
"Aku pikir, kamu sudah lupa sama aku dan tidak akan datang lagi kesini !" ejek Arini.
"Kenapa kamu mengganggu Refa ?" tanya Arga tanpa basa basi.
"Aku tidak mengganggu Refa. Dia sendiri yang menghubungi aku, karena kepo dengan setiap status yang aku posting di Facebook " jawab Arini bangga.
"Ia aku tahu! tapi kenapa kamu melakukan itu semua ?" tanya Arga lagi.
"Apa yang aku lakukan? aku hanya memposting status, itu hak setiap orang. Si Refa aja yang kepoh ,kenapa aku yang di salahkan?" ucap Arini berlagak polos.
"Lalu apa maksud kamu dengan bilang pada Refa, kalau aku masih bohongin dia !" kata Arga dengan nada menekan.
"Aku hanya memberimu jalan, untuk berterus terang pada Refa " elak Arini membela diri.
"Aku peringatkan untuk yang terakhir kalinya, jangan pernah kamu mengusik Refa!" ujar Arga sungguh-sungguh.
"Jadi kamu kesini hanya untuk ini? aku sudah bersabar selama lima bulan. Kamu tidak pernah menemui ku. Ketika kamu datang ini balasannya?" tanya Arini tidak terima sikap Arga yang terus membela Refa.
"Aku tidak akan begini jika kamu tidak mengganggu Refa!" jawab Arga semakin meninggikan nadanya .
"Aku bilang aku tidak mengganggunya! kenapa kamu lebih percaya sama Refa? kalau begini, aku menyesal menerima kamu, aku mau kita cerai!" teriak Arini.
Kata-kata yang aku tunggu , akhirnya keluar juga dari mulut Arini, aku tersenyum miring dan berkata,
"Baik ... sesuai permintaan mu, Akan ku ceraikan kamu! aku akan bicara dengan orangtua mu."
Arini terlihat mematung tak bergeming, tapi ketika aku keluar dari pintu Arini berteriak,
"Setelah perceraian, aku akan meminta Refa mempertanggung jawabkan perbuatanmu atas anak ini!."
Aku menoleh pada Arini, tidak menyangka wanita ini lebih liar dari yang aku pikirkan, dia tidak kehabisan cara untuk mengikatku.
"Coba saja !" ujarku dengan menatap tajam pada Arini.
Aku berniat menemui kedua orang tua Arini ,tapi disana tidak ada mereka, yang ada hanya adiknya. Aku urungkan niat untuk masuk aku memutar arah untuk pulang kerumah.
Ketika aku sampai di rumah Arini mengirim pesan,
"Tck, apa lagi sih?! " gerutu ku karena kesal dengan Arini.
Ku buka pesannya,
"Aku tunggu kamu besok untuk menemui orang tua ku. Setelah perceraian, aku tidak akan mengganggu mu lagi, tapi aku akan meminta Refa atas hak dari anak kamu !"
"Kamu benar-benar rubah Arini, kalau aku tahu dia seperti ini ,tidak akan pernah aku menikahinya !" sesal Arga dalam hati.
Kulihat Refa sedang mengasuh Gara, melihat wajahnya yang selalu tersenyum meski nampak jelas kekecewaan di wajahnya, namun mampu membuat rasa lelah ku menghilang, aku hampiri meraka dan ikut bermain bersama.
Refa sedikit terkejut melihat aku yang mau bercanda bersama,
dia hanya menatap ku tanpa berkata apa-apa.
*******
*sudut pandang Refa*
__ADS_1
Selama itu aku merasa hidup dalam kekosongan dan merasa kesepian .
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hatiku meyakini suatu hal. Tapi entah mengapa seolah ada yang menghalangi langkahku, ada yang mencoba menutup mataku dan menutup telingaku.
Ketika bukti sudah di depan mata, aku masih tidak bisa memecahkan teka-teki itu.
Mungkin Tuhan tidak izinkan aku tahu kebenarannya saat itu, terkadang aku berpikir Tuhan tidak adil dan takdir bercanda padaku.
Kenapa Tuhan tak izinkan aku tahu dari awal, agar aku bisa menghentikan semuanya sebelum terlambat.
Hah...
Tapi kini...
