
"Obrolan macam apa ini? nama group dan anggotanya rekan kerja, tapi yang di bahas kaya beginian" protes Refa pada Arga.
"Obrolan apa?" tanya Arga tidak mengerti, dia lupa tentang obrolan dalam grup nya dengan Mila.
"Ini ... obrolannya garing! apalagi si Ibu yang ini, yang namanya Mila, enggak bangeut sih, ini di tujukan sama kamu, kan? maksudnya apa sih!" jawab Refa ketus.
Refa merasa kalo obrolannya terlalu mencolok dan tidak pantas.
"Itu mah candaan, Re. Emang kalau di grup ya pada begitu obrolannya" jelas Arga.
"Candaan? aku malah merasa kalau itu gak pantas!" bentak Refa cemburu.
"Gak pantas apanya? itu kan obrolan dalam grup yang bacanya juga banyak dan bukan cuma Mila atau aku saja" jelas Arga.
"Tapi yang lainya gak ngomong kaya yang namanya Mila! aku gak suka!" ketus Refa.
Arga hanya terdiam, merasa pusing oleh sikap istrinya .
Hari berikutnya di kantin .
"Ck, Pak Arga. Kenapa beberapa hari ini masuk siang terus?"
Tegur Mila seraya menghampiri Arga yang sedang duduk dan minum kopi.
"Hehe ia Bu. maaf, begadang terus jadi bangunnya kesiangan" jelas Arga.
"Makanya jangan begadang dong" ujar Mila.
"Kalau gak begadang ntar ada yang marah, gara-gara gak di bales chat nya" jawab Arga menyindir.
Mila merasa malu karena dirinya yang di maksud Arga, jadi dia kesiangan karena begadang chatting sama dirinya.
"Oya? emang gak ada yang marah gituh, kamu chatting sampai malem" tanya Mila.
"Kelihatannya?" Arga balik bertanya.
Hari berikutnya pagi-pagi sekali Mila mengirimkan pesan pada Arga, dia bermaksud untuk membangunkan Arga, yang pastinya masih tertidur karena sudah begadang menemani dirinya ngobrol via chatting.
"Pagi beb, cepet bangun jangan sampai kesiangan."
Tidak ada jawaban dari Arga karena dia masih tidur, padahal Refa sudah membangunkannya.
Kemudian Mila menelponnya dan berhasil membangunkan Arga, saat dia lihat nomor Mila yang menghubungi, dia langsung bangun dan mengangkat telponnya.
"Halo?" suara serak khas bangun tidur Arga.
"Bangun tampan, ini sudah jam enam pagi, nanti kamu kesiangan lagi" ucap Mila dengan lembut.
"Emm, ia aku bangun, makasih pujiannya, padahal aku belum mandi loh" ucapnya, bangun tidur arga senyum-senyum sendiri.
"Aku tunggu ya di kantor, bay" pesan Mila mengakhiri percakapannya.
Arga meresa senang atas panggilan dari Mila, semangatnya meningkat 90%.
__ADS_1
"Pagi-pagi uda di bilang tampan" gumam Arga. Kesenangan sampai terus-terusan mengenang ucapan mila dengan tersenyum penuh cinta.
Setibanya di kantor .
"Pagi" sapa arga di kantor.
Teman-temannya menjawab bergantian.
"Tumben nih, pagi-pagi uda dateng?" sindir Teguh, teman baru Arga di tempat kerjanya.
Mila hanya menatapnya sambil tersenyum dan Arga pun menatapnya balik sambil berkata,
"Lagi semangat Full, pagi-pagi ada yang bangunin bilang tampan."
Ucapnya bangga, tanpa sadar kalau orang-orang di sekitarnya memperhatikan dia yang sedang menatap Mila, siapapun bisa tau kalau yang di maksud Arga adalah Mila.
Mereka hanya saling menatap dan menggelengkan pelan kepala mereka, melihat Arga dan Mila yang terlihat menggelikan.
"Hati-hati cinlok! ingeut bini sama anak!."
Tegur salah satu dari beberapa orang yang menyadari perasaan Arga dan Mila.
Seketika Mila menoleh lalu menundukkan pandangannya, dia merasa malu, sadar apa yang di ucapkan orang itu benar adanya.
Sementara Arga tidak menghiraukannya, dia menganggapnya candaan.
