Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 31. Menceraikan Arini.


__ADS_3

"Jadi maksud mu, karena tidak bisa memarahi Ayah dalam mimpi, terus kamu ingin memarahi Ayahmu di dunia nyata, hah?" tanya Arga.


"Tentu cata. talau tamu belani buat Ibu tu menangic, apapun atan atu latutan mesti itu adalah Ayah" jawab Gara dengan lancar.


Arfa dan Refa ternganga mendengar Gara berceloteh ucapan orang dewasa dengan lancar.


"Siapa yang mengajarkannya? astaga dia benar-benar anak ku, kan?" tanya Arga tidak percaya.


"Tentu cata atu anat Ibu, dali mananya atu milip denganmu, hm" jawab Gara acuh.


Arga benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan dia lihat. Arga berdecak dan berkata,


"Tck. Bagaimanapun kamu tetap darah dagingku."


"Tapi atu lebih milip Ibu" jawab Gara sambil menyilangkan tangan di dadanya.


"Ia, mirip. Pas lagi ngedumelnya" ujar Arga pelan, tapi masih terdengar oleh Refa.


"Gara. Hari ini Ibu ada urusan mendadak, jadi kamu main dulu di rumah kakek. Mau, kan?" ucap Refa pada Gara tanpa menghiraukan Arga.


"Bait, Ibu. Atu mengelti, pelgi lah atu bica jaga dili tu cendili" jawab Gara.


Refa selalu di buat takjub oleh putranya ini.


Setelah Gara di antarkan kerumah papah nya Refa, dengan alasan Refa ada undangan dari kantor Arga.


Merekapun bersiap untuk pergi kerumah Arini, sebelumnya Arga menghubungi dulu Arini,


"Siapa ayah dari anakmu?" pesan untuk Arini dari ponsel Refa.


"Tanya saja sama Arga!" balas Arini ketus.


"Dia tidak mengakui nya, makanya aku nanya siapa Sebenarnya Ayah dari anak itu?" pesan Refa.


Lalu Arini tidak menjawab pesan dari Refa, tapi dia mengirim pesan pada Arga.


"Kamu gila! tidak apa jika kamu tidak mau menemui anakmu, tidak usah kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal dan menyakitkan!" balas Arini.


"Aku akan datang ke rumahmu sekarang juga, untuk menceraikan mu" pesan Arga.


"Silahkan. Aku tunggu kehadirannya juga kepastian hak anakku!" tantang Arini, dia pikir Arga hanya bercanda.


Refa menyadari kalau Arga berkirim pesan dengan Arini, ia pun melihat isi pesannya.


Kemudian Refa berniat mengirimkan pesan pada Arini, tapi ia melihat ada pesan yang sudah terkirim pada Arini, ia sadar itu pasti perbuatan Arga.


Akhirnya Refa melanjutkan pesan nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menuntut biaya pada Arga untuk anak yang tidak jelas siapa Bapaknya?."


Arini sakit mendengar ucapan Refa dan membalas pesannya,


"Kenapa mulutmu jahat sekali! apa buktinya atas ucapan yang kamu katakan?! hanya karena tidak ingin membiayai anakku?."


Refa mengabaikan pesan Arini.


Arga dan Refa pun akhirnya sampai kerumah Arini.


Deggg ....


Jantung Arini berhenti berdetak sementara. Melihat Arga yang membawa Refa, sepertinya ucapan Arga serius kali ini.


Arini tidak sanggup menatap Arga dan Refa, ia hanya menunduk melihat ponselnya.


"Assalamualaikum" sapa Arga.


"Wa'alaikumsalam" jawab Arini yang masih terduduk.


Arga masuk dan membuka pintu rumah dengan sendiri, seperti hal itu sudah sering ia lakukan.


Refa memperhatikannya, sebenarnya ada rasa sakit tapi Refa berusaha terlihat tenang.


"Mana ayahmu?" tanya Arga.


Lalu Arini pergi memanggil ayahnya, kemudian ayahnya datang dan ikut duduk bersama kami.


Di ruangan itu kini ada Refa, Arga, Arini dan Ayahnya.


Suasana hening dan tegang, Arini terus berkutat dengan ponselnya, sementara Arga terlihat tegang. Entah kenapa justru Refa yang terlihat tenang.


