
"Tolong biarkan aku sendiri dulu, Bu" ucap Arini sopan.
"Kamu pikirkan ucapan Ibu ya, Nak." Kemudian Ibu Arini pergi meninggalkan Arini .
Kini pikiran Arini menerawang ke masa lalu, dimana ia sangat mengidamkan Arga. Tanpa berpikir resiko yang ia terima akan separah ini.
"Kenapa kamu jadi begini, Mas? padahal dulu kamu gak kaya gini, kamu benar-benar berubah, Mas"
Bahkan Arga pun mempertanyakan siapa ayah dari Putra Pramudya anakku.
Arga yang ku kenal penyayang dan bertanggungjawab pada keluarganya.
Kupikir dia akan memperlakukan aku dan anakku sama seperti perlakuannya pada keluarganya .
Tidak ku sangka akan seperti ini, aku murka ,benar-benar murka !.
"Apa memangnya kelebihan Refa? dimana kekuranganku? sehingga tidak bisa sebanding dengannya,"
"Bahkan aku lah yang menjadi matahari di hidup Arga, ketika dia dalam keadaan kacau dan terjatuh, tapi balasan apa yang aku dapat?"
Meski pikiran Arini tidak mau menerima kesalahan yang dia lakukan.
Tapi tetap saja, dia juga hanya manusia biasa yang punya hati meski hanya setitik.
Sedikit penyesalan perlahan diakuinya dan dia mulai mengingat setiap percakapannya dengan Refa.
"Percaya atau tidak ... Arga tidak akan pernah menikahi kamu! maka sebelum terlambat, pergilah dari kehidupan kami !"
"Jangan sampai dosa atas perbuatanmu di tanggung oleh anakmu!" ucapan Refa dalam ingatan Arini.
Kemudian Arini berkata,
"Benar ... kalau dulu aku mengabaikan Arga dan mengubur dalam-dalam perasaanku untuk Arga, mungkin semua tidak akan seperti ini."
"Hah, jadi aku yang salah?"
Lalu muncul bayangan putih di atas kepalanya dan berkata,
"Tentu, semua terjadi karena kamu yang menerima Arga. Kalau saja dari awal kamu tidak menerimanya masuk ke dalam hatimu, dia tidak akan bisa membuat hidup mu hancur seperti sekarang."
Lalu muncul lagi bayangan hitam di kepala sebelah kirinya dan berkata,
__ADS_1
"Untuk apa kamu menyalahkan dirimu sendiri! jelas-jelas Arga yang masuk duluan tanpa izin ke dalam hatimu."
"Tidak. Dia masuk karena Arini yang menerimanya, bukankah dari awal kamu tau kalau Arga sudah berkeluarga?" ujar bayangan putih.
"Hey, jelas si Arga nya yang brengsek, uda punya anak istri masi aja merayu Arini, kenapa jadi Arini yang salah? Kalau saja si Arga bisa menjaga iman nya, tidak akan ada perselingkuhan, bukan." jawab bayangan hitam.
"Ingat, Arini. Hidup mu kini adalah pilihan yang dipilih dirimu sendiri, bukan perbuatan orang lain. Kala itu, kamu sendiri yang ingin menjadi simpanan Arga, demi membalas rasa sakit mu pada mereka. Kalau saja waktu itu, kamu memilih untuk menelan rasa sakit mu, mungkin sekarang tidak akan ada kehinaan seperti sekarang" ucapan dari bayangan putih kini lebih terngiang di telinga Arini.
Kemudian bayangan mereka berdua pun hilang seperti tertiup angin.
Arini lelah dengan status janda yang melekat pada dirinya selama empat tahun ini, setiap laki-laki yang datang hanya singgah di hidup Arini untuk sementara.
Mereka akan pergi meninggalkan Arini tanpa jejak.
Menghilang seperti debu yang ditiup angin setelah mendapatkan sesuatu dari diri Arini.
Arini yang pandai merawat diri dan penampilan, pandai dalam melihat situasi lawan jenisnya, juga pandai mengambil hati membuat siapa saja terpesona oleh kharisma nya.
Tapi entah mengapa, walau Arini menang dalam segala aspek dari Refa. Kenyatannya ,Arini tidak bisa menyaingi Refa dalam hati Arga, Refa selalu terukir paling atas di hati Arga.