Malah aku berharap dulu dan sekarang ,lebih baik tidak mengetahuinya .
Saat itu ...
Aku menatap sosok yang selalu ada di dalam hati, dia seperti menutupi sesuatu tidak pernah mau menatapku.
Tidak bisa lama berduaan denganku, seolah separuh hatinya bukan untukku.
"Andai kamu tahu, betapa hancur nya hati ku karena sikapmu, Mas ... " lirih ku yang tidak terdengar oleh Arga.
Aku mencoba melupakan apa yang terjadi, berharap semua berlalu seiring berjalannya waktu .
Pagi harinya .
"Dimana ponselku ?" ucapku sambil merogoh saku celana.
"Ya ampun, apa terjatuh di pasar tadi yaa?." Aku mencoba untuk mengingat.
Dan arga pun datang.
"Sayang ,kenapa ponselmu tidak aktif ?" tanya Arga.
"Hilang !" jawabku acuh tak acuh .
Entahlah ,hati ini semakin hari semakin malas berbicara dengan Arga, mungkin karena terlalu sakit atas apa yang aku rasakan.
"Hilang? ponsel kamu hilang? Kapan ?" tanya Arga tidak percaya.
"Sepertinya tadi saat aku ke pasar " jawab Refa datar.
"Bagaimana bisa ?!" tanya Arga sedikit teriak.
Aku berlalu meninggalkan Arga.
"Kamu mau kemana, Re?" tanya Arga sambil mengikuti ku.
"Aku lelah mau istirahat dan Gara, dia sedang pergi dengan papah" jelas ku.
"Kamu kenapa pergi saat aku baru pulang? bukankah harusnya kamu melayaniku ?" tanya Arga sengaja.
"Sejak kapan kamu mau di layani? biasanya juga kamu langsung menghindar ketika aku menghampiri untuk melayani mu!" jawab Refa yang menghentikan langkahnya .
__ADS_1
Arga terdiam tidak bisa menjawab.
"Sudahlah. Sana bersihkan tubuhmu ... setelah mandi aku akan siapkan makanan " ujar Refa kemudian melanjutkan langkahnya.
Setelah selesai mandi Arga menolak untuk makan.
"Aku sudah makan!" ketus Arga.
"Lalu kamu mau aku melayani mu bagaimana ?" tanya Refa tak berdaya.
"Memangnya apa yang harus di lakukan seorang istri ketika suaminya pulang bekerja !" ucap Arga dengan nada yang tinggi.
"Setidaknya bawakan air minum, bagaimana kamu jadi seorang istri selama ini !" tambah Arga tidak puas .
Aku malas berdebat, akhirnya aku memilih diam dan berlalu.
Di pagi harinya aku membeli ponsel baru, sekalian membeli nomornya.
Untungnya jaman sudah canggih, tidak perlu khawatir data pribadi hilang.
Saat aku membuka aplikasi WhatsApp. Aku melihat sebuah foto yang terasa tidak asing, namun aku tahu itu siapa, aku lihat lagi untuk memperjelas.
"Arini? kapan aku menerima panggilan darinya ?" aku kebingungan.
Pasalnya aku tidak pernah menyadari jika Arini pernah menghubungiku, lalu aku lihat tanggal panggilan dan aku mencoba mengingat.
"Hoh ... ternyata waktu itu yang menelpon ku tanpa suara adalah kamu ?" ingatan Refa setelah mengingatnya.
Menarik ... aku lengah, batin ku.
Ketika Arga ada dirumah, aku berusaha mengambil ponselnya secara diam-diam, ku ketikan nomor Arini di panggilan ponsel Arga.
Dan ...
Sebuah nama muncul.
"Bu dian TU ?"
Hah, aku merasa konyol, melihat nomornya Arini ada di dalam kontak whatsapp suamiku, dengan nama samaran foto profil Arini.
"Jadi ... selama ini apa yang aku dapat? Hah ha ha ha."
Aku tertawa bodoh sambil terduduk, air mata hampir jatuh tapi segera aku hapus, lalu ku hampiri Arga yang baru keluar dari kamar mandi .
"Ya ampun! kamu membuat aku kaget, Re. Sedang apa kamu disini?." Arga kaget dengan kehadiran Refa yang tiba-tiba.
terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1