Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 32. Menuntut HAK anak.


__ADS_3

"Tidak bisa tetap saja, anakku juga butuh biaya hidupnya, biaya makan, jajan nya, pakaiannya. Aku mau pasti agar aku tidak perlu mengemis-ngemis lagi meminta padanya" ucap Arini.


"In sya alloh kalau urusan anak saya akan berusaha yang terbaik, tapi kalau di traktor aku tidak sanggup" jawab Arga.


"Saya tidak men traktor, saya hanya minta hak anak saya yang pasti, mau mingguan, bulanan atau pertahun. Harus jelas!" ucap Arini menuntut.


"Itu namanya sama saja men traktor!" Kali ini Refa menimpali.


"Bukan lah, ini hanya minta kepastian, karena dia sering kali abai membiayai anaknya, selalu bohong dengan janjinya, jatah untukku saja sampai sekarang hnya baru setengah nya saja" ucap Arini.


"Ya itu karena kamu sering kali mengancam!" jawab Arga.


"Mengancam apanya? Ayah juga kan tahu, bagaimana dia membiayai anaknya?" sambung Arini menatap Ayahnya.


"Ya, dulu saja tidak jelas membiayai, apalagi nanti kalau sudah bercerai-" ucapan Ayah Arini di sela oleh Arini,


"Ia, kan. Aku harus mengemis untuk meminta hak anaknya, ketika aku marah dia tidak memberi jatah, dia malah balik marah" ucap Arini.


"Jadi ya sudah putus saja. Kalaupun datang kesini hanya sekedar satu jam sudah ngilang, biasanya jika seorang Ayah menyayangi anaknya, ada keinginan untuk menggendongnya lalu membawa nya jalan-jalan keluar meski hanya untuk jajan. Ini sama sekali tidak ada ... " lanjut Ayah arini yang tadi belum selesai.


"Ia. sekarang diminta kepastian saja sudah menolak. Berarti memang mereka tidak mau memberi biaya dan tidak ada itikad baik nya, Yah" ucap Arini.


"Saya datang kesini bukan untuk berdebat, apalagi mencari masalah. Saya ingin mengembalikan Arini pada Ayah dan istri saya ikut datang untuk memastikan, juga berharap agar disini tidak mengganggu saya lagi. Saya sudah lelah hidup dalam tekanan dan ancaman." ucap Arga tegas.


Sebelum Ayah Arini menjawab, Arini menyela dengan cepat.


"Boleh saja, tapi ada syaratnya! saya mau kepastian Hak dari anak saya dan saya ingin ada perjanjian tertulis. Jika tidak, jangan salahkan aku masih mengganggu kalian!."


"Tidak sanggup, saya tidak akan sanggup" ucap Arga pelan.


Lalu Refa ikut bicara,


"Begini, karena ini awalanya adalah sebuah kesalahan"


"Kenapa jadi di bilang kesalahan? jela-" tanya Arini memotong Refa.


Tapi Refa juga tidak membiarkan Arini terus memotong pembicaraan. Dia melanjutkan dengan sedikit kesal, meski Arini masih bicara.


"Ya kesalahan lah! kalau kamu punya prinsip dan punya rasa peradaban, tidak akan terjadi sampai seperti ini. Tidak akan!."

__ADS_1


Seketika semuanya terdiam, Arini pun yang tadi masih menggerutu memotong ucapan Refa kini dia juga terdiam.


"Jadi, Nak Arga datang kesini untuk membereskan anak Ayah atau gimana?" tanya Ayah Arini memecah keheningan.


"Menceraikan!" jawab Refa cepat dan tegas.


"Ya sudah. Karena Nak Arga memulangkan Anak Ayah, maka Ayah meminta Nak Arga sesegera mungkin membereskan semuanya. Karena awalnya beres akhirnya juga harus beres, Ayah kasih waktu tiga hari untuk membereskannya" pinta Ayah Arini.


Lalu Refa yang menjawab ucapannya dengan bertanya,


"Memangnya pernikahan mereka bagaimana dan seperti apa, Pak?."


"Ya begitulah, tidak jelas" jawab Ayah Arini .


Refa mengerutkan keningnya, merasa tidak benar dengan ucapan Ayah Arini. Dari awal pembicaraan sampai sekarang, ucapannya tidak ada emosi dan terlalu datar.


