
"Bagus di luar, busuk di dalam. Semakin lama semakin jelas busuknya" ucap Arga masih menggerutu.
Kemudian Arga keluar dari kantor menuju rumahnya.
Sementara Arini sekarang sedang kesal karena nomornya di blokir oleh Arga.
"Brengsek kamu Arga! dia hanya membiayai aku dan Putra seadanya, sedangkan dia masih bisa main perempuan. Dia pikir aku sama dengan Refa yang hanya akan diam, heh sorry. Bukan Arini kalau tidak bertindak" celotehnya sendiri sambil berpikir dan mondar mandir.
Arini tidak kehabisan akal, ia mengirim pesan lewat akun Facebook.
Ia membuat strategi Drama indosiar untuk memeras Arga dengan berpura-pura rendah hati.
"Mungkin ini hukum alam atas perbuatanku, maaf karena aku sudah hadir dalam hidupmu. Aku hanya berharap kamu menepati janjimu" pesan yang Arini kirim lewat inbox.
Satu hari berlalu. Pesan Arini masih belum di balas, bahkan dibaca juga tidak .
Meski kesal Arini tidak berhenti sampai disitu, ia kembali mengirimkan pesan kepada Arga.
"Selalu teringat akan janjimu, yang berjanji untuk tanggung jawab dan berbuat adil. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini janji itu masih belum terbukti."
Dua hari berikutnya. Masih belum di respon, Arini kirimkan lagi sebuah inbox,
"Padahal kurang bagaimana aku masih menutupi aibmu. Disini ada keluarga dari Refa kalau aku mau, mungkin sudah aku katakan. Sudah banyak buktinya, tapi aku tidak sejahat itu."
Sampai tiga hari selanjutnya. Arini masih belum menyerah karena Arga masih memblokir nomor WhatsApp dirinya.
Dan Arga tidak pernah menemuinya, jadi sekarang hanya bisa seperti ini.
"Meski ini hukum alam untukku, tapi anak tidak bersalah. Kamu berjanji untuk tanggung jawab atas haknya dan kamu pun berjanji akan memberikan jatah uang mingguan padaku. Padahal kalau kamu tidak mampu tidak usah menjanjikan, karena itu hanya membuat aku sakit atas janji yang tidak pernah kamu tepati."
Sampai berlanjut satu minggu kemudian.
Arini tidak lagi mengirimkan inbox, karena ia sudah bisa menghubungi Arga melalui Jon.
Selama Arini berkomunikasi dengan Arga, ia tidak membahas inbox yang ia kirim.
Dua minggu kemudian.
Tengah malam Arini mengirim pesan pada Arga,
"Sepi nih, lagi berkutat, ya?."
Dua puluh menit kemudian Arga membalas, tapi ternyata yang membalas bukan Arga melainkan Refa.
"Ohh, jadi begini yang kamu maksud sudah tidak ada hubungan? kali ini alasan apalagi yang mau kamu katakan? sudah sangat jelas kamu yang duluan menghubungi!" pesan dari Refa lewat ponsel Arga.
Aku terkejut setelah membaca nya, Karen yang menjawab Refa kemungkinan Arga sudah tidur.
Kemudian aku memutuskan untuk menelponnya dan Refa menerimanya,
__ADS_1
"Halo?" ucapku.
Karena Refa tidak bersuara lalu aku tanya lagi,
"Halo, Mbak. Bisa kita bicara sebentar?."
"Apa yang mau kamu bicarakan!" jawab Refa acuh.
"Mbak harus dengerin saya, bukan maksud saya menghubungi suami mbak tanpa alasan. Ini karena sa-" ucapan Arini terhenti karema Refa memotongnya,
"Kamu pikir aku akan percaya?."
"Ia tidak apa-apa kalau Mbak tidak mau percaya, tap-" lagi-lagi Refa tidak membiarkan Arini menyelesaikan ucapannya.
Dia memutuskan sambungan telpon secara sebelah pihak, kemudian Refa mengirimkan pesan.
