Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 23.


__ADS_3

"Tuduhan yang tidak punya bukti, apa kamu pikir Refa akan percaya? silahkan saja kalau mau mencoba" acuh Arga kemudian pergi meninggalkan Arini.


"Kamu berengsek Arga!" teriak Arini tidak terima sikap Arga.


"Aku harus mencari tahu siapa wanita itu?" ucap Arini pada dirinya sendiri.


Sekarang Arga sudah sampai di kantor, kebetulan Mila juga sudah ada.


"Wah, pagi ini ucapan apalagi yang kamu terima? apa orang yang membangunkan mu kali ini, orang yang sama?"


tanya Dino salah satu teman kerja Arga, yang penasaran karena hari ini dia datang pagi lagi.


"Kamu memang tidak pandai menebak" ucap Arga sambil berlalu, pura-pura mengabaikan Mila.


"Benarkah? mungkin aku tidak ahli dalam menebak pikiran orang" gumam Dino.


Mila merasa sedikit kecewa atas sikap Arga yang menatapnya sekilas.


"Aku tidak membangunkannya pagi ini" gumam Mila yang tidak terdengar jelas oleh Dino.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Dino karena tidak mendengar dengan jelas gumam Mila.


"Kamu salah denger, aku gak ngomong apa-apa!" jawab Mila dengan ketus dan berlalu meninggalkannya.


"Dih, kenapa dia?" Dino merasa heran,tidak mengerti dengan situasi Mila.


Sampai waktu makan siang tiba, Arga belum terlihat menghampiri Mila, begitu pun Mila tidak ada pesan satu pun yang ia kirim untuk Arga.


"Ckk, sepertinya dia beneran marah, kita lihat saja, sampai kapan kamu bisa marah?" ucap Arga lalu keluar untuk pergi makan siang.


Ia berencana menggoda Mila, tanpa di duga Arga mendapat telpon dari Refa.


"Hello, Re?" tanya Arga saat menerima panggilan dari Refa, lalu terdengar suara Refa yang panik,


"Mas, Gara Mas"


"Kenapa Gara?" seketika langkah Arga terhenti.


"Gara tiba-tiba menjerit kesakitan, sambil memegang terus telinganya, a-aku, aku gak tau harus gimana, Mas. Kamu cepat pulang ya?" ucap Refa cemas dan panik.


"Baik, aku akan segera pulang, kamu jaga Gara" di akhirinya panggilan itu dan Arga bergegas untuk pulang.


Saat hendak memarkir motor, Arga teringat kalau dia perlu izin pada atasannya, tapi dia merasa sudah tidak sempat, kemudian Arga punya ide cemerlang.


"Bu Mila, aku minta bantuanmu, aku harus pulang. Tapi tidak sempat laporan untuk izin, mohon Bu Mila tolong sampaikan kepada atasan, sebagai tanda terimakasih, akan saya traktir Bu Mila makan" pesan Arga pada Mila.


Tanpa Mila sadari, bibirnya melengkung saat membaca pesan Arga.


Dan Desi tamannya Mila melihat itu, lalu berkata geli sambil menggelengkan kepalanya,


"ck, orang yang sedang jatuh cinta itu uda kaya orang gila ya? bentar-bentar marah, bentar-bentar senyum-senyum sendiri, aneh."


Mila menatap temanya itu dan bertanya,


"Apakah terlihat jelas?,"


lalu Desi menunjuk wajah Mila sambil berkata,


"Semuanya tertulis disini."

__ADS_1


Wajah Mila menjadi merah seperti udang rebus, sedangkan Desi hanya menggeleng kan kepalanya.


Di tempat Refa.


"Sayang sabar ya, Gara kuat ya, bentar lagi ayah pulang"


ucap Refa menenangkan Gara yang sedang kesakitan.


"Atit Bu, atit ini , atit " tangis Gara membuat hati Refa pilu.


"Ia sayang, Ibu tau Gara tersiksa, tapi Gara harus kuat, tungguin ayah ya, kita ke dokter" ucapnya sambil memeluk Gara.


Dan Gara tidak berhenti menangis, dia sungguh kesakitan.


Kemudian Arga datang, dan menghampiri Gara.


"Gimana Re, Gara masih menangis? Kita ke dokter saja sekarang ya ?" ajak Arga.


