
Pagi hari tiba, mentari menyinari rumah Arga penuh dengan kehangatan.
Seolah badai telah berlalu dalam hidup Arga dan Refa, kini mentari menyambut mereka.
Arga dengan kelegaannya karena terbebas dari belenggu, yang terus menyakiti istrinya.
Begitu juga Refa, ia merasa semua kekosongan dan pertanyaannya terjawab kan.
"Kamu mau makan apa, Mas?" tanya Refa yang hendak menyediakan makanan ke piring Arga.
"Apa saja, hari ini aku ingin makan banyak."
Senyum Arga mengembang sempurna di wajahnya.
Refa menatap Arga yang berbeda, ada rasa hangat di hatinya, ia merasa bahagia melihat suaminya telah kembali. Dan mereka pun saling bertatapan,
"Ekhmm ... di cini macih ada atu!" ketus Gara yang cemberut merasa di kacangin.
Refa mengalihkan pandangannya pada Gara dan berkata,
"Ow. Maafkan Ibu, sayang. Ibu pikir kamu masih di kamar."
"Tck, mengganggu saja" Arga melirik anaknya dengan tatapan yang menakutkan.
"Tamu yang mengangu! biacanya uga tamu tidat itut calapan belcama tami. Tenapa hali ini itut, menyebaltan" ucap Gara tidak terima tatapan Ayahnya.
Kemudian, ia melanjutkan ucapan nya dengan memutar bola mata dan posisi tangan bersedekap.
"Entah mimpi apa cemalam, campai halus calapan belcamamu."
"Hey! Siapa waktu itu yang mengatakan ia merasa bahagia bisa makan malam dengan Ayah?" Arga mengatakannya dengan meniru gaya Gara.
Gara yang melihatnya malah tertawa geli,
"Hahaha, Ayah lucu. Tenapa jelet cetali ahahahah."
Refa pun ikut tertawa. Arga cemberut melihatnya dan menggerutu, "Diam, kau!"
"Sudah. Cepat makan, Mas. Kamu harus segera ke kantor nanti kesiangan loh,"
__ADS_1
Arga pun berlalu menuju ke tempat kerja nya.
Dia datang dengan raut wajah yang sumringah, membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaan itu. Hingga seseorang bertanya,
"Wow. Kali ini apa lagi nih berita baik nya? rasanya hari ini wajah mu lebih bahagia dari sebelumnya,"
"Tck. Kepo aja sih lo! Dari pada ngurusin gue, kerjain tuh tugas yang menumpuk," balas Arga.
Lalu Arga mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang ternyata ada di sebelahnya sedari tadi.
Ia terkejut saat pandangan nya bertemu pandang dengan Mila, Ia tersenyum canggung sambil menganggukkan kepalanya, tanda ia menyapa yang kemudian kakinya melangkah menuju ruangan nya sendiri.
Mila juga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Arga yang lucu menurutnya.
****
Pagi hari dirumah Arini.
"Kamu kenapa? Jangan nangis terus donk, sayang. Mamah harus gimana?"
Arini yang sedang berusaha menenangkan anaknya, karena dari bangun tidur Putra menangis tidak berhenti.
Arini panik, bingung harus bagaimana.
"Tolong sampaikan pada Arga, anaknya ingin bertemu. Mengingat kamu sama sebagai seorang Ibu, harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, dengan sedikit itikad baik," akhirnya Arini mengirimkan pesan pada Jun.
"Kirimkan lagi pesan ku pada Refa. Kamu punya nomornya, kan? WhatsApp ku di blokir oleh sepasang manusia tidak berguna itu, jadi tolong bantu aku, demi keponakan mu yang terus menerus menangis" sambungnya.
Tanpa perlu bertanya kembali, Jun mengikuti perintah kakaknya itu, meneruskan pesan Arini kepada Refa.
Dan tidak lama kemudian Refa pun membalas,
"Tolong sampaikan juga sama kakak kamu! kenapa saya harus memberikan itikad baik untuk orang macam dia? yang bahkan dulu dia lebih kejam dari pada saya. Menerima dan mengambil sebagian hati suami dan ayah dari anakku! maaf, saya tidak sebaik yang kamu bayangkan."