Arini tidak membantah ucapan Ayahnya dan Arga juga hanya diam. Tapi Refa tidak mau banyak berpikir, lalu ia berkata,


"Baiklah kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu di bicarakan-"


Tapi kemudian Arini kembali angkat suara sebelum Refa selesai bicara.


"Tidak! kalian tidak bisa seenaknya begini, aku tetap akan menuntut hak anakku. Kalau tidak, jangan salahkan aku mengantarkan anakku ke kediaman kalian,"


"Maaf, Yah. Saya tidak bisa lama-lama, saya pamit" ucap Arga kemudian beranjak.


Arini masih menggerutu yang samar-samar terdengar oleh Refa.


"Coba Ayah lihat, dia tidak sayang pada anaknya, jangankan ingin bertemu, menanyakannya saja tidak" gerutu Arini.


Lalu ucapannya tidak terdengar lagi setelah aku keluar dari rumahnya Arini.


Saat Refa hampir sampai ke mobil ia menoleh, tapi ia tidak melihat Arga di belakangnya. Kemudian pandangannya menyapu orang-orang yang ada di sekitar rumah Arini, namun Refa tidak menemukan sosok Arga.


"Kemana dia? bukanya tadi masih di belakangku? cepat bangeut ngilangnya. Apa dia masuk lagi ke dalam rumah Arini?" batin Refa bertanya-tanya.


Karena merasa tidak tenang, Refa pun menunggu Arga berdiri di samping mobil, lalu Refa melihat Arga keluar dari satu tempat, yang pasti bukan dari rumahnya Arini.


"Harusnya aku senang saat melihat Arga yang keluar bukan dari rumah Arini. Tapi kenapa aku merasa tidak nyaman, sebenarnya ngapain Arga dari sana dan siapa yang dia temui?" lagi-lagi Refa bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Karena sudah melihat Arga, Refa melanjutkan masuk ke dalam mobil yang di ikuti Arga.


Setelah masuk kedalam mobil Refa bertanya,


"Barusan kamu dari mana Mas. Siapa yang kamu temui?."


"Ke warung, beli roko sekalian menyapa dan berpamitan sama ibunya Arini. Eh malah ketus jawabannya, bikin males jadinya."


Selama di perjalanan Arga tidak henti mengucap syukur dan berterima kasih pada Refa.


"Aku benar-benar bersyukur, Re. Jika tau kamu bisa di ajak seperti ini untuk menghadapi Arini, mungkin dari dulu aku sudah berterus terang padamu" ucap Arga yang sedang menyetir.


"Memangnya Arini mengancam kamu apa, Mas?" tanya Refa yang juga menatap lurus ke jalanan.


"Ya begitulah, ancaman yang membuat aku mundur untuk membuat keputusan" jawab Arga tidak semuanya ia ungkapkan.


"Ia, ancamannya apa?."


Karena Refa merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal, tapi lagi-lagi Arga mengalihkan topik pembicaraan.


"Adik dan kakaknya Arini mengirimkan banyak pesan, sepertinya mereka tidak terima dengan apa yang aku lakukan pada Arini."


"Aku tidak peduli. Aku hanya mau tahu dengan ancaman macam apa Arini mengancam kamu, Mas?"


"Ya begitu, dari dulu sebenarnya aku sudah ingin mengakhiri hubunganku dengannya, hanya saja ketika aku tidak menemuinya dalam waktu yang lama, karena ku pikir kita sudah selesai dan ingin mengakhirinya, tapi ia mengancam ku akan memberi tahu kamu."


Arga berhenti sejenak lalu melanjutkan.


"Selalu seperti itu, kita bertengkar lalu sama-sama mengatakan untuk bercerai, tapi pada akhirnya Arini selalu mengancam ku untuk memberi tahu mu."


Entahlah, Refa merasa bingung, antara percaya dan tidak, karena tidak bisa di pungkiri kepercayaan Refa terhadap Arga mulai mengendur.


"Lalu kamu menikahi Arini untuk apa jika kamu tidak serius padanya? dan jika memang tidak ada rasa cinta bagaimana bisa sampai memiliki anak? kalau kamu merasa anak itu bukan anak kamu, kenapa kamu mengatas namakan aku untuk bertanya padanya dan kenapa tidak tes DNA saja?" tanya Refa menyelidik


 


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰

__ADS_1


 


 


__ADS_2