan kini mereka sedang berhadapan di tengah ruangan yang hanya ada mereka.
"Kamu mau bicara apa? cepat katakanlah, nanti istri kamu keburu nyusul " ketus Arini.
Arga menghela nafas kemudian berkata,
"Baiklah. Aku kesini ingin bertanya satu hal sama kamu "
"Katakan ?"
Arini tidak sabar dan tidak suka bertele-tele,
"Apa kamu ... cinta sama aku ?" tanya Arga serius.
Arini terkejut dengan pertanyaan mendadak dari Arga,
bukannya menjawab Arini malah memalingkan wajah dengan mata yang berembun.
"Aku minta kamu jujur sama aku, apakah kamu mencintai aku meski hanya setitik? apakah kamu mau menerima aku apa adanya, yang sudah berkeluarga?"
pertanyaan Arga tidak berhenti dan masih bertanya,
"Aku pernah bilang sama kamu kalau kamu mau, aku bisa menikahi kamu dengan satu syarat ... apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan keluarga ku!" jelasnya.
"Apakah kamu sanggup ?" tanya Arga lagi.
Dan Arini hanya terdiam tapi dalam hati ia berkata,
"Apa yang harus aku jawab? apa dia sedang meminta aku untuk jadi simpanannya? jujur itu sangat menyakitkan."
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1