Tidak menunggu lama, mereka langsung pergi ke Rumah Sakit terdekat.


Gara di tangani oleh Dokter THT, setelah lama mengantri, akhirnya giliran Gara tiba.


Ketika masuk terdengar jeritan Gara, karena Arga tidak ikut masuk ke ruangan, dia hanya menunggu di luar.


Arga cemas mendengar jeritan Gara dari ruangan THT.


Lalu Refa dan Gara pun keluar dengan Gara yang sesegukan.


Dengan cepat Arga menghampiri anak istrinya, dan mengambil alih menggendong Gara.


"Hey boy, kamu sang jagoan nangis ?" tanya Arga menggoda Gara.


"Diam! atu cedang tida mau bicala" ketus Gara sambil memalingkan wajahnya.


Sementara Refa sedang mengurus administrasi di kasir.


"Kita tunggu di mobil ?" tanya Arga pada Gara.


"Telcelah!" jawab Gara ketus.


"Baiklah, sambil menunggu Ibu, bagaimana kalau kita jajan dulu, di deket tempat parkir ada warung, kan ?" bujuk Arga.


"Baitlah, baitlah, cepat bawa atu tecana!" perintah Gara .


Arga tidak percaya dengan apa yang di lakukan anaknya dan dia betkata,


"Hah, kau ini sebenarnya anak siapa, terkadang menyebalkan sekali."


"telima acih pujiannya" jawab Gara tanpa wajah tak berdosa.


Arga hanya ternganga dan berdecak melihat tingkah anaknya.


Setibanya di warung tempat parkir.


"Kamu mau jajan apa ?" tanya Arga.


Gara melihat semua benda yang terpajang di warung itu, kemudian dia menunjuk,


"Atu mau itu yah!" ucapnya dengan mata berbinar.

__ADS_1


Kemudian Arga melihat apa yang di tunjuk Gara dan berkata,


"Serius. kamu mau itu? apa tidak masalah ?" tanya Arga .


Tiba-tiba Gara merengek dengan wajah memelas.


"Atu mau itu yayah, mau itu ... "


" ... baiklah, baiklah" Arga tidak berdaya melihat wajah sang bocah, dia menyetujuinya dan berkata pada penjaga warung,


"Bu, tolong ambilkan yang itu satu" pinta Arga sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Atu ta mau catu, atu mau tita!" kata Gara dengan nada tinggi.


"Serakah!" ketus Arga, kemudian melanjutkan pembayaran.


"Ta mau ta mau, atu mau tita ayaaah ... " pinta Gara memelas.


Arga berdecak dan berkata,


"Memangnya kamu bisa menghabiskannya ?"


"Tentu cata, gampag itu mah" remeh Gara.


"Oh baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau ayah hubungi ibu mu du-"


belum selesai Arga bicara, dengan cepat Gara menjawab,


"Tagan, tagan, tagan ayah ... baitlah catu ata ...."


Kemudian Refa menghampiri dua laki-laki yang sedang duduk saling membelakangi di tempat parkir.


"Ternyata kalian disni" ucap Refa mengagetkan Gara dan Arga.


"Kamu sudah selesai ?" tanya Arga


Sementara Gara terkejut melihat Ibunya yang terus menatapnya tanpa berkedip.


"I-ibu, i-tu ... atu ..." ucap Gara lirih sambil memberikan ice cream yang tadi sedang ia makam.


Gara mengerti, kalau Ibunya melarangnya makan ice cream, dia tidak menyangka, kalau Ibu nya akan datang secepat itu, sebelum ice cream nya habis.


"Siapa yang memberimu ice cream itu?" tanya Refa.


Membuat Arga ketakutan dan dengan cepat menjelaskan,


"Itu aku yang membelikannya sayang, maaf aku tidak memberi tahu mu dulu, ku pikir-" ucapan Arga terhenti saat melihat tatapan tajam dari Refa.


"Aku ... aku salah, maaf " ucap Arga sedikit takut .


"Hari ini Aku maafkan, tapi tidak ada lain kali ! lagi pula kamu juga masih bisa makan ice cream saat kamu sedang sehat, kan?"


ucap Refa menjelaskan, Arga dan Gara menjawab secara bersamaan tanpa melepaskan pandangan mereka pada Refa.


"Kami mengerti "


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰

__ADS_1


 


 


__ADS_2