
"Belum, pria mu berengsek. Dia tidak pernah ada untuk mu untuk apa kamu mempertanyakannya!" jawab Jun ketus.
"Bagaimanapun juga, dia ayah dari Anak ku" bela Arini.
"Cih, apa pantas dia sebut sebagai ayah? aku tidak mengerti, apa yang kamu sukai darinya ?" tanya Jun tidak mengerti perasaan Kakaknya.
"Sudah, sudah ... jangan merusak momen ini dengan membahas masalah itu, lihatlah ... setidaknya anak ini lahir dengan selamat dan sehat, Arini sudah melewati masa kritis, kita harus bersyukur untuk itu!" sela Ibuku.
Dan kami berhenti berdebat tentang Arga, tapi tentu saja aku tidak tinggal diam, aku terus menghubungi Arga karna aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk membuat Refa menyesali ucapannya yang sudah menghina ku.
Dan membalas Arga yang sudah membuatku menjadi seperti ini,
aku tidak akan membiarkan mereka begitu saja.
Meski aku tahu akan ada hukuman bagi setiap dosa yang di perbuat manusia, tetapi aku ingin menghukum mereka dengan tanganku sendiri, meski aku harus menjadi pendosa atas perbuatanku.
Sudah hari ke dua Arga masih belum merespon pesan-pesan ku.
"Kapan kamu akan menemuiku dan melihat anakmu ?" pesan singkat ku kirim pada Arga.
Setelah Arga di pindah tugas kan, ia jarang menghubungi dan menemuiku.
"Apa aku saja yang datang kerumah mu?" pesan Arini mengancam, karena Arga tidak kunjung membalasnya.
"Besok!" akhirnya Arga membalas meski jawaban nya selalu singkat.
"Baik, jangan lupa membawa sesuatu untuk membayar tagihan persalinan, karena aku meminjam uang dari saudaraku " pesanku.
"Ya " balas Arga.
Hari berikutnya Arga menepati janjinya, tidak lupa dia membawakan sejumlah uang untuk mengganti biaya persalinan.
"Apa kamu tidak berniat menggendong anakmu?" tanya Arini pada Arga yang baru datang kerumahnya, namun dia hanya diam.
Ketika orang tua yang lain langsung memeluk anaknya saat melihat mereka lahir ke dunia, namun berbeda dengan Arga .
"Gendong lah dulu Anak mu dan lafadz kan nama alloh ,kumandangkan adzan di telinganya!" perintah Ibu Arini.
Arga menoleh, dia terlihat ragu-ragu seperti enggan melakukannya.
Seharusnya kamu yang pertama kali mengumandangkan adzan pada anakmu, apa sekarang kamu pun bahkan tidak mau memeluknya ?" tanya Ibu Arini seolah tahu kalau Arga merasa enggan, kemudian Arga menghampiri anak itu ,menggendongnya dan mengumandangkan adzan.
Aku merasa bahagia melihat itu, alangkah baiknya jika Arga selalu seperti ini, peduli terhadap aku dan anakku.
"Kamu mau memberi nama untuknya ?" tanya Arini antusias.
"Terserah kamu saja " jawab Arga acuh.
Membuat aku kesal dibuatnya.
"Kamu ini kenapa begitu, dia ini anakmu juga kenapa kamu membedakan nya dengan anak Refa, apa aku juga perlu bertanya pada Refa untuk nama anak mu ini ?" lagi-lagi Arini selalu menggunakan Refa untuk mengancam Arga.
Aku semakin emosi dan tidak bisa mengendalikannya,
__ADS_1
Arga hanya menatap ku dengan tatapan yang tajam .
"Harusnya aku yang marah sama kamu! saat aku melahirkan dimana kamu? jangankan siaga peduli pun tidak! suami macam apa kamu?!" bentak Arini marah.
"Aku sudah bilang, kalau aku sedang di luar kota dan sekarang aku sudah disini, juga membawakan sejumlah uang untuk membayar hutang persalinan ,menggendong dan melafazkan adzan pun sudah kulakukan ,apa ini masih belum cukup?" ketus Arga.
"Apa? segitu apa menurutmu cukup? cukup adil kah dengan apa yang di dapat Refa ?" tanya Arini mencibir.