"Apapun alasannya, aku tidak akan pernah percaya. Silahkan saja kamu terus berdrama dan sekongkol dengan Arga untuk terus membodohi aku. In sya Alloh aku tidak akan marah. Tapi kamu harus ingat, sesempurna apapun kebohongan yang kamu lakukan, tidak akan sesempurnanya kekuasaan Tuha. Ingat juga ini, jangan sampai anak yang jadi korban untuk pertanggungjawaban atas dosa kita."
Kemudian Refa memblokir nomor Arini, karena ia tidak mau berkelanjutan.
Pagi harinya Refa kembali menuntut penjelasan pada Arga, setelah dia selesai sarapan dan bersiap untuk pergi bekerja.
Tapi sebelum Refa bicara, Arga bicara terlebih dahulu Karena ia sudah menyadari masalah semalam.
Dia tahu dari riwayat panggilan dan pesan di ponselnya yang sengaja tidak di hapus oleh Refa.
"Apa semalam kamu berbicara dengan Arini?" tanya Arga setelah ia selesai sarapan.
"Lalu ... apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Arga penasaran.
"Pembicaraan yang tidak penting" jawabku acuh.
"Benarkah? terus, kenapa kamu mengirim pesan seperti itu pada Arini, kalau tidak ada yang penting" tanya Arga.
Refa menghela nafas kemudian menjelaskan,
"Jadi gini, si Arini itu mengirimkan pesan tengah malam, aku yang balas karena kamu udah tidur. Kemudian dia telpon untuk menjelaskan kenapa dia hubungin kamu."
Refa berhenti menjelaskan dan membuat Arga semakin penasaran dan bertanya,
"Lalu?."
Lama Refa terdiam dan akhirnya menjawab,
"Ya aku tutup telponnya sebelum dia selesai bicara, karena aku tidak akan pernah percaya pada kalian!."
Arga mengerti maksud Refa dan langsung menawarkan untuk menghubungi kembali Arini.
Ketika panggilan itu terhubung, terdengar suara Arini dari sebrang sana.
__ADS_1
"Halo?" tanya Arini.
"Halo. Kenapa malem kamu menghubungi aku?" ujar Arga.
"Ya Seperti biasa aja, emangnya kenapa lagi?" jawab Arini.
"Istriku marah karena kamu nelpon tengah malam!" Ucap Arga sedikit tinggi.
"Ya mana aku tahu kalau kamu ada di rumah" jawabnya.
"Ya tetap saja tidak benar, apa lagi kamu menghubungi saya malem-malem, itu tidak pantas" ujar Arga.
"Ya udah mana si Refa nya, biar aku yang ngomong sama dia" kata Arini.
Refa tidak bersuara, mengisyaratkan ia enggan bicara dengan Arini.
Dan Arga pun mengerti, kemudian berkata,
"Ngomong saja!."
Di sana Arini menjawab,
"Malem posisinya aku baru pulang kerja dan aku juga ada alasannya kenapa menghubungi kamu. Ada suatu urusan yang mau aku tanyakan tentang masalah yang kemarin."
"Masalah apa?" jawab Arga heran sekaligus risih.
"Masalah sepupuku yang minggu kemarin kamu urus, karena aku kenal sama kamu, jadi dia memintaku untuk menghubungimu" jawab Arini .
Refa mengerutkan alisnya, merasa aneh dengan percakapan Arga dan Arini.
Apa yang di maksud Arini? apakah minggu kemarin Arga bertemu dengan sepupu Arini? dan yang lebih mengejutkan adalah, Arini menyanggupi meminta bantuan Arga untuk sepupunya atas nama dia kenal dengan Arga!.
"Waw. Mengejutkan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Refa dalam hatinya.
"Ya tapi bertanya nya ga harus malam juga, kan? akhirnya skrg malah jadi masalah!" ketus Arga.
"Ya sudah, aku minta maaf aku yang salah. Sekarang kamu bisa tolong beri tahu aku, bagaimana caranya menyelesaikan masalah sepupuku itu?" tanya Arini dengan nada kesal.
Kemudian Arga menjawab,
"Masalahnya sudah aku serahkan sama pegawai disana, jadi kamu hubungi saja orangnya."
Kemudian Arga membawa ponselnya keluar ruangan, mereka berbicara tanpa aku ikut serta, Arga meninggalkan aku seolah lupa alasannya menghubungi Arini untuk memberikan penjelasan padaku.
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1