"Bahkan, Arini pun mengatakan, bahwa anak itu anak adiknya yang di tinggal mati ayahnya! apa yang dia dan anaknya rasakan sekarang, tidak sebanding dengan perbuatan Arini terhadap aku dan anakku!" sambung Refa.
Sementara Jun terpaku karena tidak bisa membalas pesan dari Refa, karena nomornya telah d blokir.
"Sial, baru saja kemarin Arga memblokir kontak ku, sekarang istrinya ikut-ikutan" gerutu Jun yang kesal.
__ADS_1
Lalu ia melapor pada Arini, perihal balasan dan nomor nya yang di blokir.
Jun meneruskan pesan dari Refa pada Arini.
Saat Arini membaca pesan yang di teruskan Jun padanya. Ia berdecak,
"tck. Kaya anak kecil mainan nya, blokir ntar di buka, blokir lagi."
"Kita lihat saja nanti, sampai kapan kamu bertahan memblokir kontak ku, Arga?" cerocos Arini setelah terjeda beberapa menit.
"Saat kamu sadar, barang paling berharga milikmu masih berada di tanganku. Apa yang akan kamu lakukan?" lanjutnya sambil menyunggingkan senyum licik dan alis terangkat sebelah.
"Ma! Ma! Ayaaah ... Ayah Ma!."
Arini lupa dengan anaknya, ia terlalu berfokus mengurusi masalah Arga. Putra yang menangis tersedu ta dihiraukan, hingga akhirnya Putra berteriak karena melihat Mama nya yang mengabaikan dirinya.
"Ia sebentar, sayang. Mama lagi usahain menghubungi Ayah kamu, sabar ya" jawab Arini yang terkejut dengan teriakan Putra.
Kemudian ia mengirimkan pesan pada Jun,
"Biarkan saja. Aku mau tau, sampai kapan dia bertahan memblokir kontak ku? Karena aku memiliki sesuatu yang tidak mungkin ia tinggalkan di tanganku."
"Apa itu?" tanya Jun penasaran. "Bisa tidak, kalau ngomong itu jangan setengah-setengah. Langsung aja ke intinya" ketus Jun dalam pesan nya karena Arini tidak kembali membalas pesan Jun.
"Cih. Dia ini, kerjaan nya minta tolong, uda di tolongin jangan kan mengucapkan terimakasih" gerutu Jun dalam hatinya.
"Sekarang malah membuat aku penasaran, kurang aseum!" emosi Jun mulai meluap, tapi ia tak pernah benar-benar marah pada kakaknya.
***
"Tadinya aku masih mau memaafkan dia, kalau saja dia manusia yang masih punya hati nurani, atau setidak nya punya rasa malu. Jangan kan merasa bersalah, malu pun tidak punya" cecar Refa saat membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal.
"Kata maaf yang pernah terucap dari mulutnya dulu, itu palsu. Jangan salah kan aku yang tidak berperasaan, kamu yang tidak tahu di untung! sudah aku beri kesempatan untuk mengakhiri dan menjauh, malah beraninya melangkah lebih jauh. Bahkan sudah jadi seperti ini" lanjut Refa yang kemudian mengirimkan lagi pesan pada nomor yang tidak di kenal itu.
Kemudian tanpa ragu ia langsung memblokir kontak Jun, karena ia tau akan ada kelanjutan percakapan di antara mereka, jika tidak cepat-cepat di blokir.
"Dan aku pernah memperingatkan, jangan sampai kesalahan mu di tanggung oleh anakmu! Sekarang sudah begini masih belum sadar juga, entah manusia macam apa dia itu!" gerutu Refa yang masih belum puas dengan memaki Arini, meski hanya di belakang.
"Tamu tenapa, Bu. Ngomel-ngomel cendili? Apa belantem tama ayah ladi ya?" tanya Gara yang sedari tadi melihat Refa bergumam sambil berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
"Hey, sejak kapan kamu di sana?" tanya Refa yang terkejut karena tidak menyadari kehadiran Gara, "Maaf, Ibu tidak melihat mu, sudah berapa lama kamu melihat Ibu, hm?" tanya nya lagi.
Terimakasih sudah membaca karyaku🥰