Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 6. Pernikahan siri 21+


__ADS_3

"Aku tidak suka kalau kamu selalu membahas Refa di depanku !" ketus Arini.


"Baiklah. Aku tidak akan" jawab Arga.


Lama mereka berbincang membuat jarak diantara mereka semakin erat, karena memang dulu pun sudah terbiasa seperti itu, jadi mereka sudah tidak canggung dengan situasi seperti saat itu.


Keinginan Arga yang ia tahan beberapa hari lalu, kini mulai berontak ingin di lepaskan .


Gesekan demi gesekan antara tubuh mereka ,membuat arga memanas di cuaca yang dingin. Ketika arga bergerak, tubuh arini tidak menolak, justru tubuhnya seolah memberi sinyal bahwa ia menginginkannya juga.


Dan ... mereka pun melakukannya.


Di tengah kegiatan Arini menyela,


"Sudah, Mas. Jangan dilanjutkan lagi "


"Kenapa, bukankah kamu juga menikmatinya?" tanya arga.


"Tapi aku tidak mau mengulanginya, jika akhirnya akan sama seperti dulu, setelah kamu puas kamu akan meninggalkan aku lagi."


Arini berbicara dengan nada yang terengah engah dan menahan rasa sedih dihatinya, tapi Arga tidak menghiraukan ucapan Arini, ia tau arini hanya pura-pura saja, lalu Arga melanjutkan kegiatannya.


Tapi kali ini mereka terhenti karena tiba-tiba ada seseorang di luar.


Arini dan Arga kaget segera menghentikan aktivitasnya dan merapihkan penampilan mereka yang berantakan.


Pegangan pintu perlahan bergerak dan pintu terbuka. Arga dan Arini menoleh bersamaan ke arah pintu.


klek.


Pintu terbuka.


"Mamah?" panggil Putri.


Anak dari Arini berusia tujuh tahun.


"Ia sayang. Ada apa, apa ada yang ketinggalan ?" tanya Arini.


"Putri lupa membawa buku PR, Mah" ucap Putri.


"Ohh. Ya sudah, putri ambil sendiri ya."


Arini berbicara pada anaknya dengan sangat lembut.


"Ia, Mah " Lalu putri pergi ke kamarnya dan mengambil buku.


"Sudah sayang?" tanya Arini yang melihat Putri keluar dari kamarnya.


"Sudah, Mah. Putri kembali ke sekolah lagi ya, Mah, Om "


pamit Putri.


"Putri uda pergi, kan? lanjut yuu aku sudah tidak tahan"


Arga melanjutkan keinginannya, lagi-lagi di tengah permainan telponnya berdering.


Ada panggilan dari rekan kerjanya, Arga mendengus dan berkata,


"Tck. Siapa lagi sihh!"


"Angkat saja, Mas. Siapa tau penting" saran Arini.


Lalu arga mengangkat telpon nya, setelah mengakhiri percakapan di telpon wajahnya jengkel karena Arga harus mengubur keinginannya.


Karna sekarang sudah waktunya jam kerja, atasan sudah memanggil.

__ADS_1


"Aku harus kerja" pamit Arga dengan wajah lesu.


"Gak apa-apa dong, kan demi mencari rupiah." Arini menyemangati Arga.


"Tidak semangat mencari rupiah dalam keadaan seperti ini"


jawab arga sambil memegangi senjatanya.


"Masih ada waktu, nikah aja belum."


"Sudah pernah juga, kan? kenapa harus menunggu nikah?" ucap Arga seenaknya.


"Kalau tidak nikah enak di kamu. Udah bosen nanti kamu menghilang lagi!" ketus Arini.


"Baik sayang. Aku janji akan nikahin kamu, tapi bolehkan sebelum pergi minta cium dulu?" Arga mengerling.


Lalu yaaaa begitulah.


***


Akhirnya Arga sudah berada di tempat kerja. Seperti biasa, dia sudah di suguhkan lembaran kertas yang menumpuk.


Arga termasuk karyawan yang ulet ,kinerja kerjanya memuaskan untuk perusahaan.


Tapi tetap saja, dimanapun dan pekerjaan apapun tidak akan luput dari orang-orang yang cemburu.


Mungkin arga tidak menyadari kalau ada beberapa orang yang tidak menyukainya, bahkan ada beberapa dari mereka mengetahui hubungannya dengan Arini.