Karena pekerjaan sedang senggang, Arga dan Mila pergi dari kantor tanpa sepengetahuan yang lainya.
"Kerjaan lagi senggang nih, aku lagi BT, mau temenin aku keluar nyari camilan?" ajak Mila.
"Di tempat biasa aja" jawab Mila.
Setelah bertemu.
"Ngomong-ngomong, gimana caranya kamu bisa chatting sama aku malem-malem tanpa ketahuan istri kamu?" tanya Mila penasaran.
"Rahasia" jawab Arga.
Mila tersenyum.
"Tapi makasih ya, uda mau jadi tempat curhat aku."
"Dengan senang hati, selama kamu senang" jawab Arga.
"Kamu memang paling mengerti." Puji Mila pada Arga.
"Tadi kamu bilang lagi BT, kenapa?" tanya Arga.
"Yaa, biasalah ... aku punya suami, tapi selalu merasa kesepian, aku berharap suatu saat ada seseorang yang menyelamatkan aku dari kehancuran ini ... " kata Mila dengan lirih.
"Kalau kamu mau, aku bersedia jadi orang itu." Arga menawarkan diri.
"Hahaha, kamu bisa aja ... ah seandainya ... " Mila memelas sambil menyandarkan dirinya di meja.
__ADS_1
"Kenapa? aku serius! asal kamu mau, aku bi-"
Mila memotong ucapan Arga,
"Sudahlah, kamu jangan bercanda lagi, walaupun aku butuh di hibur, tapi tidak seperti itu juga kali, gimana kalau nanti aku baper? mau tanggung jawab ?."
Mila ber basa-basi, sebenarnya dia berharap lebih hanya saja, sedang menunggu pergerakan Arga terlebih dulu.
"Gampang" jawab Arga asal sambil meminum kopi yang ia pesan.
"Kalau masalah sudah menyangkut perasaan, gak segampang yang kamu bayangkan, api yang sudah berkobar akan sulit di padamkan, faham !" ucap Mila menegaskan.
Padahal api itu sudah menyala di hatinya .
 Hari berlalu begitu cepat.
Hubungan antara mila dan arga semakin erat.
"Mil, sekarang kamu makin deket saja sama si Arga, kalian pacaran ya?" tanya Dina.
"Emang cuma pacaran saja yang boleh deket?" sahut Mila.
"Jadi maksud kamu, rekan kerja juga boleh deket ?" ejek Dina.
"Ck, lagian kenapa sih kamu kepo amat, cemburu ya? jangan-jangan kamu yang suka sama arga!" balas Mila.
"Hey, jangan coba-coba manipulasi ya! ... aku cuma mau ingeutin kamu, sikap kalian itu terlalu mencolok, bahkan semua orang bisa melihatnya, emang kamu gak nyadar apa?" ucap Dina kesal karena Mila tidak mengerti peringatannya.
"Uwuu aku takut" ejek Mila.
"Terserah kamu deh" ketus Dina.
"Yee, beneran ngambek ya? aku kan becanda ... tapi emangnya orang-orang melihat aku sama Arga kaya gimana ?" tanya Mila penasaran.
"Au deh!." Dina kesal dengan Mila.
"Ia deh ia aku minta maaf, aku salah, sekarang bisa kasih tahu aku tidak?" tanya Mila semakin penasaran.
"Itu PR buat kamu!" kata Dina sambil berlalu.
"Kalau saja kita bertemu lebih awal Ga. Sejujurnya aku nyaman dengan kedekatan kita, tapi aku di tampar oleh kenyataan. Kenapa takdir begitu tidak adil, mempertemukan kita di saat yang tidak tepat." gumam Mila.
"Woy, mau smpai kapan ngelamun disana? bentar lagi jam kerja masuk loh!" teriak Dina.
Ketika Dina sudah sampai di kantor, dia menengok ke belakang dan baru sadar kalai ternyata Mila tidak ada.
Kemudian Dina kembali ke kantin. dan ternyata memang benar saja, Mila masi bengong di kantin.
"Sorry, aku tidak menyadari kalau kamu sudah pergi, Maaf, maaf" ucap Mila.
"Tck, makannya aku bilang jangan ngelamun aja, ntar lama-lama kamu jadi loading " ucap dina .
Terimakasih sudah membaca karyaku🥰
__ADS_1
Â