"Adil bukan berarti harus sama, aku rasa sudah mendiskusikannya denganmu dulu!" ucap Arga ketus dan menatapku dengan tajam.
"Tapi baiklah, aku akan memberinya nama setelah aku kembali, karena sekarang aku belum punya nama untuknya, nanti aku akan mengirimkan nya lewat pesan padamu" lanjut Arga acuh.
Lalu Arga berlalu dari rumahku, tidak sampai satu atau dua jam dia tinggal di rumah Arini.
******
*sudut pandang Arga*
Setelah kelahiran anak arini.
Arga dihantui perasaan tidak tenang.
"Aku harus bagaimana, harus kemana dan kepada siapa aku bercerita?."
Tanpa sadar air mata ku menetes, aku menyesal atas apa yang terjadi.
Saat melihat Gara setibanya di rumah, hati ku berdenyut seolah di cubit.
Aku menghampiri Gara yang sedang bermain mainan.
"Sayang,. Ayah pulang !" seru Arga.
"Ayaaaaah" teriak Gara yang menghambur ke pelukan ku.
Kami berpelukan dan pelukan itu terasa hangat, juga terasa menyakitkan bagiku.
"Ayah tenapa ?" tanya Gara
"Maafkan Ayah .... " lirihku tanpa melepaskan pelukan.
"Tenapa Ayah minta maaf tama gala ?" tanya Gara heran.
Aku melepaskan pelukan kami lalu menetralkan emosi dalam hati, berusaha untuk baik baik saja.
"Karena Ayah ... Belum bisa jadi Ayah yang baik buat kamu boy."
Di akhir kalimat, ku kepalkan tangan untuk meninju Gara dengan perlahan.
" Hahahaha ."
Dia tertawa lalu memukul ku balik, tapi pukulan nya berbeda denganku.
Gara memukul ku dengan kekuatan penuh, meski masih bocah tapi cukup untuk membuatku meringis.
__ADS_1
"Itu hutuman mu dan tamu halus beltuag untut yang telbait buat atu ... Ahahahah."
Kami bercanda dan tertawa bersama, tanpa sadar ada sosok yang memperhatikan kami dengan tatapan sendu.
Hari berlalu.
Kehancuran pertamaku dalam karir sudah dimulai. Tiba-tiba di perusahan yang ku tempati ada pemecatan masal, untuk karyawan yang belum di angkat menjadi karyawan tetap.
Tetapi tidak dengan ku, aku masih di pertahankan namun pekerjaan ku di persulit, seolah mereka ingin aku yang mengundurkan diri.
"Arga! gimana sih kerjaan kamu! gak ada yang beres satu pun!" ujar Pak Winata kecewa.
"Maafkan saya, Pak. Saya akan perbaiki semuanya" jawabku.
Lalu aku ambil berkas-berkas di mejanya.
Setelah hampir selesai di revisi, aku menerima kabar kalau cara pembukuan ada perubahan.
"Ga ... katanya ada perubahan dalam pengisian pembukuan ,sudah tahu belum ?" ujar Andreas.
"... "
Aku bergeming dan menatap andreas dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa lo ... ngeliatin gue kaya gitu ?!" tanya Andreas.
"Lo denger dari siapa dan kapan ?" tanya Arga tidak percaya.
"Dari wakil dirut ,barusan" jelas Andreas.
"Ckk, gue di kerjain."
Aku mengutuk pak winata dalam hati, yang sengaja mempersulit aku.
"Yang sabar, Bro. Namanya juga kerjaan , gak ada yang mudah " ujar Andreas yang mendengar gerutuku dan aku hanya mengabaikan nya.
Begitulah cara mereka membuat aku tidak nyaman dengan pekerjaan ku.
Setiap hari selalu ada saja pekerjaan yang jadi masalah, membuat aku semakin tidak betah dengan situasi macam ini.
"Baiklah ... kalian berhasil mengusirku secara tidak langsung, aku mengalah " batinku.
Kemudian aku menemui Dirut Bapak Winata ke ruangannya.
Tok tok tok.
"Permisi, Pak. Saya ingin berbicara dengan Bapak."
Karena kantor kami terbuat dari kaca di setiap ruangan, jadi Pak Winata melihat kalau saya yang mengetuk pintunya.
terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
Â
__ADS_1