"Hei Bro. Kenapa muka lo kusut, gak jadi dapet mangsa?."


Seseorang yang mungkin tahu kalau arga sudah kerumah arini sebelum bekerja.


Bukan nya kaget, arga malah merasa bangga.


"Waah curang lu, di embat sendiri aja, biarin gue nyoba dong."


"Coba aja kalo dia mau, rasanya mantabbb ... janda emang paling enak hahaha" ejek Arga.


"Tckk ... mentang-mentang lo uda pernah nyoba , sialan."


Arga hanya tersenyum melihat temannya kegerahan atas sikapnya.


"Ingeut lo ama bini dirumah, tar kualat loh !" temannya memperingati .


"Tenang aja. Gue gak pernah lupa ama yang pertama dan gak akan gue lepasin" ucap Arga tegas .


"Mulut loo bau" ejek temannya.


Arga pun tertawa.


***


Hari sudah sore dan pekerjaan Arga belum selesai ,tapi dia tidak ingin menyelesaikannya.


Ia memilih membawa dokumen yang belum ia selesaikan dan berencana mengerjakan nya dirumah, karena Arga ingin cepat-cepat kerumah arini.


Setiba di rumah arini. Suasana rumah arini selalu saja sepi, karena keluarganya memang jarang ada dirumah.


Belum sempat Arga mengucap salam, Arini sudah membuka pintu,


"Masuk saja, Mas. Di luar dingin."


Dengan senang hati arga mengangguk dan masuk.


"Orang rumah belum pada pulang?" tanya Arga.

__ADS_1


"Belum, kayanya bentar lagi. Kenapa, mau melamar aku ?."


"Boleh. Tapi sebelumnya, aku ingin melanjutkan sesuatu yang belum tuntas,"


Wajah Arga memerah ,tubuhnya memanas dan sesuatu di bawah sana semakin menegang, karena dari tadi pagi memang sudah bangun.


Arini ingin menolak, tapi tubuh nya malah menikmati setiap sentuhan Arga.


Dan mereka saling menyatu menuntaskan keinginan yang sudah lama tidak tersalurkan .


Setelah pergulatan mereka selesai, mereka saling merapihkan penampilan masing-masing yang berantakan.


Tiba-tiba keluarga arini datang, untung saja aktivitas mereka sudah selesai.


Klekk ...


Suara pintu terbuka.


"Nak arga ?" tanya Ibunya Arini.


Keluarga arini sudah mengenal Arga ,karena ini bukan pertaman kali dia berkunjung .


Justru sudah beberapa bulan setelah Refa mengetahui kedekatannya dengan Arini, Arga tidak pernah lagi berkunjung.


"Ia, Bu." jawab arga.


"Kenapa datang lagi! dan kamu arini! kenapa masih menerimanya ?" ketus Ibu Arini.


Dia tidak suka dengan Arga, Ibunya tidak ingin anaknya salah jalan tapi apa daya ,anaknya justru yang menginginkan jalan itu .


"Bu ... jangan gitu, arini yang mau, Bu. Arini mau menikah sama arga" ucap Arini.


Ibu Arini terkejut, ia menatap lekat mata Arini dan berkata,


"Apa kamu tau apa yang sedang kamu bicarakan ?!"


"Aku tau, Bu. Aku benar-benar ingin menikah sama Arga" jawab Arini.


"Tapi dia suami orang, Arini !" bentak Ibu Arini.


"Arga sudah janji sama Arini, kalau dia akan adil sama Arini."


"Apa benar, Nak Arga. Kamu ingin menikahi anak saya ?"


Semua orang menoleh ke arah sura yang idak lain adalah Ayahnya Arini.


"... kalau Arini mau menjadi yang ke dua ... saya akan menikahinya" jawab Arga ter jeda.


Semuanya menatap tidak percaya pada Arini dan Arga secara bergantian.


"Apa yang di maksud Arga, Arini? kamu menyetujuinya?!" tanya Ibu Arini dengan nada tinggi.


Arini tidak menjawab. Ia hanya menunduk, ia dilema antara percaya dan tidak dengan apa yang ia inginkan.


"Kamu harus pikirkan baik-baik, Arini. Ini masalah yang serius! " tegas Ayah Arini.


"Ibu tidak setuju!." Ibu Arini ikut menegaskan.


 


terimakasih sudah membaca karya ku 🥰


 


 

__ADS_1


__ADS_2