Kemudian Arga memulai percakapan,


"Yah. Saya datang kesini karena ada sesuatu yang perlu di bicarakan" ucap Arga.


Ayahnya Arini hanya menganggukkan kepala tanpa bicara, lalu Arga melanjutkan ucapannya,


"Saya sudah berterus terang tentang hubungan saya dengan Arini. Namun istri saya meminta saya untuk memberi keputusan ... " ucapan Arga terhenti, karena Arga sedang mencari kata yang tepat.


"Keputusan apa yang akan saya ambil, saya hanya ingin berumah tangga dengan yang di rumah, jadi ... bagaimana pun saya meminta Arini pada Ayah, maka saya juga harus memulangkan Arini kepada Ayah" lanjut Arga.


Ayahnya Arini hanya mengangguk-angguk kepala dan sesekali berdehem .


Tiba-tiba Arini berkata,


"Tunggu! kenapa tadi kamu tidak mau mengakui anak mu? dan kamu, Mbak Refa. Kenapa mengatakan aku berhubungan dengan siapa saja? Memangnya kamu melihat, saya menerima laki-laki lain masuk kerumahku? memangnya kamu melihat saya melayani laki-laki lain! apa buktinya?!"

__ADS_1


Arini menunjuk ke arah wajah Arga, bergantian menatap Refa dengan nada sedikit tinggi.


Lalu Arga menjawab dengan sedikit menggebrak meja,


"Heh, kita kesini bukan untuk mencari masalah!."


"Aku juga hanya bertanya, kenapa kalian menghina saya seperti itu tanpa adanya bukti. sampai-sampai anakpun tidak mau di akui!" Arini juga menjawab dengan cepat.


"Bukan begitu maksudnya ... aku hnya masih bingung, gimana yah?" ucap Arga tersendat dan kebingungan.


"Pake nanya anak siapa, memangnya aku menikah dengan siapa?" ketus Arini menimpali.


Refa hanya menyimak dan memperhatikan interaksi orang-orang di sana, dia melihat cara Arga berbicara pada Arini dan juga Ayahnya.


"Tidak habis pikir, bisa-bisanya Mbak Refa menghina saya!" lanjut Arini.


Karena melihat Refa yang hanya terdiam, dia tidak sabar untuk menyerangnya.


"Dia bicara begitu karena dia merasa tersakiti, wajar saja bagi dia yang merasa di bohongi bicara keman saja" ucap Arga mewakili Refa.


Sebenarnya bukan niat Arga membela Refa, tapi karena yang mengatakan kata-kata itu bukanlah Refa, melainkan Arga dengan meminjam ponsel Refa.


Refa sendiri haya terdiam tanpa mengeluarkan suara atas unek-unek nya.


Dia menunggu waktu yang tepat untuk bicara.


"Ya kenapa kamu tidak berterus terang! aku sudah memberimu jalan untuk mengatakan sebenarnya, tapi kamu terus menutupinya" kata Arini.


Kemudian terdengar suara khas orang tua berkata,


"Ia. Wajar saja istri tua mengatakan kata-kata yang menyakitkan karena ia lebih tersakiti dan merasa di bohongi, pasti ngomong kemana aja."


Refa sedikit terkejut mendengarnya, apakah orang tua itu benar-benar mengerti perasaannya atau hanya sedang berpura-pura?.


"Tapi Yah, aku tidak terima dengan kata-katanya!" jawab Arini membantah Ayahnya .


"Tidak apa-apa, biarkan orang lain mengatakan apapun. Biar Tuhan saja yang menjadi saksinya tentang apa yang kamu perbuat!" ucap Ayah Arini dengan nada tinggi.


Tapi Arini masih tidak puas dan berkata,


"Tidak mau Yah. Mereka sudah menghinaku, jangan mentang-mentang kita orang tidak punya, lalu diperlakukan seenaknya. Di hina sudah, di tipu sudah, tanggung kalau tidak sekalian saya menuntut."


"Anak itu punya rejekinya sendiri, kamu tidak usah khawatir" jawab Ayahnya Arini.


"Tidak bisa tetap saja, anakku juga butuh biaya hidupnya, biaya makan, jajan nya, pakaiannya. Aku mau pasti agar aku tidak perlu mengemis-ngemis lagi meminta padanya" ucap Arini.


 

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰


 


__ADS_2