Tidak bisa di pungkiri bahwa kebenaran memang ada. Arga hadir dalam hidup Arini hanya sebagai ujian untuk dirinya.
Sementara Arini, adalah Godaan bagi Arga dan alat penguji untuk kesabaran dan menaikan derajat Refa.
Masih bersabar terhadap Arga yang jelas sudah mengkhianatinya. Masih bisa menjadi pribadi yang baik, meski telah disakiti.
Lalu kenapa dengan dirinya ? dimana saat Arini di sakiti mantan suami dan sahabatnya. Arini kehilangan jati dirinya setelah penghianatan yang dia terima.
Dan sekarang ,dia malah menjadi pendosa sebagaimana yang dilakukan sahabatnya dulu, sungguh ironis hidup Arini .
Arga pun dengan lugas mengatakan bahwa,
"Saat ini. Meski aku sedang bersama dengan dirimu, bukan berarti aku tidak ingat dengan istriku."
Arga mendekati Arini bukannya lupa dengan Refa, Arini bingung dan sedikit kecewa lalu bertanya ,
"Lalu kenapa kamu masih mendekatiku ku? bahkan istrimu lebih dari kata sempurna, aku bukan sedang mencari kekasih kamu tahu jelas status ku."
"Kalau kamu mau aku menikahi kamu, maka kamu harus mau jadi yang ke dua. Karena aku tidak akan meninggalkan anak dan istriku!"
jawaban Arga menambah kekecewaan pada Arini.
__ADS_1
Tapi entah mengapa justru Arini semakin ingin mendapatkan Arga.
Selain kejujuran, kasih sayang dan tanggungjawabnya Arga terhadap keluarga. Dia pun memiliki titel ,bisa dibilang kalau Arga adalah pria yang sudah jadi atau terbentuk .
Belum lagi Arga pria yang ulet ,pekerja keras ,dan penghasil uang yang luar biasa dimata Arini.
Arini tertawa miris setelah mengingat apa yang telah terjadi saat pertemuannya dengan Arga.
"Hahaha ... memang aku yang terpesona pada pandangan pertama pada Arga, aku lelah dengan status janda dan muak dengan pria yang mendekatiku lalu pergi."
Arini mulai menginginkan memiliki Arga untuk keuntungan dirinya dan demi membalas rasa sakit,malu dan marah karna tidak terima atas perkataan Refa terhadapnya.
Lalu Arini pun teringat pada ucapan sahabatnya dulu Mila.
"Salahkah aku, jika mencintai suami orang?." ucapan Mila dalam ingatan Arini.
"Haha, kini aku merasakan apa yang kamu alami, Mila" ucap Arini sambil tertawa, wajahnya jelek sekali.
Tiba-tiba Arini berubah kembali menjadi murka dalam sekejap.
"Tidak! aku tidak akan tinggal diam. Karena sekarang aku sudah terjerembab di jurang kehinaan. Aku juga tidak akan tinggal di kubangan penyesalan" ucap Arini dengan sorot mata yang penuh kebencian.
Arini melirik Putra yang sudah tertidur nyenyak, suara sesegukan nya juga sudah reda. Ia keluar meninggalkan Putra dan masuk ke kamarnya.
Di ruangan lain Ibu Arini merasa gelisah, takut kalau anaknya bertindak salah lagi.
"Semoga saja kali ini dia mau mendengarkan ku" ucap Ibu Arini yang mondar mandir karena gelisah.
"Sudahlah Bu. Tenang saja, Arini pasti bisa melewatinya. Kita berdoa saja dan pasrahkan semuanya pada Tuhan" ucap Ayah Arini menenangkan istrinya.
Ketika melihat Arini keluar dari kamar Putri dan menuju masuk ke kamarnya, tanpa mengucapkan apa-apa.
Itu membuat Ayah dan Ibu Arini menatap anaknya dengan sedih.
"Kenapa nasib mu begini, Nak? ..." lirih Ibu Arini.
Ayah Arini menepuk pundak istrinya dan berkata,
"Sudahlah Bu. Ayo kita juga harus istirahat, serahkan semuanya sama Tuhan. Yakin kalau Tuhan punya rencana yang terbaik."
*bersambung.......
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca karya ku 🥰